Gedung RS Untan Pontianak Miring, Begini Kata Thamrin Usman

MIRING : Mantan Rektor Untan Pontianak Prof Dr. H. Thamrin Usman DEA menepis anggapan RS Untan terjadi kemiringan akibat kebakaran belum lama ini. (Foto : rac)

 

PONTIANAK (Beritaborneo.com)-Mantan Rektor Untan Prof Dr Thamrin Usman DEA angkat bicara terkait kebakaran di lahan belakang RS Untan. Bangunan yang menjulang tinggi tersebut memang dibangun pada masa kepemimpinannya. Dia menyebut kebakaran yang terjadi tidak akan berpengaruh terhadap kekuatan, bentuk, dan kemiringan bangunan.

“Bangunan tersebut beton dan besi semua. Belum ada barang apa-apa di bangunan kosong tersebut. Yang terbakar adalah lahan gambutnya, yang dipicu oleh pembakaran sampah-sampah yang mudah terbakar,” kata dia.

Guru besar kimia ini menjelaskan, panas kebakaran yang terjadi tidak akan berimbas terhadap kekuatan tulang besi dan beton.

“Titik leleh besi itu di atas 1000 derajat celcius. Sedangkan kebakaran seperti itu suhunya seratusan derajat saja,”jelas dia.

Pondasi bangunan pun kata dia sangat aman. Pasalnya tanah gambut di lahan tersebut maksimal hanya setebal 2 meter saja. Sedangkan tiang pancang menancap ke dalam tanah jauh lebih dalam daripada itu, sehingga mustahil bila ada yang menyebut gedung itu miring.

“Saya tidak khawatir dengan kekuatan dan kepresisian bangunan. Jadi kalau ada yang bilang bangunan miring, itu bagaimana cara melihat atau menghitungnya,” sebutnya.

Soal asap hasil kebakaran yang mengebul, Thamrin mengatakan asap tebal dan pekat adalah hasil dari pembakaran yang tidak sempurna. Lantaran beberapa hari ini Pontianak diguyur hujan, sehingga tanah menjadi basah dan lembab, karena masih terkandung air.

“Pembakaran yang sempurna akan menyebabkan nyala api yang kuat. Sedangkan pembakaran tak sempurna asapnya tebal dan gelap. Makanya banyak yang sesak napas,” jelas dia.

Soal mangkraknya pembangunan gedung tersebut, Thamrin menyebut berdasarkan mendapat informasi yang didapatkannya, akan dilanjutkan. Namun tidak lagi di bawah Kemendikbud, melainkan diambil alih oleh Kementerian PUPR. Rektor Prof Dr Garuda Wiko sudah berkonsultasi dengannya terkait kelanjutan pembangunan ini.

Informasi yang dia dapatkan, bahwa tim monitoring kementerian akan datang untuk melihat gedung tersebut. Kemudian dilakukanlah pembersihan sampah-sampah di sekitar bangunan tersebut. Namun celakanya, sampah tersebut dibakar di sekitar bangunan, yang mana merupakan tanah gambut.

“Lahan itu gambut perawan. Sebelumnya tidak pernah ada bangunan apa-apa. Jadi mudah api dari permukaan merembet ke bawah. Jadilah kebakaran lahan gambut. Menurut saya ini human error saja,” sebutnya.(pp/rac)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.