Sunday , February 18 2018
Breaking News
Home / Kalimantan Timur / Balikpapan / Janji Para Kandidat Capres Demokrat Untuk Kaltim

Janji Para Kandidat Capres Demokrat Untuk Kaltim

 

Para kandidat Capres Konvensi Partai Demokrat

Sebanyak 11 kandidat calon presiden (capres) yang bertarung di Konvensi Partai Demokrat punya janji besar untuk Kalimantan Timur (Kaltim). Selain terfokus pada persoalan pembangunan perbatasan, para kandidat ini juga mendukung upaya pemerintah daerah memperoleh andil dalam pengelolaan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) di Blok Mahakam pada 2017 mendatang.

Komitmen mereka itu tergambar dalam Debat Bernegara Konvensi Partai Demokrat yang digelar di Ballroom Hotel Novotel, Balikpapan, mulai pukul 08.30 Wita Sabtu (22/2/2014). Sebelum acara dimulai, salah satu peserta konvensi paling diminati, yakni Dahlan Iskan, mendapat dukungan mayoritas. Teriakan yel-yel ribuan orang yang melakukan long march, terdengar kencang mulai Swiss-Belhotel tempat Dahlan menginap bersama istri Nafsiah Sabri, hingga ke lokasi acara.

Suara riuh dari pendukung Dahlan tak terbendung kala Debat Bernegara hendak dimulai. Meski jumlah relawan yang boleh masuk telah dibatasi oleh pihak panitia, pendukung mantan CEO Jawa Pos itu betul-betul menguasai gedung. “Pokoke Dahlan, pokoke Dahlan,” teriak salah seorang mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda yang datang khusus mendukung Dahlan.

Konvensi dihadiri sejumlah kepala daerah, seperti Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Bupati Bulungan Budiman Arifin, Bupati Malinau Yansen TP, Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar, dan Wakil Wali Kota Balikpapan Heru Bambang. Dalam debat ini, ada 11 kandidat capres yang mengeluarkan visi dan misinya.

Pada sesi pertama, ada 4 yang berdebat, yakni Rektor Universitas Paramadina Anies Rasyid Baswedan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Ketua DPD RI Irman Gusman, dan Mantan KSAD Jenderal (Purn) TNI Pramono Edhie Wibowo. Sedangkan pada sesi kedua, terdapat 7 kandidat.

Yakni anggota BPK Ali Masykur Musa, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, mantan Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem Jenderal (Purn) TNI Endriartono Sutarto, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman, Ketua DPR RI Marzuki Alie, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang.

Debat kali ini dipandu 2 moderator, yakni pakar ekonomi dari Unmul Samarinda Aji Sofyan Effendi dan Sekretaris Kabupaten Malinau Prof Adri Patton, mantan dosen Unmul yang begitu paham masalah perbatasan Kaltim-Malaysia. Tema yang dibahas soal perbatasan, sumber daya alam dan energi.

Patton membuka debat dengan melemparkan pertanyaan bagaimana kandidat capres melakukan langkah-langkah peningkatan daerah perbatasan Kaltim dengan pendekatan security (keamanan) dan prosperity (kesejahteraan). Anies Baswedan diberi kesempatan perdana menjawab. Transportasi, pendidikan, dan kesehatan jadi programnya bila dia menjadi presiden. Selanjutnya Irman Gusman.

Ia menyebut, perbatasan adalah beranda depan, maka harus lebih baik dari pusat. “Saya dari DPD, salah satu yang mempelopori pemekaran Kaltara. Keberadaan provinsi baru diharapkan pengawasan perbatasan kian ketat,” ujarnya. Sedangkan Pramono Edhie bicara soal ketahanan dan keamanan di perbatasan. Menurutnya, untuk menjaga NKRI tak bisa dengan membangun tembok di batas negara.

Melainkan, membangun jiwa nasionalisme mereka yang tinggal di perbatasan. Tiba giliran Dahlan Iskan, dia berbicara sangat realistis. Ia menyebut, pemerintah tak perlu lagi selalu repot patok negara bergeser di perbatasan Kaltim-Malaysia. Karena saat ini teknologi sudah canggih, bisa ditandai titik koordinat yang terintegrasi dengan satelit. “Selama ini selalu repot soal itu.

