{"id":121493,"date":"2025-06-11T18:23:47","date_gmt":"2025-06-11T10:23:47","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=121493"},"modified":"2025-07-17T15:50:54","modified_gmt":"2025-07-17T07:50:54","slug":"eksplorasi-wisata-alam-bukit-biru-dan-embung-jadi-primadona","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/eksplorasi-wisata-alam-bukit-biru-dan-embung-jadi-primadona\/","title":{"rendered":"Eksplorasi Wisata Alam: Bukit Biru dan Embung Jadi Primadona"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"297\" data-end=\"700\"><strong data-start=\"297\" data-end=\"314\">KUTAI KARTANEGARA \u2014<\/strong> Pengembangan sektor pariwisata di Kutai Kartanegara tak hanya bergantung pada pesona destinasi alamnya, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan potensi lokal. Hal itu tercermin dari inisiatif warga Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, yang berhasil mengangkat dua lokasi andalan mereka Puncak Bukit Biru dan Embung sebagai magnet wisata alam yang menjanjikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"702\" data-end=\"1103\">Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Arum, Dedi, menjelaskan bahwa kawasan Bukit Biru terus berkembang sebagai tujuan trekking dan wisata alam karena panorama alamnya yang masih sangat terjaga. \u201cBukit Biru memberikan pengalaman mendaki dengan lanskap yang luar biasa. Dari atas bukit, wisatawan bisa melihat hamparan hutan Kalimantan yang masih sangat alami,\u201d ungkap Dedi, Selasa (10\/06\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1105\" data-end=\"1425\">Tak hanya menawarkan keindahan puncak bukit, desa ini juga memanfaatkan keberadaan Embung danau buatan yang awalnya dibangun sebagai sarana irigasi untuk kegiatan rekreasi dan edukasi. Lokasi ini kini menjadi tempat favorit bagi keluarga dan pelajar untuk menikmati keheningan alam sambil belajar tentang konservasi air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1427\" data-end=\"1763\">Keunggulan geografis menjadi nilai tambah. Desa Sumber Sari hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Tenggarong. Akses jalan yang baik turut memudahkan wisatawan mengunjungi lokasi tersebut. \u201cFasilitas dasar seperti lahan parkir, camping ground, toilet umum, hingga warung makanan sudah mulai dikembangkan warga,\u201d jelas Dedi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1765\" data-end=\"2076\">Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan fasilitas tersebut telah menciptakan peluang ekonomi baru yang memberi manfaat langsung bagi warga desa. Selain itu, kerja sama yang dijalin dengan Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara (Dispar Kukar) turut mendorong percepatan pembangunan sektor wisata lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2078\" data-end=\"2495\">Tak hanya berhenti pada infrastruktur, Pokdarwis juga menginisiasi pelatihan pemandu wisata berbasis lingkungan. Langkah ini bertujuan memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi pengunjung sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam. \u201cKami tidak ingin pariwisata berkembang tapi meninggalkan sampah dan kerusakan alam. Maka dari itu, kami ajak masyarakat untuk sama-sama menjaga,\u201d tegas Dedi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2497\" data-end=\"2836\">Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Kukar, Ridha Patrianta, memberikan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. \u201cKami melihat potensi besar di desa ini. Keunikan lanskapnya, semangat komunitas, dan keseriusan mereka menjaga kelestarian lingkungan menjadi kombinasi ideal untuk pengembangan wisata berkelanjutan,\u201d kata Ridha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2838\" data-end=\"3028\">Ia menambahkan, Dispar Kukar berkomitmen membantu dari sisi promosi digital dan pembangunan sarana pendukung, agar Sumber Sari dikenal lebih luas, terutama di luar wilayah Kutai Kartanegara. Dengan pendekatan kolaboratif serta kesadaran lingkungan yang tinggi, Desa Sumber Sari kini menunjukkan bahwa pengembangan wisata berbasis masyarakat mampu menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, baik bagi lingkungan maupun perekonomian desa.[] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3030\" data-end=\"3281\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2014 Pengembangan sektor pariwisata di Kutai Kartanegara tak hanya bergantung pada pesona destinasi alamnya, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan potensi lokal. Hal itu tercermin dari inisiatif warga Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, yang berhasil mengangkat dua lokasi andalan mereka Puncak Bukit Biru dan Embung sebagai magnet wisata alam yang &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":121495,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,9391],"tags":[10524,6905],"class_list":["post-121493","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dinas-pariwisata-kutai-kartanegara","tag-bukit-biru","tag-dispar-kukar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121493","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121493"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121493\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":122836,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121493\/revisions\/122836"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/121495"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121493"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121493"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121493"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}