{"id":104026,"date":"2025-05-26T13:30:30","date_gmt":"2025-05-26T05:30:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=104026"},"modified":"2025-05-26T13:30:30","modified_gmt":"2025-05-26T05:30:30","slug":"kematian-massal-kucing-terjadi-lagi-polisi-imbau-warga-lapor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kematian-massal-kucing-terjadi-lagi-polisi-imbau-warga-lapor\/","title":{"rendered":"Kematian Massal Kucing Terjadi Lagi, Polisi Imbau Warga Lapor"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"375\"><strong>JAWA TIMUR &#8211;<\/strong> Kasus kematian mendadak sejumlah kucing kembali terjadi di Kota Malang, Jawa Timur. Kejadian terbaru dilaporkan di RT 01 RW 16, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, dengan jumlah total kucing mati mencapai belasan ekor. Warga menduga kematian tersebut tidak wajar dan kemungkinan besar disebabkan oleh tindakan peracunan, mengingat gejala yang dialami para kucing serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"377\" data-end=\"764\">Yuliana, warga setempat yang juga merupakan pemilik salah satu kucing yang mati, mengungkapkan bahwa hewan peliharaannya semula dalam kondisi sehat. Namun, tiba-tiba mengalami kejang dan meninggal dalam waktu singkat. &#8220;Jadi kucing saya itu sehat awalnya, tiba-tiba pulang dengan kondisi kejang-kejang kurang lebih 5\u201310 menit, lalu langsung meninggal,&#8221; ujar Veronica, Minggu (25\/05\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"766\" data-end=\"1212\">Ia menambahkan bahwa saat kejang, kucing tersebut tidak mengeluarkan busa, namun mengeluarkan air kencing dan lidahnya membiru. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa penyebab kematian adalah racun. Sebelum kasus menyebar di RT 01, warga RT 05 lebih dulu mengalami kejadian serupa. Tak lama setelahnya, kematian kucing secara mendadak pun terjadi di lingkungan RT 01. Dari total 15 ekor yang dilaporkan mati, tiga di antaranya adalah milik Veronica.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1214\" data-end=\"1535\">Menurutnya, kejadian ini berlangsung dalam rentang waktu tiga minggu pada Mei 2025. Ia juga menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah kucing peliharaan, baik jenis kampung maupun ras. \u201cKorban kebanyakan kucing rumahan, baik kucing kampung maupun kucing ras. Ada sekitar lima kucing ras yang menjadi korban,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1537\" data-end=\"1908\">Warga telah menyampaikan temuan ini kepada ketua RT setempat. Jika kejadian serupa kembali terjadi, Veronica menyatakan akan melaporkan ke pihak kepolisian. \u201cHarapan saya, pelakunya tidak melakukan hal seperti itu lagi, kalau memang benar sengaja diracun. Persoalan ini juga telah diketahui Pak RT di sini, dan rencananya akan kami lanjutkan ke Bhabinkamtibmas,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1910\" data-end=\"2189\">Ia menambahkan bahwa sejak peristiwa itu, warga pemilik kucing menjadi lebih waspada dan enggan melepas kucing mereka keluar rumah. \u201cKarena yang pelihara kucing di sini banyak, adanya kejadian ini warga yang punya kucing lebih waspada dan jarang mengeluarkan kucingnya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2191\" data-end=\"2548\">Senada dengan itu, Nanik Candrawati, warga RT 03, juga mengalami hal serupa. Kucing peliharaannya yang biasanya hanya berada di sekitar rumah ditemukan mati oleh suaminya. \u201cKucing saya ini enggak pernah keluar dan hanya muter di rumah saja. Kebetulan waktu itu birahi dan keluar. Baru tiga hari keluar, kucing saya sudah ditemukan suami mati,\u201d ungkap Nanik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2550\" data-end=\"2936\">Fenomena kematian massal kucing di Kota Malang bukan kali ini saja terjadi. Dalam dua tahun terakhir, kasus serupa tercatat terjadi di tiga kecamatan berbeda. Pada Februari lalu, belasan kucing peliharaan juga ditemukan mati di Jalan Locari dan Jalan Telasih, Kecamatan Lowokwaru. Dugaan warga tetap mengarah pada peracunan karena mayoritas kucing dalam kondisi sehat sebelum meninggal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2938\" data-end=\"3327\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Menanggapi kejadian tersebut, Kepolisian Resor Kota Malang melalui Kasi Humas Ipda Yudi Risdiyanto menyatakan bahwa warga yang mengalami kejadian serupa sebaiknya segera membuat laporan resmi agar dapat dilakukan penyelidikan. \u201cDan kalau ditindaklanjuti tentu harus ada laporan, warga bisa meminta pendampingan komunitas pecinta kucing untuk membuat laporan,\u201d kata Yudi pada Sabtu (15\/02).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAWA TIMUR &#8211; Kasus kematian mendadak sejumlah kucing kembali terjadi di Kota Malang, Jawa Timur. Kejadian terbaru dilaporkan di RT 01 RW 16, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, dengan jumlah total kucing mati mencapai belasan ekor. Warga menduga kematian tersebut tidak wajar dan kemungkinan besar disebabkan oleh tindakan peracunan, mengingat gejala yang dialami para kucing serupa. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":104028,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,35],"tags":[9568],"class_list":["post-104026","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-nasional","tag-kucing"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104026","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104026"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104026\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":104029,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104026\/revisions\/104029"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104028"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104026"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104026"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104026"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}