{"id":1189,"date":"2014-05-31T05:23:03","date_gmt":"2014-05-30T21:23:03","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=1189"},"modified":"2022-10-15T12:33:32","modified_gmt":"2022-10-15T12:33:32","slug":"sperma-berusia-17-juta-tahun-ditemukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sperma-berusia-17-juta-tahun-ditemukan\/","title":{"rendered":"Sperma Berusia 17 Juta Tahun Ditemukan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sperma berusia 17 juta tahun ditemukan dalam kondisi sangat baik di Australia, ungkap sejumlah ilmuwan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sperma yang berasal dari spesies udang purba itu ditemukan di situs fosil Riversleigh, sebuah kawasan sebelah utara Negara Bagian Queensland.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di lokasi tersebut memang kerap ditemukan fosil-fosil hewan prasejarah, termasuk platypus raksasa dan kanguru pemakan daging.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mike Archer, ilmuwan Fakultas Biologi dan Lingkungan Universitas New South Wales yang telah menggali di Riversleigh selama 35 tahun, mengatakan penemuan sperma berusia 17 juta tahun itu amat luar biasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSperma yang kini telah menjadi fosil itu termasuk yang tertua dalam catatan geologi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Archer mengaku sangat takjub dengan penemuan itu. Sebab, sperma itu utuh berada di dalam organ seksual udang purba yang dikenal dengan sebutan ostracod.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTemuan seperti ini sungguh tak terduga. Kini kami bertanya-tanya fosil macam apa lagi yang bisa ditemukan di dalam tanah di lokasi ini,\u201d kata Archer.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para peneliti pimpinan Archer, yang memublikasikan temuan mereka dalam jurnal Proceedings of the Royal Society, memperkirakan fosil sperma itu berukuran 1,3 milimeter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan kajian Archer dan timnya, lokasi tempat fosil sperma udang ditemukan 17 juta tahun lalu merupakan gua di tengah hutan tadah hujan yang kaya akan keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOstracod hidup nyaman di genangan air dalam gua yang diperkaya kotoran ribuan kelelawar,\u201d ujar Archer.<br \/>\nKolega Archer dari Universitas New South Wales, Suzanne Hand, mengatakan kotoran kelelawar amat mungkin meningkatkan kadar fosfor dalam genangan air. Hal itu membantu proses mineralisasi organ-organ lunak pada fosil.<\/p>\n<p>\u201cDengan demikian, kunci pengawetan organ-organ lunak boleh jadi ialah kandungan dalam kotoran kelelawar,\u201d pungkas Hand. [] RedHP\/BBC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sperma berusia 17 juta tahun ditemukan dalam kondisi sangat baik di Australia, ungkap sejumlah ilmuwan. Sperma yang berasal dari spesies udang purba itu ditemukan di situs fosil Riversleigh, sebuah kawasan sebelah utara Negara Bagian Queensland. Di lokasi tersebut memang kerap ditemukan fosil-fosil hewan prasejarah, termasuk platypus raksasa dan kanguru pemakan daging. Mike Archer, ilmuwan Fakultas &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1190,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2254],"tags":[],"class_list":["post-1189","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1189","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1189"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1189\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21747,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1189\/revisions\/21747"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1189"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1189"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1189"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}