Saya tak mau lagi, harus pakai koordinat. Sehingga bisa fokus membangun,” katanya. Masalah perbatasan, sebut Dahlan, bukan pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan. Asal pemerintah bisa komitmen. Karena persoalan perbatasan sangat emosional. Banyak kekayaan dari negara ini yang mengalir ke negeri seberang. “Tawau (Malaysia) dan Sebatik (Kaltara) itu dekat.

Tapi perbedaan dua daerah ini cukup terlihat dari segi infrastruktur,” ungkapnya. “Tak ada jalan lain, peningkatan ekonomi di daerah perbatasan itu harus!” lanjutnya. Usai bicara perbatasan, gantian Aji Sofyan Effendi yang jadi moderator, lantas membawa para kandidat bicara energi. Yakni tentang kontrak Blok Mahakam yang habis pada 2017. Saat ini, blok kaya migas itu dikelola Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.

Sofyan mempertanyakan apa yang mereka lakukan saat kontrak itu habis? Setujukah Blok Mahakam dikelola negara? Menjawab ini, Anies dipilih sebagai yang pertama. Dia mengaku, jika jadi presiden, akan memanggil para menteri dan meminta Blok Mahakam dikelola negara. Begitu juga dengan Irman Gusman. “Sudah cukup selama ini kekayaan alam kita dibawa ke luar negeri, dan mereka yang menikmati hasilnya,” sebut Irman.

Sedangkan Pramono Edhie menyebut, perlu ada kearifan pemimpin di negeri ini untuk membahas Blok Mahakam. Kini, kata dia, Total atau perusahaan asing yang bergerak di bidang migas sebagian besar tenaga kerjanya berasal dari anak negeri. Artinya sumber daya manusia (SDM) di negeri ini sudah mampu. Dia sepakat dikelola Pertamina. “Libatkan perguruan tinggi dan putra daerah terbaik di Kaltim.

Begitu juga dengan anak bangsa yang kerja di luar negeri, bawa pulang mereka. Bekerja dan berkorban demi membangun Indonesia,” pintanya dengan intonasi meninggi. Giliran Dahlan, seperti biasa ia tak muluk-muluk menjawab, lantaran sudah kerap kali menegaskan Pertamina mampu mengelola. Hanya, ia menyebut mengambil alih Blok Mahakam dari perusahaan asal Prancis itu bukan berarti negeri ini anti-asing.

Bila negara ini anti-asing, masalahnya bisa meluas. “Tahun 2017 kontrak Total mengelola Blok Mahakam habis, maka selanjutnya tergantung tuan rumah. Diperpanjang atau distop,” ujarnya. Dahlan lantas memuji Presiden SBY yang tidak memutuskan operator blok itu di akhir masa jabatannya. “Sehingga ini tak membebani presiden terpilih nantinya. Ini adalah langkah baik dari Presiden SBY yang harus diapresiasi,” katanya.

Menurutnya, selama ini ada sejumlah pihak yang mendengungkan isu bawah BUMN tak mampu mengelola. Selain itu, keuangan Pertamina bisa hancur bila nekat mengelola blok itu. Seolah-olah Indonesia tak bisa apa-apa. “Saya sudah konsultasi dengan berbagai pihak, isu Pertamina tak mampu itu terbantahkan,” tegasnya.

Ini memang benar, sebagai ambaran, BUMN tersebut telah mengambil alih Blok Siak dari PT Chevron Pacific Indonesia, akuisisi ConocoPhilips Algeria Ltd, anak perusahaan ConocoPhilips (NYSE:COP) yang menguasai Blok 405a di Aljazair, pembelian 10 persen hak partisipasi Blok West Qurna I di Irak, hingga akuisisi anak usaha Hess di Indonesia yang menguasai Blok Pangkah dan blok-blok Natuna Sea A.

Terakhir, Pertamina telah mengambil alih Blok West Madura Offshore dan Offshore North West Java (ONWJ). Menurut Dahlan Iskan, pada awal eksploitasi, produksi dua blok ini memang belum membanggakan. Tapi belakangan produksinya terus menanjak. “Itu menurun karena memang persiapan belum matang. Nah saat ini, sudah meningkat. Dari segi keuangan dan SDM sudah mampu,” jamin Dahlan.

