{"id":100857,"date":"2025-04-30T19:38:24","date_gmt":"2025-04-30T11:38:24","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=100857"},"modified":"2025-08-27T16:26:21","modified_gmt":"2025-08-27T08:26:21","slug":"disdikbud-kukar-dorong-pengelolaan-penuh-museum-kayu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/disdikbud-kukar-dorong-pengelolaan-penuh-museum-kayu\/","title":{"rendered":"Disdikbud Kukar Dorong Pengelolaan Penuh Museum Kayu"},"content":{"rendered":"<article class=\"text-token-text-primary w-full\" dir=\"auto\" data-testid=\"conversation-turn-22\" data-scroll-anchor=\"true\">\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto py-5 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @[37rem]:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @[72rem]:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:32rem] @[34rem]:[--thread-content-max-width:40rem] @[64rem]:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto flex max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 text-base gap-4 md:gap-5 lg:gap-6 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"group\/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\">\n<div class=\"relative flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"3f7a7c75-8064-424e-833d-a27fd6cb2f70\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full break-words dark\">\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"330\" data-end=\"739\"><strong data-start=\"330\" data-end=\"351\">KUTAI KARTANEGARA<\/strong> \u2014 Sejak resmi berada di bawah pengelolaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara pada 2017, Museum Kayu terus mengalami proses pembenahan bertahap. Sejumlah upaya revitalisasi dilakukan untuk menjaga fungsi museum sebagai ruang edukasi dan pelestarian sejarah lokal, meskipun tantangan administratif dan keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"741\" data-end=\"1159\">Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman, M. Saidar, mengungkapkan bahwa revitalisasi kawasan museum pernah dilakukan pada 2021. Saat itu, perbaikan mencakup pemulihan jembatan yang rusak akibat banjir serta pembenahan sarana pendukung seperti toilet. Menurutnya, penguatan fungsi museum tidak hanya berhenti pada perawatan fisik, melainkan juga menyangkut pengembangan konten dan daya tarik budaya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1161\" data-end=\"1520\">Salah satu rencana pengembangan jangka menengah yang disusun adalah pembangunan rumah adat di kawasan museum. Namun rencana tersebut belum dapat dilaksanakan karena status lahan masih berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata. \u201cKami hanya menerima pengelolaan bangunan dan koleksi, sedangkan lahan masih tercatat milik OPD lain,\u201d katanya Senin (28\/04\/2025).<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1522\" data-end=\"1825\">Kondisi ini mengharuskan Disdikbud meminta izin kepada dinas lain, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pariwisata, untuk melakukan pengembangan infrastruktur. Saidar berharap ke depan pengelolaan kawasan museum dapat sepenuhnya berada di bawah Disdikbud agar pengembangan tidak terkendala birokrasi.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1827\" data-end=\"2193\">Dari aspek konservasi, koleksi kayu di museum menghadapi tantangan signifikan. Beberapa koleksi mulai mengalami kerusakan akibat rayap dan belum pernah diperbarui sejak museum berdiri. \u201cOleh karena itu, kami berencana menganggarkan perawatan khusus pada tahun 2025, termasuk menjalin kerja sama dengan perusahaan kayu untuk penyediaan material yang sesuai,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2195\" data-end=\"2536\">Untuk saat ini, perawatan koleksi dilakukan setiap hari Selasa dengan pembersihan ringan tanpa penggunaan bahan kimia. Koleksi yang lebih sensitif, seperti buaya awetan, memerlukan perawatan khusus dari tenaga profesional maupun dokter hewan. Sayangnya, perawatan menyeluruh belum bisa dilakukan karena terbatasnya sumber daya yang tersedia.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2538\" data-end=\"3077\">Museum Kayu memungut tarif masuk sebesar Rp10.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak. Hingga saat ini, museum ini menjadi satu-satunya yang langsung dikelola oleh Disdikbud Kukar, sementara museum lain, seperti yang berada di Kecamatan Muara Muntai, telah dikelola secara mandiri oleh pemerintah kecamatan. \u201cMuseum lain, seperti di Kecamatan Muara Muntai, telah diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kecamatan setempat yang mengelola secara mandiri namun tetap berkoordinasi jika membutuhkan bantuan.\u201d pungkasnya. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2538\" data-end=\"3077\">Penulis: Dedy Irawan | Penyunting: M. Reza Danuarta<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2014 Sejak resmi berada di bawah pengelolaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara pada 2017, Museum Kayu terus mengalami proses pembenahan bertahap. Sejumlah upaya revitalisasi dilakukan untuk menjaga fungsi museum sebagai ruang edukasi dan pelestarian sejarah lokal, meskipun tantangan administratif dan keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama. Pamong Budaya Ahli Muda &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":100862,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,8741],"tags":[3736],"class_list":["post-100857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-disdikbud-kukar","tag-museum-kayu"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100857"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131968,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100857\/revisions\/131968"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}