{"id":120289,"date":"2025-06-26T14:02:26","date_gmt":"2025-06-26T06:02:26","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=120289"},"modified":"2025-08-28T13:31:27","modified_gmt":"2025-08-28T05:31:27","slug":"museum-kayu-kukar-edukasi-generasi-muda-jaga-warisan-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/museum-kayu-kukar-edukasi-generasi-muda-jaga-warisan-budaya\/","title":{"rendered":"Museum Kayu Kukar Edukasi Generasi Muda Jaga Warisan Budaya"},"content":{"rendered":"<article class=\"text-token-text-primary w-full\" dir=\"auto\" data-testid=\"conversation-turn-24\" data-scroll-anchor=\"true\">\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto py-5 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @[37rem]:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @[72rem]:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:32rem] @[34rem]:[--thread-content-max-width:40rem] @[64rem]:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto flex max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 text-base gap-4 md:gap-5 lg:gap-6 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"group\/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\">\n<div class=\"relative flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"932ce467-7b67-4488-b777-983f86e092ac\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full break-words dark\">\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"386\" data-end=\"816\"><strong>KUTAI KARTANEGARA \u2014<\/strong> Di tengah tantangan kerusakan hutan dan tergerusnya warisan budaya, Museum Kayu Tuah Himba hadir sebagai pengingat sekaligus ruang edukasi yang memberi makna lintas generasi. Terletak di kawasan strategis Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), museum ini tak sekadar menyimpan koleksi kayu dan alat tradisional, tetapi juga menanamkan kesadaran pentingnya konservasi alam dan pelestarian budaya lokal sejak dini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"818\" data-end=\"1195\">Sebagai salah satu unit edukasi di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Museum Kayu Tuah Himba rutin dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa. Lewat pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung, generasi muda diajak untuk memahami peran penting hutan dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Timur, sekaligus menjaga identitas budaya yang melekat padanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1197\" data-end=\"1577\">Pamong Budaya Ahli Muda Cagar Budaya dan Permuseuman Disdikbud Kukar, M. Saidar, menyampaikan bahwa museum ini memiliki kekuatan besar sebagai tempat belajar di luar kelas. \u201cMuseum ini menyajikan informasi tentang jenis-jenis kayu khas Kalimantan, sejarah kehutanan, serta berbagai warisan budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat lokal,\u201d ujarnya, Rabu (25\/06\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1579\" data-end=\"1896\">Museum tersebut menyimpan koleksi kayu unggulan seperti ulin, bengkirai, dan meranti, serta alat-alat tradisional yang dahulu digunakan masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan secara lestari. Koleksi tersebut turut dilengkapi dengan dokumentasi sejarah kehutanan dan kebijakan pelestarian hutan di Kalimantan Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1898\" data-end=\"2069\">\u201cDengan melihat langsung benda-benda koleksi museum, mereka bisa lebih memahami pentingnya menjaga hutan serta mengenali identitas budaya daerahnya sendiri,\u201d imbuh Saidar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2071\" data-end=\"2379\">Program-program edukatif seperti workshop kerajinan kayu, pemutaran film dokumenter, hingga kunjungan terpandu menjadi medium efektif untuk menanamkan nilai konservasi secara konkret. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membangun kepedulian peserta terhadap warisan alam dan budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2381\" data-end=\"2616\">\u201cHarapan kami, Museum Kayu Tuah Himba bisa menjadi jendela pengetahuan bagi pelajar dan generasi muda Kukar. Ini juga bagian dari upaya kita melestarikan budaya lokal sekaligus mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan,\u201d lanjut Saidar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2618\" data-end=\"2880\">Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar juga aktif berkoordinasi dengan sekolah agar kunjungan ke museum menjadi bagian dari Kurikulum Merdeka Belajar. Sejumlah sekolah telah menjadikannya agenda tetap sebagai bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2882\" data-end=\"3146\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Seiring meningkatnya kesadaran pelajar terhadap pentingnya menjaga hutan dan budaya, Museum Kayu Tuah Himba berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat wisata. Ia menjelma menjadi ruang belajar hidup yang menjaga koneksi antara alam, budaya, dan masa depan Kukar.[] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2882\" data-end=\"3146\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Rasidah<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2014 Di tengah tantangan kerusakan hutan dan tergerusnya warisan budaya, Museum Kayu Tuah Himba hadir sebagai pengingat sekaligus ruang edukasi yang memberi makna lintas generasi. Terletak di kawasan strategis Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), museum ini tak sekadar menyimpan koleksi kayu dan alat tradisional, tetapi juga menanamkan kesadaran pentingnya konservasi alam dan pelestarian budaya &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":44,"featured_media":120291,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,8741],"tags":[6906,11099],"class_list":["post-120289","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-disdikbud-kukar","tag-disdikbud-kukar","tag-museum-kayu-tuah-himba"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/44"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120289"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120289\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":120574,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120289\/revisions\/120574"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/120291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}