Hutan Laut Seluas Amazon Ditemukan di Berbagai Belahan Dunia

Ocean klep forest atau hutan laut yang ditemukan di laut perairan dunia diyakini mampu mereduksi pemanasan global.

 

HUTAN-hutan laut yang luasnya melebihi luas hutan Amazon yang luasnya mencapai 6,7 kilometer persegi, ditemukan di laut luas. Seperti disiarkan The Conversation, hutan-hutan laut itu membentang dari Rusia hingga Kanada. Hutan tersebut dibentuk oleh rerimbunan rumput laut dan kelp atau alga yang berukuran besar dan tumbuh di dasar laut atau di dalam air.

Hutan-hutan bawah laut itu antara lain berada di garis pantai Afrika sebelah selatan yang disebut Great African Seaforest. Selain itu, ada pula hutan laut di Australia di area Great Southern Reef yang berada di sebelah selatan.

Namun kebanyakan hutan laut masih belum memiliki nama. Akan tetapi, menurut jurnal yang berjudul Global Estimates of the Extent and Production of Macroalgal Forests, hutan-hutan laut itu sangat luas dan produktif.

Tak hanya itu, para ahli yang terlibat dalam jurnal tersebut menemukan bahwa hutan-hutan laut mampu menutupi area dengan dua kali ukuran India.

“Kami menunjukkan bahwa hutan makroalga adalah bioma utama dengan luas global 6,06-7,22 juta km2, didominasi oleh alga merah, dan NPP (Net Primary Production) 1,32 Pg C/tahun, didominasi oleh alga coklat,” kata para ahli tersebut.

Lebih lanjut, mereka juga melihat luas hutan laut itu hampir sama dengan Amazon. Hanya saja, hutan-hutan itu punya letak yang menyebar.

“Bioma alga makro global bisa dibandingkan, dalam soal luas dan NPP, dengan hutan Amazon, tetapi terdistribusi secara global seperti sirip halus sepanjang garis pantai,” tulisnya.

Mengutip Science Alert, hutan bawah laut dibentuk oleh rumput laut yang masuk ke dalam kategori alga. Seperti tumbuhan lain, rumput laut tumbuh dengan menangkap energi Matahari dan karbondioksida lewat proses fotosintesis.

Spesies terbesar rumput laut bisa tumbuh hingga 10 meter, yang membentuk kanopi hutan yang bergerak tanpa henti mengikuti gelombang. Seperti ‘saudaranya’ di daratan, hutan laut juga menawarkan habitat, makanan, dan tempat singgah untuk berbagai organisme laut.

Spesies rumput laut yang besar seperti bambu-laut dan kelp raksasa punya struktur yang berisi gas. Struktur itu bekerja seperti balon dan membantu mereka membuat kanopi yang lebar.

Rumput-rumput laut ini dikenal sebagai tumbuhan yang tumbuh dengan sangat cepat. Namun hingga saat ini, para ahli kesulitan untuk mengestimasi seberapa besar area yang ditutupi mereka.

Di daratan, pengukuran area yang ditutupi hutan mudah dilakukan lewat satelit. Di bawah laut, hal itu lebih kompleks karena kebanyakan saetlit tidak dapat mengukur di kedalaman, tempat hutan laut itu berada.

Alhasil, para ahli yang terlibat dalam jurnal itu mengandalkan catatan bawah laut dari literatur saintifik, repositori di internet, dan inisiatif para saintis di masyarakat. Dari penelitiannya, hutan-hutan laut ini juga sama seperti Amazon yang ‘memakan’ karbondioksida.

Oleh karena itu, mereka yakin “hutan-hutan laut bisa punya peran dalam mitigasi perubahan iklim. Meskipun, tidak semua karbon bisa diisolasi karena proses itu membutuhkan rumput laut untuk mengunci karbon dari atmoser dalam waktu yang relatif lama.” [] CNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.