{"id":105556,"date":"2025-05-30T15:18:25","date_gmt":"2025-05-30T07:18:25","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=105556"},"modified":"2025-05-30T15:18:25","modified_gmt":"2025-05-30T07:18:25","slug":"topi-manik-manik-uhing-warisan-budaya-dari-mahakam-ulu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/topi-manik-manik-uhing-warisan-budaya-dari-mahakam-ulu\/","title":{"rendered":"Topi Manik-Manik Uhing, Warisan Budaya dari Mahakam Ulu"},"content":{"rendered":"<article class=\"text-token-text-primary w-full\" dir=\"auto\" data-testid=\"conversation-turn-52\" data-scroll-anchor=\"true\">\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto py-5 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @[37rem]:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @[72rem]:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:32rem] @[34rem]:[--thread-content-max-width:40rem] @[64rem]:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto flex max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 text-base gap-4 md:gap-5 lg:gap-6 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"group\/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\">\n<div class=\"relative flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"4171e5af-61d9-4bbd-9305-82fe265ba89a\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full break-words dark\">\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"261\" data-end=\"696\"><strong>MAHAKAM ULU &#8211;<\/strong> Di tengah gempuran arus modernisasi yang semakin kuat, sosok Uhing dari Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, menjadi salah satu penjaga warisan budaya yang masih teguh mempertahankan identitas leluhurnya. Perempuan lansia dari Sub Suku Dayak Kayan ini terus berkarya dengan menciptakan topi-topi tradisional khas yang dihiasi manik-manik warna-warni, menjadikannya tak sekadar barang kerajinan, tetapi simbol keajegan nilai budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"698\" data-end=\"1114\">Dengan ketelatenan dan kecintaan yang tak surut, Uhing merangkai manik demi manik menjadi pola-pola yang menghiasi setiap topi buatannya. Meski karyanya diminati kolektor dan pecinta kerajinan lokal, sebagian besar pembelinya adalah masyarakat kampungnya sendiri, yaitu warga Dayak Kayan yang hingga kini masih menjaga dan menjalankan tradisi leluhur, termasuk penggunaan topi dalam kegiatan adat dan upacara sakral.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1116\" data-end=\"1434\">\u201cBentuk topi Dayak Kayan ada yang sudah jadi penuh manik-manik, ada juga yang masih polos, belum ditempel manik. Warna manik yang saya pakai tidak ada arti khusus, hanya untuk keindahan,\u201d ujar Uhing saat ditemui di kediamannya, Kamis (29\/05\/2025), sembari menunjukkan beberapa topi yang sedang dalam proses pengerjaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1436\" data-end=\"1852\">Harga topi bervariasi tergantung pada tingkat kerumitan dan bahan yang digunakan. \u201cKalau topi penuh dengan manik-manik, harganya Rp300.000. Kalau motif dari kain, harganya Rp200.000,\u201d jelasnya. Ia juga menyesuaikan motif Dayak pada topi sesuai permintaan pembeli, membuat setiap karya memiliki sentuhan personal. \u201cTopi untuk anak juga ada, harganya sama dengan yang dewasa, tergantung bahan dan motifnya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1854\" data-end=\"2136\">Proses pengerjaan topi bermotif manik-manik memerlukan waktu dua hingga tiga hari, tergantung tingkat kerumitannya. Bagi Uhing, waktu yang dihabiskan bukanlah beban. Ia justru memaknainya sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2138\" data-end=\"2437\">Lebih dari sekadar menghasilkan produk kerajinan, karya Uhing merepresentasikan semangat untuk mempertahankan jati diri dan warisan budaya Dayak Kayan di tengah perubahan zaman. Ia berharap generasi muda di kampungnya dan masyarakat luas mau terus mempelajari serta mencintai kekayaan budaya daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2439\" data-end=\"2628\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">\u201cSaya buat ini dengan hati, supaya budaya kita tidak hilang,\u201d katanya sambil tersenyum, menyampaikan pesan yang sarat makna bagi masa depan tradisi yang sedang ia rawat dengan sepenuh jiwa. []\n<p data-start=\"2439\" data-end=\"2628\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Redaksi11<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAHAKAM ULU &#8211; Di tengah gempuran arus modernisasi yang semakin kuat, sosok Uhing dari Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, menjadi salah satu penjaga warisan budaya yang masih teguh mempertahankan identitas leluhurnya. Perempuan lansia dari Sub Suku Dayak Kayan ini terus berkarya dengan menciptakan topi-topi tradisional khas yang dihiasi manik-manik warna-warni, menjadikannya tak sekadar barang kerajinan, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":105561,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,1173],"tags":[835,9650],"class_list":["post-105556","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-mahakam-ulu-kalimantan-timur","tag-mahakam-ulu","tag-topi-manik-manik"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105556","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105556"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105556\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":105563,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105556\/revisions\/105563"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105561"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105556"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105556"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105556"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}