{"id":12369,"date":"2015-09-12T07:35:48","date_gmt":"2015-09-11T23:35:48","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.com\/?p=12369"},"modified":"2015-09-12T07:35:48","modified_gmt":"2015-09-11T23:35:48","slug":"kasus-bunuh-diri-paling-banyak-terjadi-di-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kasus-bunuh-diri-paling-banyak-terjadi-di-asia-tenggara\/","title":{"rendered":"Kasus Bunuh Diri Paling Banyak Terjadi di Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/bunuh-diri.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-12370 aligncenter\" src=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/bunuh-diri.jpg\" alt=\"bunuh diri\" width=\"640\" height=\"378\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\"><strong>DATA<\/strong> terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap 40 detik, ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Rasio mereka yang bunuh diri ini 11,4 per 100 ribu orang. Namun untuk di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2012, angka bunuh diri 4,3 per 100 ribu orang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">&#8220;Setiap satu orang meninggal bunuh diri, muncul lebih dari 20 percobaan bunuh diri lainnya,\u201d kata Priska Primastuti, konsultan kesehatan jiwa WHO perwakilan Indonesia di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Jumat (11\/9).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Asia Tenggara menyumbang sekitar 39 persen dari seluruh kasus bunuh diri di dunia. Khusus di Indonesia, kasus bunuh diri tertinggi ialah dengan meminum racun atau gantung diri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cBeberapa orang mencoba bunuh diri dengan cara menyakiti diri sendiri, seperti terjun dari ketinggian tertentu,\u201d ujar Priska.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Ia meminta masyarakat menaruh perhatian khusus pada kasus-kasus bunuh diri, termasuk gejala-gejalanya. Menurut Priska, sesungguhnya tanda-tanda bunuh diri bisa dikenali dan dicegah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Sementara Albert Maramis dari Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia meminta pemerintah tak lagi memandang sebelah mata kasus-kasus bunuh diri. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cAngka 4,3 per 100 ribu di Indonesia mungkin terkesan kecil. Namun ini mengalami peningkatan. Pada tahun-tahun sebelumnya, angkanya hanya sekitar 1,6 per 100 ribu orang,\u201d kata pria lulusan Universitas Airlangga Surabaya itu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Albert menilai drama dan sinetron turut menjadi penyebab kasus-kasus bunuh diri di Asia. \u201cAkibatnya mereka bertindak tanpa berpikir lebih dulu,\u201d kata dia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\"><strong><em>Hotline<\/em> &#8216;pencegah bunuh diri&#8217;<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Menanggapi permintaan agar pemerintah merespons serius kasus bunuh diri, Direktur Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Eka Viora menyatakan pihaknya telah membuat layanan <em>hotline<\/em> kesehatan jiwa 500-454.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Lewat sambungan telepon ke nomor itu, masyarakat bebas mengutarakan keluh kesah dan segala masalah yang membebani mereka. <em>Hotline<\/em> itu, kata Eka, telah diumumkan sejak 2010. Tujuannya agar orang-orang yang dirundung masalah berat dapat berkonsultasi kepada orang yang tepat sehingga mencegah kemungkinan bunuh diri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cNamun tidak pernah ada penelepon yang memanfaatkan layanan ini untuk konsultasi. Masyarakat yang menelepon malah tanya informasi seputar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial,\u201d kata Eka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Menurutnya, masyarakat belum terbiasa berkonsultasi kepada para ahli. Sebagian besar orang yang berniat bunuh diri lebih memilih diam dan memendam masalahnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cDalam regulasi telah disebutkan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) juga harus bisa menangani masalah kesehatan jiwa. Namun nyatanya kapasitas tenaga medis di tiap FKTP berbeda-beda,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Eka menilai FKTP seharusnya bisa menjadi tempat konsultasi pertama orang-orang yang dirundung depresi. Oleh sebab itu pelatihan sangat penting agar tenaga medis benar-benar punya kemampuan mengatasi masalah depresi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">\u201cTiap tahun dana pelatihan tenaga medis dari Kemenkes mengalir ke provinsi. Oleh sebab itu tugas melatih tenaga medis ada di tangan provinsi,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Berdasarkan data WHO tahun 2015, bunuh diri di banyak negara merupakan penyebab kematian nomor dua untuk penduduk kelompok usia 15 hingga 29 tahun. Setiap tahun tercatat ada 800 ribu orang tewas bunuh diri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Tahoma,Geneva,sans-serif; font-size: 12pt;\">Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pun diperingati tiap 10 September. Tahun ini peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri yang jatuh kemarin mengambil tema \u2018Mengulurkan Tangan dan Menyelamatkan Jiwa.\u2019 [] CI<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DATA terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap 40 detik, ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Rasio mereka yang bunuh diri ini 11,4 per 100 ribu orang. Namun untuk di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2012, angka bunuh diri 4,3 per 100 ribu orang. &#8220;Setiap satu orang meninggal bunuh diri, muncul lebih &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12370,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1],"tags":[739,4084],"class_list":["post-12369","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-serba-serbi","tag-bunuh-diri","tag-kasus-bunuh-diri"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12369"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12369\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}