{"id":105153,"date":"2025-05-29T11:48:52","date_gmt":"2025-05-29T03:48:52","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=105153"},"modified":"2025-05-29T11:48:52","modified_gmt":"2025-05-29T03:48:52","slug":"minum-dua-liter-susu-sehari-anak-kepala-bgn-tumbuh-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/minum-dua-liter-susu-sehari-anak-kepala-bgn-tumbuh-tinggi\/","title":{"rendered":"Minum Dua Liter Susu Sehari, Anak Kepala BGN Tumbuh Tinggi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"419\"><strong>JAWA TIMUR &#8211;<\/strong> Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membagikan pengalamannya mengenai keberhasilan memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya hingga mencapai tinggi badan yang melebihi dirinya. Ia menyebutkan bahwa kedua putranya masing-masing memiliki tinggi badan 181 sentimeter dan 185 sentimeter. Menurut Dadan, hal tersebut dicapai berkat kebiasaan minum susu secara rutin sejak usia dini, bahkan hingga dua liter per hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"421\" data-end=\"689\">\u201cJadi tinggi badan bukan cuma masalah genetik, tapi juga asupan gizi yang cukup dan seimbang,\u201d ujar Dadan dalam acara peluncuran pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, pada Senin (26\/05\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"691\" data-end=\"1111\">Dadan mengungkapkan bahwa kedua anaknya diwajibkan mengonsumsi susu secara rutin mulai dari masa balita hingga duduk di bangku kelas dua SMA. Ia menjelaskan bahwa selama masa pertumbuhan, anak-anaknya dibiasakan minum dua liter susu per hari agar tulang mereka berkembang dengan baik. \u201cJadi tulangnya besar-besar, dan makanya tubuhnya tinggi. Jadi tinggi badan tidak hanya masalah genetik, tapi juga makanan,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1113\" data-end=\"1631\">Meski demikian, Dadan menyampaikan keprihatinannya karena sekitar 60 persen anak-anak di Indonesia tidak pernah memiliki akses terhadap makanan dengan gizi seimbang. Kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan nasi yang dipadukan dengan mi instan, bakwan, atau kerupuk. Hal inilah yang menjadi latar belakang peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG). \u201cDi MBG, kita pastikan menu selalu mengandung nasi, telur, ayam, ikan, sayur, buah, dan susu. Ini adalah standar gizi seimbang yang wajib kita penuhi,\u201d tegas Dadan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1633\" data-end=\"2101\">Ia menambahkan bahwa sebanyak 60 persen anak Indonesia tidak pernah mengonsumsi susu, bukan karena tidak mengetahui manfaatnya, melainkan karena keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, program MBG dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. \u201cIni sebabnya Bapak Presiden menyebut MBG sebagai program yang sangat strategis, karena menyasar kualitas SDM kita untuk menyambut Indonesia Emas 2045,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2103\" data-end=\"2354\">Dadan juga menekankan bahwa konsumsi makanan bergizi yang teratur dapat membantu mencegah stunting dan mengoptimalkan pertumbuhan tinggi badan anak-anak. \u201cDengan makanan bergizi, bukan tidak mungkin bisa mencapai tinggi badan minimal 180 cm,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2356\" data-end=\"2923\">Menurut Dadan, terdapat dua fase penting dalam pertumbuhan manusia. Fase pertama adalah 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari dalam kandungan hingga usia dua tahun, yang penting bagi perkembangan otak. Fase kedua adalah masa remaja, yang menjadi masa pertumbuhan fisik yang signifikan. Ia memperingatkan bahwa tanpa intervensi gizi yang tepat pada dua fase tersebut, tinggi badan anak-anak Indonesia diperkirakan hanya akan berkisar antara 160 hingga 165 sentimeter. \u201cKalau tidak diintervensi sekarang, tinggi tubuh mereka hanya akan berkisar 160\u2013165 cm,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2925\" data-end=\"3332\">Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin turut memberikan tanggapan. Ia menilai bahwa anak-anak Dadan Hindayana bisa memiliki postur tubuh lebih tinggi dari ayahnya karena mendapatkan asupan gizi yang optimal. \u201cPak Dadan telah menghasilkan putra-putrinya dengan gizi yang dasar tingginya melebihi bapaknya. Nah itu yang penting,\u201d ucap Cak Imin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3334\" data-end=\"3564\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Ia juga yakin kandungan gizi yang tersedia dalam program MBG dapat membantu pertumbuhan badan anak-anak usia sekolah secara baik dan optimal. \u201cJangan pendek kayak saya. Tapi, tidak apa-apa pendek, yang penting cerdas,\u201d kelakarnya. []\n<p data-start=\"3334\" data-end=\"3564\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Redaksi11<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAWA TIMUR &#8211; Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membagikan pengalamannya mengenai keberhasilan memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya hingga mencapai tinggi badan yang melebihi dirinya. Ia menyebutkan bahwa kedua putranya masing-masing memiliki tinggi badan 181 sentimeter dan 185 sentimeter. Menurut Dadan, hal tersebut dicapai berkat kebiasaan minum susu secara rutin sejak usia dini, bahkan hingga &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":105157,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,35],"tags":[],"class_list":["post-105153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105153"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105153\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":105158,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105153\/revisions\/105158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}