{"id":111657,"date":"2025-06-17T16:14:22","date_gmt":"2025-06-17T08:14:22","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=111657"},"modified":"2025-06-17T16:14:22","modified_gmt":"2025-06-17T08:14:22","slug":"pemkot-samarinda-dorong-kerja-sama-regional-air-bersih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pemkot-samarinda-dorong-kerja-sama-regional-air-bersih\/","title":{"rendered":"Pemkot Samarinda Dorong Kerja Sama Regional Air Bersih"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"222\" data-end=\"411\"><strong>SAMARINDA <\/strong>&#8211; Pemerintah Kota Samarinda terus mengupayakan penguatan kolaborasi antar daerah sebagai solusi jangka panjang menghadapi tantangan penyediaan layanan dasar, terutama ketersediaan air bersih.<\/p>\n<p data-start=\"413\" data-end=\"626\">Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menekankan bahwa kerja sama lintas wilayah menjadi pilihan strategis untuk mengatasi krisis air bersih yang masih dihadapi Samarinda serta kota-kota sekitarnya di Kalimantan Timur.<\/p>\n<p data-start=\"628\" data-end=\"882\">Saat ini, komunikasi intensif tengah dijalin antara Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Samarinda bersama Perumdam Kota Balikpapan dan Kota Bontang. Salah satu fokus utama adalah peluang pemanfaatan Sungai Mahakam sebagai sumber air baku bersama. \u201cSekarang kita lagi komunikasi, dua Perumdam ini sudah saling korespondensi, baik Perumdam-nya Balikpapan maupun Bontang,\u201d ujar Andi Harun, Senin (16\/06\/2025).<\/p>\n<p data-start=\"1044\" data-end=\"1286\">Ia menyebut, kebutuhan air baku untuk masa depan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sektoral. Pemanfaatan Sungai Mahakam dinilai sebagai opsi paling rasional dalam memastikan pasokan air bersih jangka panjang bagi tiga daerah tersebut. \u201cKalau Balikpapan maupun Bontang ingin menyelesaikan air bersih jangka panjang ke depan, ya alternatif yang paling rasional adalah sumber bahan bakunya dari Sungai Mahakam,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p data-start=\"1473\" data-end=\"1682\">Saat ini, proses penjajakan sudah memasuki tahap awal penyusunan studi kelayakan (Feasibility Study\/FS). Setelah FS rampung, langkah berikutnya adalah penyiapan perjanjian kerja sama (PKS) formal antar daerah. \u201cSetelah itu nanti baru menuju ke PKS. Dengan senang hati, itu memang yang harus kita kembangkan, yakni kerja sama antar daerah,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p data-start=\"1826\" data-end=\"2066\">Lebih jauh, Andi Harun menegaskan bahwa penguatan kolaborasi lintas wilayah merupakan bagian dari tata kelola pemerintahan yang modern dan adaptif. Menurutnya, tidak ada lagi daerah yang mampu menyelesaikan persoalan secara sendiri-sendiri. \u201cModel manajemen organisasi pemerintahan sekarang tidak ada lagi yang kuat berdiri sendiri. Kita harus terbuka mengembangkan manajemen kerja sama antar daerah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p data-start=\"2239\" data-end=\"2479\">Ia juga mengingatkan pentingnya menghapus ego sektoral demi memperkuat layanan publik. \u201cJadi kita sama-sama membuat penguatan pelayanan publik di berbagai sektor, termasuk pelayanan air bersih. Kita harus hilangkan ego sektoral,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p data-start=\"2481\" data-end=\"2790\">Menurutnya, kerja sama lintas wilayah memberikan banyak keuntungan: proses lebih efisien, lebih cepat, serta pemanfaatan anggaran yang lebih optimal. \u201cTidak ada yang lebih ringan, lebih cepat, lebih efisien apabila kita mengembangkan kerja sama antar daerah. Dan Samarinda juga siap bekerja sama,\u201d pungkasnya. [] Admin 02<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Pemerintah Kota Samarinda terus mengupayakan penguatan kolaborasi antar daerah sebagai solusi jangka panjang menghadapi tantangan penyediaan layanan dasar, terutama ketersediaan air bersih. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menekankan bahwa kerja sama lintas wilayah menjadi pilihan strategis untuk mengatasi krisis air bersih yang masih dihadapi Samarinda serta kota-kota sekitarnya di Kalimantan Timur. Saat ini, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":71,"featured_media":111659,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[9974],"class_list":["post-111657","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-perumdam"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111657","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/71"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111657"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111657\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":111663,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111657\/revisions\/111663"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111657"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111657"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111657"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}