{"id":105602,"date":"2025-05-31T09:44:39","date_gmt":"2025-05-31T01:44:39","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=105602"},"modified":"2025-05-31T09:44:39","modified_gmt":"2025-05-31T01:44:39","slug":"balikpapan-minta-evaluasi-program-beasiswa-s3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/balikpapan-minta-evaluasi-program-beasiswa-s3\/","title":{"rendered":"Balikpapan Minta Evaluasi Program Beasiswa S3"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BALIKPAPAN<\/strong> \u2014 Pemerintah Kota Balikpapan mulai menyoroti tantangan serius yang dihadapi mahasiswa program doktoral (S3), khususnya para dosen dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kalimantan Timur, terkait keberlanjutan pembiayaan riset.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, dalam forum pembahasan lanjutan beasiswa pendidikan, menyampaikan keprihatinannya terhadap banyaknya mahasiswa doktoral yang terpaksa menghentikan studi karena kehabisan dana untuk penelitian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBanyak teman-teman yang kini sudah memasuki semester 3 atau tahap penelitian tapi tidak memiliki dana karena beasiswa sudah tidak berlanjut. Kami berharap ini bisa dibahas kembali, karena banyak dari kami yang bahkan terpaksa cuti,\u201d kata Bagus, Jumat (30\/05\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, saat ini program beasiswa &#8220;gratis pol&#8221; untuk jenjang S3 yang sebelumnya pernah diberikan secara penuh, sudah tidak tersedia lagi. Akibatnya, mahasiswa harus menanggung sendiri biaya kuliah dan penelitian yang sangat tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBiaya penelitian S3 itu tidak sedikit. UKT saja sudah mahal, belum lagi biaya riset. Kami harap ada kebijakan bantuan untuk ini, karena jika tidak, mereka harus menanggung sendiri dan itu sangat berat,\u201d ujarnya menambahkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain menyoroti aspek pendanaan, Bagus juga menegaskan pentingnya penguatan sistem komitmen penerima beasiswa. Terutama bagi mahasiswa kedokteran dan spesialis, ia mengusulkan adanya perjanjian tertulis agar mereka bersedia kembali mengabdi di Kalimantan Timur setelah menyelesaikan studi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMereka yang masih menempuh pendidikan dokter dan spesialis mudah-mudahan segera diterima pengajuan PSSW-nya. Kami berharap nanti ada surat pernyataan dari penerima bahwa mereka bersedia kembali bekerja di Kalimantan Timur. Kalau tidak, ada konsekuensi mengembalikan beasiswa tiga kali lipat,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasus penerima beasiswa yang enggan kembali ke daerah asal disebutnya masih kerap terjadi. Untuk itu, Pemkot berupaya memperketat seleksi dan pengawasan program beasiswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPemkot Balikpapan sampai saat ini masih aktif memberikan beasiswa kepada warganya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagus juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kaltim, Rudi Mas\u2019ud, dan Wakil Gubernur Seno Aji, atas komitmen mereka dalam mendukung program pendidikan di daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami sangat mengapresiasi konsistensi dan perhatian dari Pak Gubernur dan Pak Wagub. Semoga ini menjadi pertimbangan dan pemikiran bersama untuk masa depan pendidikan di Kalimantan Timur,\u201d tutup Bagus. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Aulia\u00a0Setyaningrum<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BALIKPAPAN \u2014 Pemerintah Kota Balikpapan mulai menyoroti tantangan serius yang dihadapi mahasiswa program doktoral (S3), khususnya para dosen dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kalimantan Timur, terkait keberlanjutan pembiayaan riset. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, dalam forum pembahasan lanjutan beasiswa pendidikan, menyampaikan keprihatinannya terhadap banyaknya mahasiswa doktoral yang terpaksa menghentikan studi karena kehabisan dana &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":55,"featured_media":105603,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467,26],"tags":[1243,9655,4342],"class_list":["post-105602","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan","category-kalimantan-timur-kaltim","tag-balikpapan","tag-beasiswa-s3","tag-pemkot"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105602","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/55"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105602"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105602\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":105674,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105602\/revisions\/105674"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105603"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105602"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}