{"id":102362,"date":"2025-05-20T08:41:27","date_gmt":"2025-05-20T00:41:27","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=102362"},"modified":"2025-05-20T08:41:27","modified_gmt":"2025-05-20T00:41:27","slug":"ekspor-beras-ke-malaysia-picu-kontroversi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ekspor-beras-ke-malaysia-picu-kontroversi\/","title":{"rendered":"Ekspor Beras ke Malaysia Picu Kontroversi"},"content":{"rendered":"<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\"><strong>JAKARTA \u2013<\/strong> Pemerintah Indonesia tampak bimbang menyikapi permintaan Malaysia untuk mengimpor beras, meski mengklaim stok dalam negeri mencapai 3,7 juta ton\u2014tertinggi sejak 1969. Penolakan awal Menteri Pertanian Amran Sulaiman terhadap permohonan Menteri Pertanian Malaysia YB Datuk Seri Haji Mohamad bin Sabu pada 22 April 2025 berubah 23 hari kemudian, dengan sinyal kesiapan ekspor 2.000 ton beras per bulan.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">\u201cTadi (mentan Malaysia) menanyakan, \u2018Apa bisa kami impor beras dari Indonesia?\u2019. Saya katakan, untuk sementara kami menjaga stok dulu,\u201d ucap Amran di Jakarta Selatan, Selasa (22\/04\/2025). Namun, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono pada Kamis (15\/05\/2025) menyatakan sebaliknya: \u201cManakala Presiden (Prabowo Subianto) sudah memberikan perintah, maka kita siap.\u201d<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Kebijakan ini memantik pro-kontra. Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan mengaku sedang menumpuk stok beras, sambil mengutip instruksi Presiden Prabowo untuk \u201cmembantu tetangga yang kekurangan\u201d. Di sisi lain, analis kebijakan pangan Yusuf Wibisono menilai ekspor beras bukan solusi tepat. \u201cStok melimpah saat ini berasal dari sisa impor 2024 sebesar 4,52 juta ton\u2014tertinggi dalam 25 tahun. Solusinya operasi pasar, bukan ekspor,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi beras nasional cenderung stagnan, bahkan turun dari 31,31 juta ton (2019) menjadi 30,37 juta ton (2024). Meski Bulog mencatat stok 3,7 juta ton, Yusuf menegaskan angka ini belum mencerminkan swasembada sejati. \u201cIni jebakan swasembada semu. Produksi bisa turun lagi seiring akhir musim hujan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Dosen UGM Atris Suyantohadi mengapresiasi peningkatan produksi berkat alokasi program bantuan pertanian sejak 2023, tetapi mengingatkan: \u201cEkspor harus mengacu data surplus riil, bukan potensi. Transparansi stok dan stabilitas harga lokal wajib jadi prioritas.\u201d Analis Syaiful Bahari menambahkan, ekspor 2.000 ton ke Malaysia hanya simbolis. \u201cKebutuhan Malaysia 250.000 ton per bulan, dipenuhi Vietnam, India, dan Thailand. Harga beras internasional pun lebih murah daripada HPP Indonesia,\u201d paparnya.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Eliza Mardian dari Core Indonesia mengingatkan risiko psikologis pasar. \u201cBerita ekspor bisa picu kenaikan harga dalam negeri. Ekspor harus terukur, jangan sampai ganggu stok domestik,\u201d pesannya. Ia juga memperingatkan bahaya menumpuk beras di gudang Bulog: \u201cKualitas bisa turun, berujang pemborosan anggaran.\u201d<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Di tengah polemik, Prabowo Subianto disebut ingin menjadikan ekspor sebagai bentuk diplomasi. Namun, Syaiful menekankan, swasembada berkelanjutan hanya bisa tercapai jika produksi gabah kering panen (GKP) naik dari rata-rata 5,5 ton\/hektare menjadi 7 ton\/hektare. \u201cIndia dan Vietnam ekspor karena cadangan mereka 20-25% dari konsumsi nasional. Indonesia baru 10%,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Dengan cuaca tidak menentu dan ancaman alih fungsi lahan, langkah pemerintah ke depan dinilai krusial. \u201cJangan puas diri. Fokus pada peningkatan produktivitas dan perlindungan lahan pertanian,\u201d pungkas Yusuf. []\n<p>Redaksi11<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Pemerintah Indonesia tampak bimbang menyikapi permintaan Malaysia untuk mengimpor beras, meski mengklaim stok dalam negeri mencapai 3,7 juta ton\u2014tertinggi sejak 1969. Penolakan awal Menteri Pertanian Amran Sulaiman terhadap permohonan Menteri Pertanian Malaysia YB Datuk Seri Haji Mohamad bin Sabu pada 22 April 2025 berubah 23 hari kemudian, dengan sinyal kesiapan ekspor 2.000 ton &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":102363,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,35],"tags":[3351],"class_list":["post-102362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-nasional","tag-beras"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=102362"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102362\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":102364,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102362\/revisions\/102364"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102363"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=102362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=102362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=102362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}