{"id":118134,"date":"2025-07-03T08:50:17","date_gmt":"2025-07-03T00:50:17","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=118134"},"modified":"2025-07-03T08:50:17","modified_gmt":"2025-07-03T00:50:17","slug":"tradisi-besurung-saprah-warnai-pekan-budaya-melayu-singkawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/tradisi-besurung-saprah-warnai-pekan-budaya-melayu-singkawang\/","title":{"rendered":"Tradisi Besurung Saprah Warnai Pekan Budaya Melayu Singkawang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"301\" data-end=\"781\"><strong>SINGKAWANG &#8211;<\/strong> Pekan Kebudayaan Melayu Singkawang (PKMS) kembali menjadi panggung pelestarian budaya di tengah masyarakat majemuk. Pada Selasa (1\/7\/2025), tradisi besurung saprah atau makan bersama digelar di Rumah Adat Melayu Singkawang sebagai bagian dari perayaan PKMS sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Kegiatan ini diikuti 43 tim yang duduk beralaskan tikar, menyantap hidangan secara bersama dalam satu alas, menandakan ajaran kesetaraan yang diwariskan oleh budaya Melayu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"783\" data-end=\"1211\">Ketua DPD Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Singkawang, Asmadi, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar seremoni kebudayaan, melainkan juga sebagai sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah lama menjadi pegangan masyarakat Melayu. \u201cDalam besaprah ini, semua duduk sama rendah, makan bersama-sama tanpa memandang status sosial. Inilah ajaran leluhur Melayu yang perlu kita hidupkan kembali,\u201d kata Asmadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1213\" data-end=\"1520\">Hidangan yang disajikan pun mencerminkan kesederhanaan yang sarat makna, seperti daging, ayam, telur, acar, nasi, dan air serbat. Menurut Asmadi, sajian tersebut tidak hanya sekadar pelengkap acara, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Melayu sejak dulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1522\" data-end=\"2024\">Lebih dari sekadar ruang berkumpul, besurung saprah juga menjadi media silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga. Tradisi ini dianggap penting sebagai bagian dari upaya membangun pemahaman lintas generasi mengenai warisan budaya. Asmadi menganggap pelestarian ini perlu terus ditanamkan kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar tradisinya. \u201cMelalui PKMS, kita menggali kembali budaya Melayu sebagai khazanah bangsa yang memberi kontribusi bagi penguatan kebudayaan nasional,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2026\" data-end=\"2349\">Melihat antusiasme peserta dan masyarakat, MABM Singkawang berencana menambah cabang perlombaan dalam PKMS pada tahun berikutnya. Cabang yang akan diikutsertakan meliputi pangka\u2019 gasing, silat, dan aluk galing. Asmadi menyebut, kegiatan ini diharapkan membuka ruang ekspresi yang lebih luas bagi warga Melayu di Singkawang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2351\" data-end=\"2626\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Di tengah perubahan zaman dan arus budaya global, Asmadi menekankan pentingnya menjadikan Rumah Melayu sebagai pusat kegiatan kebudayaan. \u201cKami ingin Rumah Melayu tetap menjadi tempat kita berkumpul, ngamping bersama, menjaga budaya leluhur agar tetap lestari,\u201d tutur Asmadi.[]\n<p data-start=\"2351\" data-end=\"2626\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SINGKAWANG &#8211; Pekan Kebudayaan Melayu Singkawang (PKMS) kembali menjadi panggung pelestarian budaya di tengah masyarakat majemuk. Pada Selasa (1\/7\/2025), tradisi besurung saprah atau makan bersama digelar di Rumah Adat Melayu Singkawang sebagai bagian dari perayaan PKMS sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Kegiatan ini diikuti 43 tim yang duduk beralaskan tikar, menyantap hidangan secara &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":118136,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2273,39],"tags":[],"class_list":["post-118134","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kota-singkawang-provinsi-kalimantan-barat-kalbar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118134","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118134"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118134\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":118137,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118134\/revisions\/118137"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118134"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118134"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118134"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}