{"id":11925,"date":"2015-08-24T21:56:52","date_gmt":"2015-08-24T13:56:52","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.com\/?p=11925"},"modified":"2015-08-24T21:56:52","modified_gmt":"2015-08-24T13:56:52","slug":"cina-bantai-hewan-untuk-eksperimen-kimia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/cina-bantai-hewan-untuk-eksperimen-kimia\/","title":{"rendered":"Cina Bantai Hewan Untuk Eksperimen Kimia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/bantai-hewan1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11926 aligncenter\" src=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/bantai-hewan1.jpg\" alt=\"bantai hewan1\" width=\"650\" height=\"366\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>CINA<\/strong> &#8211; Pemerintah Cina menuai kecaman dari pengguna sosial media setelah terungkap metode pengujian pencemaran di Tianjin yang dinilai menyiksa binatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diberitakan CNN, Senin (24\/8), hal ini terungkap dalam sebuah gambar di Twitter media China, People&#8217;s Daily, Akhir pekan lalu. Dalam foto itu terlihat hewan seperti kelinci, ayam dan merpati yang diletakkan di dalam kandang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hewan-hewan itu didatangkan ke lokasi ledakan di Tianjin yang menewaskan ratusan orang, untuk menguji apakah ada pencemaran udara atau tanah akibat bahan kimia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gambar ini muncul setelah sebelumnya pekan lalu diberitakan ribuan ikan mati di sungai Tianjin, dikhawatirkan karena polusi bahan kimia setelah ledakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Seharusnya menyeret orang yang bertanggung jawab ke tempat itu,&#8221; kata seorang pengguna Weibo, media sosial serupa Twitter di China, mengecam penggunaan hewan di Tianjin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebanyakan netizen mengutuk cara yang dianggap tidak manusiawi itu. Beberapa lainnya mempertanyakan apakah cara itu benar-benar ampuh membuktikan adanya polusi kimia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa mengatakan, cara ini adalah salah satu langkah putus asa pemerintah dalam membuktikan penyebab ledakan dan mencari siapa yang bertanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kepala abnormal seukuran boneka atau desa kanker tidak akan muncul dalam semalam,&#8221; kata pengguna Weibo lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu korban tewas akibat ledakan Tianjin 12 Agustus lalu bertambah menjadi 123 orang. Sebanyak 70 di antara korban adalah pemadam kebakaran dan tujuh polisi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/twitter.com\/PDChina\/status\/634957281159983104\/photo\/1?ref_src=twsrctfw\">https:\/\/twitter.com\/PDChina\/status\/634957281159983104\/photo\/1?ref_src=twsrctfw<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebanyak 50 orang masih dilaporkan hilang. Lebih dari 600 lainnya masih dirawat di rumah sakit, 44 di antaranya dalam keadaan kritis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih dari 17 ribu rumah hancur, 170 perusahaan terdampak dan 3.000 mobil terbakar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ledakan tersebut terjadi di gudang yang memuat bahan kimia berbahaya, salah satunya adalah sodium sianida. Pasca ledakan, kandungan sianida di Tianjin dilaporkan ratusan kali lipat dibanding ambang batas normal. [] CI<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CINA &#8211; Pemerintah Cina menuai kecaman dari pengguna sosial media setelah terungkap metode pengujian pencemaran di Tianjin yang dinilai menyiksa binatang. Diberitakan CNN, Senin (24\/8), hal ini terungkap dalam sebuah gambar di Twitter media China, People&#8217;s Daily, Akhir pekan lalu. Dalam foto itu terlihat hewan seperti kelinci, ayam dan merpati yang diletakkan di dalam kandang. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11926,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2254],"tags":[],"class_list":["post-11925","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11925","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11925"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11925\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11925"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11925"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11925"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}