{"id":102388,"date":"2025-05-20T09:39:29","date_gmt":"2025-05-20T01:39:29","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=102388"},"modified":"2025-05-20T09:39:29","modified_gmt":"2025-05-20T01:39:29","slug":"lonjakan-dbd-di-jakarta-barat-iklim-jadi-pemicu-utama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/lonjakan-dbd-di-jakarta-barat-iklim-jadi-pemicu-utama\/","title":{"rendered":"Lonjakan DBD di Jakarta Barat, Iklim Jadi Pemicu Utama"},"content":{"rendered":"<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\"><strong>JAKARTA \u2013<\/strong> Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat mencatat kenaikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) secara konsisten sejak Januari hingga April 2025. Data menunjukkan lonjakan dari 186 kasus di Januari, menjadi 211 kasus di Februari, dan mencapai 254 kasus pada Maret serta April. Hingga pertengahan Mei 2025, tambahan 75 kasus baru telah teridentifikasi, mengindikasikan tren yang belum melandai.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Sudinkes Jakarta Barat, Arum Ambarsari, menyebut faktor iklim sebagai pemicu utama. \u201cKelembaban dan suhu udara yang optimal menjadi pendorong perkembangbiakan nyamuk\u00a0<em>Aedes aegypti<\/em>,\u201d ujarnya melalui pesan singkat, Senin (19\/05\/2025). Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi Mei 2025 dinilai ideal bagi nyamuk dengan kelembaban 71-83% dan suhu rata-rata 25-32\u00b0C.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Arum menjelaskan, angka insiden DBD diproyeksikan mencapai 7,9 kasus per 100.000 penduduk pada Mei\u2014lebih tinggi dari April yang sebesar 7,1 kasus per 100.000 penduduk. \u201cSuhu optimum untuk perkembangan nyamuk berkisar 25-27\u00b0C, dan kondisi saat ini mendekati itu,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Untuk memutus rantai penularan, Sudinkes Jakbar mengintensifkan pemantauan jentik nyamuk melalui\u00a0<em>Juru Pemantau Jentik<\/em>\u00a0(Jumantik) yang melakukan sidak ke rumah-rumah warga. \u201cFokus kami pada pemberdayaan masyarakat dan edukasi pencegahan DBD. Peran aktif warga dalam memberantas sarang nyamuk krusial,\u201d tegas Arum. Upaya ini mencakup sosialisasi gerakan 3M Plus: menguras, menutup, mendaur ulang, plus menghindari gigitan nyamuk.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, tantangan tetap ada. Kepadatan penduduk dan pola curah hujan tidak merata di Jakbar dinilai mempercepat perkembangbiakan vektor. Data historis menunjukkan, puncak kasus DBD di wilayah ini biasanya terjadi pada Maret-Juni, seiring musim penghujan yang memicu genangan air.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Dr. Riana Rahman, mengingatkan pentingnya respons cepat. \u201cPeningkatan kasus Mei ini harus diwaspadai. Selain fogging, deteksi dini gejala DBD seperti demam tinggi, nyeri otot, dan bintik merah perlu digencarkan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"ds-markdown-paragraph\" style=\"text-align: justify;\">Pemerintah setempat telah menyiagakan 15 puskesmas dan 72 posko DBD untuk penanganan darurat. Masyarakat diimbau melaporkan genangan air atau kasus demam berkepanjangan ke nomor layanan Sudinkes Jakbar. \u201cKami optimistis tren bisa ditekan jika kolaborasi antara petugas dan warga terjalin solid,\u201d pungkas Arum. []\n<p>Redaksi11<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat mencatat kenaikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) secara konsisten sejak Januari hingga April 2025. Data menunjukkan lonjakan dari 186 kasus di Januari, menjadi 211 kasus di Februari, dan mencapai 254 kasus pada Maret serta April. Hingga pertengahan Mei 2025, tambahan 75 kasus baru telah teridentifikasi, mengindikasikan tren &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":102389,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[35],"tags":[3008,4589],"class_list":["post-102388","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-nasional","tag-dbd","tag-jakarta"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102388","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=102388"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102388\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":102390,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102388\/revisions\/102390"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102389"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=102388"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=102388"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=102388"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}