{"id":103892,"date":"2025-05-25T19:34:38","date_gmt":"2025-05-25T11:34:38","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=103892"},"modified":"2025-08-10T00:18:11","modified_gmt":"2025-08-09T16:18:11","slug":"dprd-kaltim-kecam-penggunaan-jalan-nasional-oleh-pt-kpc","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-kaltim-kecam-penggunaan-jalan-nasional-oleh-pt-kpc\/","title":{"rendered":"DPRD Kaltim Kecam Penggunaan Jalan Nasional oleh PT KPC"},"content":{"rendered":"<article class=\"text-token-text-primary w-full\" dir=\"auto\" data-testid=\"conversation-turn-6\" data-scroll-anchor=\"true\">\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto py-5 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @[37rem]:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @[72rem]:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:32rem] @[34rem]:[--thread-content-max-width:40rem] @[64rem]:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto flex max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 text-base gap-4 md:gap-5 lg:gap-6 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"group\/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\">\n<div class=\"relative flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"25137c72-06d5-4f4e-8a4a-40d4aeeac75b\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full break-words dark\">\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"266\" data-end=\"673\"><strong>SAMARINDA<\/strong> \u2013 Penggunaan jalan nasional Poros Sangatta-Bengalon di Kabupaten Kutai Timur oleh perusahaan tambang batu bara menuai sorotan tajam dari DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Jahidin, menyampaikan kritik keras terhadap praktik PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang memanfaatkan jalur tersebut sebagai rute operasional hauling tanpa menyediakan jalur alternatif bagi masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"675\" data-end=\"940\">Jalan yang semestinya menjadi akses publik utama kini justru menjadi jalur aktivitas industri, yang menurut Jahidin tidak hanya melanggar prinsip penggunaan infrastruktur negara, tetapi juga merugikan masyarakat yang menggantungkan mobilitasnya pada jalur tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"942\" data-end=\"1200\">\u201cJalan itu adalah jalan nasional atau negara, satu-satunya penghubung dari Berau ke Kutim dan ke Samarinda, tapi kini dimanfaatkan oleh PT KPC sebagai jalur angkut batu bara, ini tidak benar,\u201d ujar Jahidin kepada awak media di Samarinda, Minggu (25\/05\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1202\" data-end=\"1488\">Ia menjelaskan bahwa jalan nasional tersebut adalah jalur vital distribusi logistik dan pergerakan masyarakat, namun kini terdapat aktivitas hauling batu bara yang dilakukan dengan sistem menyilang (crossing) di beberapa titik. Hal ini dinilai berbahaya dan menimbulkan ketidaknyamanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1490\" data-end=\"1671\">\u201cKalau memang ingin menggunakan, siapkan dulu jalan alternatifnya, selesaikan jalan penggantinya, ini belum dikerjakan, tapi sudah dimanfaatkan dan ini jelas penyimpangan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1673\" data-end=\"1913\">Dalam rapat bersama antara DPRD Kaltim dan pihak PT KPC, perusahaan disebut berdalih bahwa mereka telah mengantongi rekomendasi dari instansi teknis terkait. Namun, menurut Jahidin, rekomendasi itu belum memenuhi syarat sebagai dasar legal. \u201cRekomendasi itu bukan izin, itu hanya syarat administratif untuk memperoleh izin resmi, kalau belum ada izin sah maka penggunaan jalan itu tidak bisa dibenarkan secara hukum,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2102\" data-end=\"2400\">Politisi Partai Kebangkitan Bangsa yang juga menyandang gelar doktor di bidang hukum ini menyoroti dampak langsung terhadap masyarakat. Setiap kali truk hauling melintas, petugas keamanan perusahaan menghentikan kendaraan umum yang sedang melaju, menyebabkan antrean kendaraan hingga belasan menit. \u201cTruk batu bara mereka menyebrang mengakibatkan pengguna jalan distop dan ini mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan lainnya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2547\" data-end=\"2863\">Jahidin menekankan bahwa jalan nasional merupakan fasilitas publik milik negara yang tidak boleh digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu, sekalipun pihak perusahaan telah membayar kewajiban pajak. Ia juga mendorong aparat penegak hukum untuk segera menertibkan aktivitas tersebut demi menjaga kepentingan umum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2865\" data-end=\"3033\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">\u201cKalau memang ingin menggunakan, harus ada jalan penggantinya dulu dan jalan nasional itu bukan untuk kepentingan segelintir pihak serta itu milik rakyat,\u201d tegasnya. []\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: M. Reza Danuarta<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Penggunaan jalan nasional Poros Sangatta-Bengalon di Kabupaten Kutai Timur oleh perusahaan tambang batu bara menuai sorotan tajam dari DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Jahidin, menyampaikan kritik keras terhadap praktik PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang memanfaatkan jalur tersebut sebagai rute operasional hauling tanpa menyediakan jalur alternatif bagi masyarakat. Jalan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":103952,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[128],"class_list":["post-103892","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-dprd-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103892","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103892"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103892\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103953,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103892\/revisions\/103953"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/103952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103892"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103892"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103892"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}