{"id":116008,"date":"2025-06-28T13:28:10","date_gmt":"2025-06-28T05:28:10","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=116008"},"modified":"2025-06-28T13:28:10","modified_gmt":"2025-06-28T05:28:10","slug":"autopsi-ungkap-pendaki-brasil-di-rinjani-tewas-karena-benturan-keras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/autopsi-ungkap-pendaki-brasil-di-rinjani-tewas-karena-benturan-keras\/","title":{"rendered":"Autopsi Ungkap Pendaki Brasil di Rinjani Tewas karena Benturan Keras"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"344\" data-end=\"685\"><strong>NUSA TENGGARA BARAT \u2013<\/strong> Hasil autopsi terhadap jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang terjatuh di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan bahwa korban meninggal sekitar 20 menit setelah mengalami kecelakaan. Penyebab kematiannya diketahui bukan karena suhu dingin atau kelaparan, melainkan akibat benturan keras di tubuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"687\" data-end=\"970\">Dokter Spesialis Forensik dari Rumah Sakit Bali Mandara, Ida Bagus Putu Alit, dalam keterangan pers pada Jumat (27\/6), menyampaikan bahwa luka paling parah yang ditemukan berada di bagian dada, khususnya bagian belakang, yang diduga akibat hantaman benda tumpul saat korban terjatuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"972\" data-end=\"1206\">\u201cJadi kalau kita lihat yang paling terparah, itu adalah yang berhubungan dengan pernapasan. Yaitu ada luka-luka terutama di dada-dada, terutama di dada-dada bagian belakang tubuhnya. Itu yang merusak organ-organ di dalamnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1208\" data-end=\"1452\">Selain luka berat pada bagian dada, tim medis juga mencatat adanya luka lecet akibat gesekan di sekujur tubuh Juliana. Luka-luka tersebut tampak di bagian punggung serta pada anggota gerak atas dan bawah. Cedera juga ditemukan di bagian kepala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1454\" data-end=\"1612\">\u201cJadi kalau kita perkirakan paling lama 20 menit. Tidak ada bukti yang kita dapatkan bahwa korban ini meninggal dalam waktu yang lama dari lukanya,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1614\" data-end=\"1788\">Dugaan sebelumnya bahwa korban meninggal akibat hipotermia telah dibantah melalui hasil autopsi. Menurut Alit, tidak ditemukan ciri khas luka yang mengindikasikan hipotermia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1790\" data-end=\"2078\">\u201cTanda-tanda adanya hipotermia itu luka-luka yang ditimbulkan dari hipotermia tidak ada. Jadi luka-luka yang ditimbulkan oleh hipotermia itu adalah luka pada ujung-ujung jari. Jadi lukanya berwarna hitam, ini tidak ada luka. Berarti bisa kita katakan bahwa tidak ada hipotermia,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2080\" data-end=\"2353\">Lebih lanjut, Alit juga menegaskan bahwa korban tidak meninggal karena kekurangan nutrisi atau cairan setelah terjatuh. Berdasarkan temuan forensik, faktor utama yang menyebabkan kematian adalah trauma akibat benturan keras yang mengakibatkan pendarahan dalam jumlah besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2355\" data-end=\"2608\">\u201cKalau kita lihat penyebabnya yang langsung itu pasti kekerasan. Jadi kita juga melihat adanya pendarahan yang memang jumlahnya sudah begitu besar dalam rongga tubuhnya. Jadi yang menyebabkan langsung itu adalah kekerasannya, jadi benturannya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2610\" data-end=\"2907\">Juliana Marins mengalami kecelakaan saat mendaki bersama sejumlah rekannya pada Sabtu (21\/6). Jenazahnya ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Senin pagi (23\/6) sekitar pukul 07.05 WITA, dalam posisi bergeser sekitar 500 meter dari titik awal jatuh, di medan yang cukup sulit berupa batu dan pasir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2909\" data-end=\"3179\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Peristiwa ini sempat menyita perhatian warganet Brasil. Sejumlah pengguna media sosial dari negara asal korban menyoroti proses evakuasi yang dianggap lambat, serta mempertanyakan ketanggapan otoritas Indonesia dalam penanganan insiden di kawasan wisata alam tersebut.[]\n<p data-start=\"2909\" data-end=\"3179\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NUSA TENGGARA BARAT \u2013 Hasil autopsi terhadap jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang terjatuh di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan bahwa korban meninggal sekitar 20 menit setelah mengalami kecelakaan. Penyebab kematiannya diketahui bukan karena suhu dingin atau kelaparan, melainkan akibat benturan keras di tubuh. Dokter Spesialis Forensik dari Rumah Sakit Bali &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":116011,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[35],"tags":[],"class_list":["post-116008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116008"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116008\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":116012,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116008\/revisions\/116012"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}