{"id":111652,"date":"2025-06-17T16:05:41","date_gmt":"2025-06-17T08:05:41","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=111652"},"modified":"2025-06-17T16:05:41","modified_gmt":"2025-06-17T08:05:41","slug":"nasi-bekepor-simbol-persatuan-warga-kutai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/nasi-bekepor-simbol-persatuan-warga-kutai\/","title":{"rendered":"Nasi Bekepor, Simbol Persatuan Warga Kutai"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"230\" data-end=\"519\"><strong>TENGGARONG <\/strong>&#8211; Di balik gurihnya rasa nasi bekepor, tersimpan kearifan lokal yang kaya makna bagi masyarakat Kutai di Kalimantan Timur. Hidangan ini bukan sekadar warisan kuliner, melainkan cerminan nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"521\" data-end=\"690\">Budayawan Kutai, Awang Rifani, menegaskan bahwa nasi bekepor merupakan seni memasak tradisional yang telah dikenal jauh sebelum masyarakat akrab dengan peralatan modern. \u201cNasi bekepor itu adalah tradisi seni memasak orang Kutai zaman dulu. Di dalamnya banyak terkandung simbol-simbol tentang persaudaraan, persatuan, dan ikatan kekeluargaan,\u201d ujar Awang, Senin (16\/06\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"897\" data-end=\"1193\">Tradisi ini memiliki filosofi mendalam yang tercermin dari penggunaan alat memasak khas bernama <em data-start=\"993\" data-end=\"1002\">kenceng<\/em>, sebuah periuk logam yang digunakan oleh setiap keluarga. Menariknya, ukuran <em data-start=\"1080\" data-end=\"1089\">kenceng<\/em> juga menjadi penanda jumlah anggota keluarga yang diberi makan serta mencerminkan status sosial mereka. \u201cSemakin besar kenceng-nya, berarti semakin banyak anggota keluarganya. Itu juga jadi simbol sosial keluarga tersebut,\u201d jelas Awang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1329\" data-end=\"1589\">Teknik memasak nasi bekepor pun unik. Setelah beras dicampur air hingga setengah matang, <em data-start=\"1418\" data-end=\"1427\">kenceng<\/em> dipindahkan dari atas api ke samping bara untuk mencegah gosong. Proses memasak dilanjutkan dengan memutar <em data-start=\"1535\" data-end=\"1544\">kenceng<\/em> secara berkala agar kematangan nasi merata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1591\" data-end=\"1721\">Tingkat keberhasilan dalam memasak nasi bekepor dapat dilihat dari seberapa sedikit kerak nasi yang tertinggal di dasar <em data-start=\"1711\" data-end=\"1720\">kenceng<\/em>. \u201cSemakin sedikit keraknya, berarti si pemasak berhasil. Itu seni dalam memasak nasi bekepor,\u201d tutur Awang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1831\" data-end=\"2159\">Festival Nasi Bekepor yang rutin digelar, seperti yang baru-baru ini diadakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali tradisi ini kepada generasi muda. Namun, Awang berharap pelestarian kuliner ini tak berhenti di lingkungan kampus saja. \u201cHarusnya jangan hanya di Unikarta. Di desa-desa juga perlu dilakukan sebagai bentuk pelestarian kebudayaan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2281\" data-end=\"2495\">Dengan semakin pesatnya arus modernisasi, upaya menjaga dan menghidupkan kembali tradisi memasak nasi bekepor di kampung-kampung menjadi penting, agar generasi masa depan tetap mengenali akar budaya mereka sendiri. [] Admin 02<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TENGGARONG &#8211; Di balik gurihnya rasa nasi bekepor, tersimpan kearifan lokal yang kaya makna bagi masyarakat Kutai di Kalimantan Timur. Hidangan ini bukan sekadar warisan kuliner, melainkan cerminan nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Budayawan Kutai, Awang Rifani, menegaskan bahwa nasi bekepor merupakan seni memasak tradisional yang telah &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":71,"featured_media":111655,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,33],"tags":[1537],"class_list":["post-111652","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-kartanegara","tag-unikarta"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/71"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111652"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":111656,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111652\/revisions\/111656"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111655"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}