Dahlan hanya khawatir, optimisme BUMN dalam mengelola Blok Mahakam ini bisa runtuh ketika ada direksi yang mengatakan tak siap. Karena itu, dia tak segan mengganti atau bahkan merombak susunan manajemen yang dinilai lembek. Dalam sesi ini, antara Dahlan dengan Anies sempat saling memuji. Keduanya pun bersalaman dan berpelukan setelah menyelesaikan Debat Bernegara sesi pertama yang dimulai pagi hingga siang.

Jeda dua jam, Debat Bernegara masuk sesi kedua. Diikuti 7 kandidat. Sama seperti sesi pertama, mereka sepakat pengelolaan Blok Mahakam diambil alih oleh negara. Ali Masykur Musa mengaku sudah meminta pemerintah, jangan memperpanjang pengelolaan sumur migas itu ke asing. Menurutnya, Pertamina memiliki kemampuan dan pengalaman mengelola. Kebijakan ini diambil untuk kedaulatan energi dan penyelamatan aset bangsa.

Senada disampaikan Marzuki Alie. “Saya bukan anti-asing, karena negara ini mampu, maka Blok Mahakam sebaiknya dikelola oleh BUMN,” ucap Marzuki yang juga wakil ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini. “Siapa pun presiden terpilih, blok tersebut harus dikelola oleh operator nasional,” tambah Gita Wirjawan.

Sama halnya dengan Hayono Isman, namun dia mengingatkan Pertamina harus menjamin bahwa mereka sanggup dan jujur mengelola Blok Mahakam. Senada, Dino Patti Djalal menyebut tak ada keraguan bagi negara ini untuk mengelola blok sendiri. Manajemen Pertamina dianggap sudah sangat mampu. Endriartono Sutarto dan Sinyo Harry Sarundajang juga satu suara.

PANGGUNG DAHLAN

Debat Bernegara ini ditanggapi sejumlah kepala daerah. Salah satunya Bupati Malinau Yansen TP. Ia menilai hanya sebagian dari sebelas peserta memahami persoalan Kaltim. Yansen yang juga sebagai ketua DPC Demokrat Malinau ini menganggap Dahlan Iskan adalah peserta yang paling paham tentang Kaltim. Ia berharap, menteri BUMN dapat menjadi capres yang diusung Demokrat pada pilpres mendatang.

“Kalau beliau jadi presiden, saya akan bahagia terutama warga Kaltim. Apalagi Pak Dahlan Iskan paham tentang daerah ini,” jelas mantan Sekretaris Kabupaten Malinau ini.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi juga sependapat. Sang menteri BUMN dinilai paham benar daerah ini, lantaran pernah tinggal lama dan kuliah di Samarinda. Apalagi dia mendapatkan istri dari Loa Kulu, Kukar. “Ya, wajar beliau (Dahlan) paham benar soal Kaltim,” tegasnya.

Ia menyebut, debat berlangsung menarik karena fokus membedah persoalan di Kaltim. Apalagi para peserta konvensi komit membangun Benua Etam, ketika terpilih menjadi presiden. Rizal menyadari, Kaltim tak konsisten mengembangkan SDM. Belakangan daerah ini lebih terfokus mengelola SDA. “Kita harus memerhatikan pembangunan SDM yang intensif. Ketika SDA benar habis-habis, Kaltim memiliki SDM yang berkualitas,” terang dia.

Sementara Ketua DPC Demokrat Samarinda Syaharie Jaang mengaku semua peserta konvensi punya kualitas tersendiri. “Indonesia mau dibawa ke mana. Terutama untuk Kaltim,” ujarnya setelah debat sesi pertama. Hanya, Wali Kota Samarinda ini enggan memberi penilaian secara personal. “Siapapun yang memenangkan konvensi nanti, saya akan turun langsung memenangkan dia sebagai presiden,” tegas Jaang.

Begitu juga dengan Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Yusran Aspar yang memilih tak mengomentari secara individu peserta konvensi. Namun dia memberikan apresiasi saat mereka beradu visi. “Semua hebat. Mereka punya kapasitas,” terang dia.

Kedua moderator, yakni Adri Patton juga Aji Sofyan Effendi, juga terlihat puas dengan jawaban para kandidat. “Sengaja kita mengulas Blok Mahakam, karena kita ingin lihat sejauh mana komitmen mereka. Ini penting, dan itu bisa ditagih oleh warga Kaltim,” tutup Sofyan Effendi, yang juga dosen pascasarjana MM Unmul ini. [] BP

1,302 total views, 0 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Social Media Auto Publish Powered By : PT Media Maju Bersama Bangsa