{"id":104448,"date":"2025-05-27T16:52:30","date_gmt":"2025-05-27T08:52:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=104448"},"modified":"2025-05-28T01:16:08","modified_gmt":"2025-05-27T17:16:08","slug":"jalan-rusak-parah-apau-kayan-andalkan-malaysia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/jalan-rusak-parah-apau-kayan-andalkan-malaysia\/","title":{"rendered":"Jalan Rusak Parah, Apau Kayan Andalkan Malaysia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"524\" data-end=\"955\"><strong data-start=\"524\" data-end=\"541\">BULUNGAN<\/strong> \u2013 Di tengah megahnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Long Nawang, realitas masyarakat di perbatasan Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, justru mencerminkan keterisolasian akut. Infrastruktur jalan yang menghubungkan empat kecamatan strategis \u2013 Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, dan Sungai Boh \u2013 saat ini mengalami kerusakan parah, menjadikan distribusi logistik dalam negeri nyaris lumpuh total.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"957\" data-end=\"1181\">Camat Kayan Hulu, Setim Ala, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, buruknya akses jalan membuat warga kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) hingga sembako dari wilayah Indonesia sendiri. \u201cKalau dulu perjalanan (dari Apau Kayan) ke Long Bagun itu bisa ditempuh 1-2 hari. Tapi akibat dari jalan yang sudah semakin rusak parah, sehingga perjalanan ke Long Bagun saat ini bisa sampai sebulan baru tembus,\u201d ujar Setim kepada awak media, Senin (26\/05\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1413\" data-end=\"1624\">Secara geografis, satu-satunya akses darat dari Apau Kayan menuju wilayah Indonesia lainnya hanyalah melalui Long Bagun, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur. Namun saat ini, jalur tersebut hampir tidak dapat dilalui.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1626\" data-end=\"1902\">Situasi diperparah dengan kondisi jalan yang mengarah ke Tapak Mega, Malaysia, yang juga tidak jauh lebih baik. Namun, karena akses ke negeri jiran lebih memungkinkan secara geografis, sebagian besar masyarakat akhirnya terpaksa memenuhi kebutuhan harian mereka dari Malaysia. \u201cIni membuat konektivitas wilayah di Apau Kayan semakin terputus. Padahal PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Long Nawang berdiri megah di jalur jalan menuju Pos Pamtas hingga ke Tapak Mega, Malaysia,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2114\" data-end=\"2433\">Ironisnya, wilayah yang secara administratif merupakan bagian dari Indonesia ini justru lebih terkoneksi dengan negara tetangga karena ketiadaan infrastruktur yang layak dari pusat. Masyarakat pun merasakan paradoks hidup di wilayah yang secara politis milik Indonesia, namun secara ekonomi bergantung pada negara lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2435\" data-end=\"2633\">Kondisi ini menyoroti perlunya perhatian serius dari pemerintah pusat terhadap pembangunan infrastruktur jalan di wilayah perbatasan, agar kedaulatan negara tidak hanya berhenti di tataran simbolik. [] Adm04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BULUNGAN \u2013 Di tengah megahnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Long Nawang, realitas masyarakat di perbatasan Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, justru mencerminkan keterisolasian akut. Infrastruktur jalan yang menghubungkan empat kecamatan strategis \u2013 Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, dan Sungai Boh \u2013 saat ini mengalami kerusakan parah, menjadikan distribusi logistik dalam negeri nyaris &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":104449,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2256,17,27],"tags":[692,2889,8861],"class_list":["post-104448","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-bulungan","category-headlines","category-kalimantan-utara-kaltara","tag-jalan-rusak","tag-kalimantan-utara","tag-tanjung-selor"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104448","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104448"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104448\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":104532,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104448\/revisions\/104532"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104449"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104448"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104448"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104448"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}