{"id":103058,"date":"2025-05-22T14:20:41","date_gmt":"2025-05-22T06:20:41","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=103058"},"modified":"2025-05-22T14:20:41","modified_gmt":"2025-05-22T06:20:41","slug":"kebaya-menari-juara-dunia-di-paris-indonesia-harumkan-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kebaya-menari-juara-dunia-di-paris-indonesia-harumkan-budaya\/","title":{"rendered":"Kebaya Menari Juara Dunia di Paris, Indonesia Harumkan Budaya"},"content":{"rendered":"<article class=\"text-token-text-primary w-full\" dir=\"auto\" data-testid=\"conversation-turn-102\" data-scroll-anchor=\"true\">\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto py-5 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @[37rem]:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @[72rem]:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:32rem] @[34rem]:[--thread-content-max-width:40rem] @[64rem]:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto flex max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 text-base gap-4 md:gap-5 lg:gap-6 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"group\/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\">\n<div class=\"relative flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"a01e1605-53c6-4d2d-aa87-5464954ef057\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full break-words dark\">\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"250\" data-end=\"684\"><strong>PARIS &#8211;<\/strong> Komunitas Kebaya Menari kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Dalam ajang Festival Tari Internasional ke-33 \u201cEtoiles de Paris\u201d, kelompok ini berhasil meraih juara pertama dan mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia. Kemenangan tersebut diumumkan secara resmi di Th\u00e9\u00e2tre du Blanc-Mesnil, Paris, dengan pengibaran bendera Merah Putih serta penyebutan nama Indonesia sebanyak tiga kali sebagai pemenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"686\" data-end=\"1052\">Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Prof. Bambang Wibawarta, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan bukti konkret dari komitmen pelestarian kebaya melalui partisipasi aktif dalam panggung seni internasional. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh anggota komunitas yang dinilai berhasil menunjukkan kualitas pertunjukan seni yang mengangkat budaya Nusantara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1054\" data-end=\"1543\">Dalam kompetisi tersebut, sebanyak 29 penari dari Komunitas Kebaya Menari menyuguhkan tiga tarian tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ketiga pertunjukan itu meliputi tari Legong Bapang Lasem dari Bali versi tahun 1950, tari Bedhayan Wilwatikta dari Jawa, serta gabungan dari tari Cawan dan Maringgih Tandok dari etnis Batak. Semua tarian ditampilkan dengan mengenakan kebaya sebagai busana dasar, yang menandai peran kebaya sebagai simbol pelestarian budaya bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1545\" data-end=\"1865\">\u201cSemangat Komunitas Kebaya Menari luar biasa dalam melestarikan budaya Indonesia, apalagi atas pencapaian meraih juara 1 untuk kategori kompetisi utama dan disiplin festival, yaitu folklore\/traditional folk dance\/groups pada Festival Tari 33rd International Competition Etoiles de Paris,\u201d ujar Bambang, Rabu (21\/5\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1867\" data-end=\"2105\">Menurut Bambang, hasil gemilang ini merupakan buah dari latihan intensif selama hampir tiga bulan yang dilakukan di bawah arahan pelatih profesional. Masing-masing kelompok berhasil menyabet predikat Laureate 1 pada kategori yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2107\" data-end=\"2356\">\u201cBesar harapan kami agar Komunitas Kebaya Menari dapat terus berkembang secara berkelanjutan, menjadi sumber inspirasi, serta turut berperan aktif dalam menjalankan misi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia di masa mendatang,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2358\" data-end=\"2573\">Prestasi ini mendapat respons positif dari perwakilan Indonesia di Paris. Komunitas Kebaya Menari disambut hangat saat berkunjung ke markas besar UNESCO oleh Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, IGAK Satrya Wibawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2575\" data-end=\"2842\">&#8220;Prestasi ini bukan hanya kemenangan artistik, tapi juga sebuah pernyataan kuat tentang identitas, keindahan, dan semangat budaya Indonesia yang mendunia. Terima kasih telah membawa nama Indonesia dengan begitu anggun dan membanggakan,&#8221; ucap Satrya dalam sambutannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2844\" data-end=\"3038\">Satrya berharap momentum ini mampu membuka lebih banyak ruang kolaborasi budaya lintas negara serta memperkuat posisi kebaya sebagai simbol warisan budaya dunia yang layak dijaga dan diwariskan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3040\" data-end=\"3414\">Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan budaya, para penari juga tampil di Place Trocad\u00e9ro, Paris, dengan latar belakang Menara Eiffel. Penampilan singkat yang dibalut sesi foto ini mendapat sambutan meriah dari masyarakat lokal dan wisatawan. Selain itu, aksi flash mob yang melibatkan diaspora Indonesia serta sanggar seni setempat turut meramaikan promosi budaya tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3416\" data-end=\"3772\">Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan RI, Yayasan Timnas Kebaya Indonesia, Perempuan Indonesia Maju (PIM) Paris, dan Sekar Jagad Indonesia Paris. Kolaborasi ini memperkuat langkah Komunitas Kebaya Menari dalam menjalankan misinya mempromosikan kebaya dan seni tari tradisional Indonesia secara global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3774\" data-end=\"4211\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Komunitas Kebaya Menari sendiri telah menunjukkan konsistensinya dalam upaya pelestarian kebudayaan. Pada 2024, mereka menginisiasi program \u201cKebaya Kelana, Susur Serumpun Tiga Negara\u201d yang menjelajahi Thailand, Singapura, dan Malaysia, untuk memperkuat pengakuan kebaya sebagai warisan budaya bersama. Inisiatif ini turut mengantar pada pengakuan UNESCO pada 4 Desember 2024, yang menetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3774\" data-end=\"4211\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Redaksi11<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PARIS &#8211; Komunitas Kebaya Menari kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Dalam ajang Festival Tari Internasional ke-33 \u201cEtoiles de Paris\u201d, kelompok ini berhasil meraih juara pertama dan mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia. Kemenangan tersebut diumumkan secara resmi di Th\u00e9\u00e2tre du Blanc-Mesnil, Paris, dengan pengibaran bendera Merah Putih serta penyebutan nama Indonesia sebanyak tiga &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":103062,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2254],"tags":[7322,9534],"class_list":["post-103058","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-internasional","tag-kebaya","tag-kebaya-menari"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103058","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103058"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103058\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103063,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103058\/revisions\/103063"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/103062"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103058"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103058"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103058"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}