{"id":115133,"date":"2025-02-05T15:33:42","date_gmt":"2025-02-05T07:33:42","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=115133"},"modified":"2025-07-04T00:41:22","modified_gmt":"2025-07-03T16:41:22","slug":"rudy-masud-jalan-rusak-pangan-terhambat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/rudy-masud-jalan-rusak-pangan-terhambat\/","title":{"rendered":"Rudy Mas\u2019ud: Jalan Rusak, Pangan Terhambat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"458\" data-end=\"774\"><strong data-start=\"458\" data-end=\"469\">JAKARTA<\/strong> \u2013 Buruknya kondisi jalan yang menjadi jalur utama distribusi hasil pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai Gubernur Rudy Mas\u2019ud sebagai ancaman serius bagi pencapaian target ketahanan pangan nasional, termasuk upaya menjadikan daerahnya sebagai penyangga kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"776\" data-end=\"1077\">Pernyataan itu disampaikan Rudy dalam pertemuan bersama legislatif dan sejumlah pemangku kebijakan nasional. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak ruas jalan strategis di wilayah Kaltim yang rusak berat dan belum tersentuh pembangunan, bahkan sebagian besar masih bergantung pada jalan milik perusahaan.\u00a0\u201cKondisi jalan kita sangat memprihatinkan. Padahal Kaltim adalah penyumbang terbesar ketiga penerimaan negara dari sektor tambang. Tapi infrastrukturnya tidak sebanding,\u201d tegas Rudy, di Senayan, Jakarta, Selasa (29\/4\/2025) lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1306\" data-end=\"1679\">Menurut Rudy, ketimpangan tersebut mencerminkan ketidakseimbangan antara kontribusi Kaltim terhadap perekonomian nasional dan perhatian pembangunan yang diterima daerah. Ia mencontohkan sejumlah jalur penting yang mengalami kerusakan, seperti akses Mahakam Ulu (Mahulu) menuju perbatasan Malaysia, serta jalan dari Bongan, Kutai Barat (Kubar), menuju Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kalimantan Tengah (Kalteng).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1681\" data-end=\"2005\">Kondisi ini, lanjutnya, bukan hanya menghambat lalu lintas logistik hasil pertanian, tetapi juga menghalangi petani untuk menjangkau pasar, pusat produksi, dan kawasan pertumbuhan baru seperti IKN. Padahal, keberadaan IKN mestinya menjadi peluang besar untuk mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur di daerah sekitar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2007\" data-end=\"2348\">Dalam upayanya mengusulkan solusi konkret, Rudy meminta kepada pemerintah pusat agar pembangunan dan perbaikan jalan penghubung antara sentra pertanian dan kawasan ekonomi utama dijadikan prioritas lintas kementerian. Ia juga menyoroti pentingnya percepatan penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) untuk mendukung pendanaan infrastruktur di daerah.\u00a0\u201cKami berharap sinergi antara pusat dan daerah dapat diperkuat, terutama untuk memaksimalkan potensi Kaltim sebagai penyangga pangan IKN dan nasional,\u201d tambah Rudy.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2518\" data-end=\"2802\">Rudy menegaskan bahwa sektor pertanian tidak akan mampu berkembang jika infrastruktur dasar seperti jalan dan irigasi terus diabaikan. Ia menyebut, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, strategi ketahanan pangan nasional tidak akan berjalan efektif dan hanya akan menjadi wacana.<\/p>\n<p data-start=\"2518\" data-end=\"2802\">Penulis: Rasidah | Penyunting: Rasidah | ADV Diskominfo\u00a0Kaltim<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Buruknya kondisi jalan yang menjadi jalur utama distribusi hasil pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai Gubernur Rudy Mas\u2019ud sebagai ancaman serius bagi pencapaian target ketahanan pangan nasional, termasuk upaya menjadikan daerahnya sebagai penyangga kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pernyataan itu disampaikan Rudy dalam pertemuan bersama legislatif dan sejumlah pemangku kebijakan nasional. Ia &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":115136,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6873],"tags":[2744,4539,6093],"class_list":["post-115133","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dinas-komunikasi-dan-informatika-kaltim","tag-jalan","tag-pangan","tag-rusak"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115133"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115133\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":118659,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115133\/revisions\/118659"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/115136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}