{"id":121977,"date":"2025-06-08T14:36:46","date_gmt":"2025-06-08T06:36:46","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=121977"},"modified":"2025-07-15T15:00:28","modified_gmt":"2025-07-15T07:00:28","slug":"pesan-sosial-sinduru-gema-di-road-to-ebiff-tenggarong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pesan-sosial-sinduru-gema-di-road-to-ebiff-tenggarong\/","title":{"rendered":"Pesan Sosial Sinduru Gema di Road to EBIFF Tenggarong"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"379\" data-end=\"815\"><strong data-start=\"379\" data-end=\"402\">KUTAI KARTANEGARA \u2014<\/strong> Dari perhuluan Sungai Mahakam, Sanggar Seni Sinduru Indonesia membawa pesan sosial yang menggugah melalui panggung kurasi Road to East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025 di Simpang Odah Etam, Tenggarong. Keberanian mereka menampilkan karya berjudul Mak Juja menjadi sorotan, tidak hanya karena kekuatan artistiknya, tetapi juga karena pesan moral yang disampaikan melalui gerak dan ekspresi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"817\" data-end=\"1206\">Tarian Mak Juja bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan cerminan kondisi sosial yang akrab dengan kehidupan masyarakat: provokasi, adu domba, dan rusaknya tatanan sosial akibat perilaku tidak bertanggung jawab. Kritik ini dikemas dalam koreografi yang kuat dan simbolis, menciptakan daya tarik tersendiri di antara penampilan sanggar lain pada malam kurasi pertama, Sabtu (07\/06\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1208\" data-end=\"1404\">&#8220;Mak Juja itu istilah orang tua zaman dulu. Biasanya digunakan untuk menyindir seseorang yang suka membuat keributan, merusak keharmonisan,&#8221; jelas pelatih Sanggar Sinduru, Fitra, usai pertunjukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1406\" data-end=\"1728\">Tarian tersebut sebelumnya telah mewakili Kalimantan Timur dalam ajang Internasional Mask Festival di Solo. Fitra menyebut, dukungan dari Dinas Pariwisata kala itu sangat berarti. \u201cKami bersyukur, tahun lalu tarian ini bisa tampil di ajang nasional. Saat itu kami difasilitasi langsung oleh Dinas Pariwisata,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1730\" data-end=\"2069\">Namun, penampilan kali ini menghadapi tantangan. Karena bertepatan dengan hari kedua Lebaran, hanya lima dari delapan penari yang dapat hadir. \u201cBeberapa tidak bisa hadir karena ada acara keluarga, jadi kami maksimalkan dengan lima orang,\u201d ujar Fitra. Meski begitu, kekompakan dan kekuatan pesan tetap terjaga dalam komposisi yang terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2071\" data-end=\"2314\">Fitra juga mengapresiasi konsep audisi terbuka dalam kurasi EBIFF tahun ini. &#8220;Kalau dulu, seolah-olah yang mewakili sudah ditentukan. Tapi sekarang lebih terbuka. Semua sanggar, baik dari kota maupun pelosok, punya peluang yang sama,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2316\" data-end=\"2693\">Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kukar, Zikri Umulda, yang hadir sebagai juri, menilai bahwa tarian Mak Juja mencerminkan keberanian dalam memadukan seni dan kritik sosial. \u201cTarian ini unik, bukan hanya menggugah secara artistik, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang relevan. Ini bukti bahwa seni bisa menjadi alat komunikasi sosial yang efektif,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2695\" data-end=\"2937\">Zikri menekankan pentingnya memberikan ruang kepada pelaku seni dari wilayah-wilayah perbatasan dan pedalaman. \u201cKami sangat terbuka untuk semua komunitas. Justru keberagaman dari hulu inilah yang memperkaya kekayaan budaya Kukar,\u201d sambungnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2939\" data-end=\"3163\">Ia juga menggarisbawahi pentingnya pemerataan informasi agar potensi dari seluruh kecamatan dapat tersalurkan. &#8220;Kukar punya 20 kecamatan. Potensi seninya luar biasa, hanya perlu dibuka akses dan diberi kesempatan,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3165\" data-end=\"3362\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Kehadiran Sanggar Sinduru di panggung EBIFF membuktikan bahwa potensi seni tidak hanya lahir dari pusat kota, tetapi juga tumbuh subur di daerah perhuluan yang kaya akan nilai dan semangat lokal. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p data-start=\"3165\" data-end=\"3362\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2014 Dari perhuluan Sungai Mahakam, Sanggar Seni Sinduru Indonesia membawa pesan sosial yang menggugah melalui panggung kurasi Road to East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025 di Simpang Odah Etam, Tenggarong. Keberanian mereka menampilkan karya berjudul Mak Juja menjadi sorotan, tidak hanya karena kekuatan artistiknya, tetapi juga karena pesan moral yang disampaikan melalui &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":121979,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,9391],"tags":[6905,10585],"class_list":["post-121977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dinas-pariwisata-kutai-kartanegara","tag-dispar-kukar","tag-east-borneo-international-folklore-festival-ebiff-2025"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121977"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":122829,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121977\/revisions\/122829"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/121979"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}