{"id":101652,"date":"2025-05-17T12:28:03","date_gmt":"2025-05-17T04:28:03","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=101652"},"modified":"2025-05-17T12:28:03","modified_gmt":"2025-05-17T04:28:03","slug":"diplomasi-jadi-senjata-pakistan-hadapi-agresi-india","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/diplomasi-jadi-senjata-pakistan-hadapi-agresi-india\/","title":{"rendered":"Diplomasi Jadi Senjata Pakistan Hadapi Agresi India"},"content":{"rendered":"<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"226\" data-end=\"504\"><b>JAKARTA- <\/b>Pakistan menegaskan diplomasi menjadi prioritas utama dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi dengan India saat ini. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Hukum dan Keadilan Pakistan, Aqeel Malik Sahib, saat ditemui di Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"506\" data-end=\"708\">Menteri Aqeel menyampaikan bahwa Pakistan tengah mempertimbangkan berbagai opsi hukum yang dapat ditempuh terhadap serangan India di wilayah sipil Pakistan. \u201cSemua opsi hukum ada di atas meja,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"710\" data-end=\"1150\">Salah satu perhatian Menteri Aqeel adalah pernyataan Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, yang berasal dari India. Ajay menyebutkan bahwa perjanjian terkait sungai Indus dan anak-anak sungainya yang menjadi sumber utama kehidupan 240 juta warga Pakistan tidak dapat ditangguhkan. Perjanjian tersebut merupakan dokumen hukum internasional yang telah bertahan melalui tiga perang antara kedua negara dan difasilitasi oleh Bank Dunia pada 1960-an.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1152\" data-end=\"1425\">\u201cJalan hukum berdasarkan perjanjian itu jelas ada. Namun, India memilih untuk menangguhkan secara sepihak,\u201d kata Menteri Aqeel. Menurutnya, tidak ada ketentuan penangguhan dalam perjanjian tersebut, sehingga tindakan India bertentangan dengan hukum dan norma internasional.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1427\" data-end=\"1732\">Meskipun demikian, Pakistan memilih menempuh jalur diplomasi. \u201cKami memilih diplomasi daripada hal lain saat ini. Dunia telah menyaksikan sikap dan perilaku kami selama berbagai insiden,\u201d tegas Menteri Aqeel. Ia berharap dalam beberapa hari ke depan proses dialog dapat mengarah pada penyelesaian masalah.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1734\" data-end=\"2044\">Terkait serangan di Kashmir, Pakistan sudah mengambil tindakan dan menawarkan penyelidikan netral kepada India. Namun, hingga kini tidak ada respons dari India. \u201cKami menawarkan penyelidikan internasional yang independen untuk mengungkap serangan teroris ini, namun India belum memberikan tanggapan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2046\" data-end=\"2189\">Menteri Aqeel meminta India bersikap terbuka agar masyarakat internasional dapat mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.[]\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2046\" data-end=\"2189\">Redaksi12<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA- Pakistan menegaskan diplomasi menjadi prioritas utama dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi dengan India saat ini. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Hukum dan Keadilan Pakistan, Aqeel Malik Sahib, saat ditemui di Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta. Menteri Aqeel menyampaikan bahwa Pakistan tengah mempertimbangkan berbagai opsi hukum yang dapat ditempuh terhadap serangan India di wilayah sipil &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":61,"featured_media":101654,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7,2254],"tags":[],"class_list":["post-101652","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-breaking-news","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/61"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101652"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":101655,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101652\/revisions\/101655"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101654"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}