{"id":106037,"date":"2025-05-24T17:47:03","date_gmt":"2025-05-24T09:47:03","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=106037"},"modified":"2025-08-27T17:42:34","modified_gmt":"2025-08-27T09:42:34","slug":"lomba-menulis-hardiknas-2025-kukar-joko-sampurno-literasi-harus-jadi-gerakan-bersama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/lomba-menulis-hardiknas-2025-kukar-joko-sampurno-literasi-harus-jadi-gerakan-bersama\/","title":{"rendered":"Lomba Menulis Hardiknas 2025 Kukar, Joko Sampurno: Literasi Harus Jadi Gerakan Bersama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI KARTANEGARA<\/strong> \u2013 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara terus menguatkan semangat literasi melalui lomba menulis dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025. Kegiatan yang digelar pada Jumat (23\/05\/2025) ini diikuti oleh 45 guru dan 114 siswa tingkat SMP se-Kukar. Dari jumlah tersebut, masing-masing 10 karya terbaik berhasil terpilih sebagai pemenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Joko Sampurno, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi, melainkan langkah nyata dalam membangun budaya literasi yang kuat di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLomba menulis ini merupakan bagian dari upaya kami membentuk ekosistem pendidikan yang mendorong guru dan siswa berpikir kritis, kreatif, dan reflektif melalui tulisan,\u201d ujar Joko saat ditemui usai acara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, kemampuan menulis adalah indikator penting dalam peningkatan mutu pendidikan, karena menulis bukan hanya soal keterampilan bahasa, tetapi juga cara seseorang mengolah ide dan menyampaikan gagasan secara sistematis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Joko juga menyoroti pentingnya peran guru sebagai motor penggerak literasi di sekolah. Ia berharap para pendidik tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga teladan dalam kebiasaan membaca dan menulis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGuru adalah figur sentral. Ketika guru aktif menulis, siswa akan lebih termotivasi untuk meniru. Karena itu, kami sangat mengapresiasi partisipasi 45 guru dalam lomba ini,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, Joko menyampaikan bahwa Disdikbud Kukar akan terus mendorong lahirnya lebih banyak program literasi di masa mendatang. Ia juga membuka peluang bagi sekolah-sekolah untuk mengadakan lomba sejenis secara mandiri dengan dukungan dari dinas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLiterasi harus menjadi gerakan bersama, tidak cukup jika hanya dilakukan sekali setahun. Kami ingin kegiatan ini menjadi pemicu semangat untuk menghidupkan kembali budaya menulis di sekolah-sekolah,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karya-karya terbaik dari lomba ini rencananya akan dijadikan bahan pembelajaran, baik di forum guru maupun di kelas-kelas literasi siswa. Dengan begitu, hasil lomba tidak hanya berhenti pada apresiasi, tetapi juga menjadi inspirasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami tidak ingin karya-karya hebat ini hilang begitu saja. Ini adalah cermin dari pemikiran dan potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak dan guru-guru Kukar,\u201d tutup Joko. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis : Anggi Triomi | Penyunting : Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2013 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara terus menguatkan semangat literasi melalui lomba menulis dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025. Kegiatan yang digelar pada Jumat (23\/05\/2025) ini diikuti oleh 45 guru dan 114 siswa tingkat SMP se-Kukar. Dari jumlah tersebut, masing-masing 10 karya terbaik berhasil terpilih sebagai pemenang. Plt Sekretaris &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":44,"featured_media":106039,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,8741],"tags":[],"class_list":["post-106037","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-disdikbud-kukar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106037","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/44"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106037"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106037\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131992,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106037\/revisions\/131992"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106037"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106037"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106037"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}