{"id":124072,"date":"2025-07-21T10:24:22","date_gmt":"2025-07-21T02:24:22","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=124072"},"modified":"2025-07-21T10:24:22","modified_gmt":"2025-07-21T02:24:22","slug":"data-mahasiswa-ubt-diduga-bocor-teror-telepon-misterius-marak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/data-mahasiswa-ubt-diduga-bocor-teror-telepon-misterius-marak\/","title":{"rendered":"Data Mahasiswa UBT Diduga Bocor, Teror Telepon Misterius Marak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"326\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"13\">TARAKAN &#8211;<\/strong> Sejumlah mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengungkapkan keresahan mereka usai menerima panggilan dari nomor tidak dikenal pada Minggu (20\/07\/2025). Panggilan tersebut datang secara acak dan intens, sebagian besar dari nomor yang berawalan 0818, menimbulkan dugaan adanya kebocoran data pribadi mahasiswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"328\" data-end=\"616\">Informasi yang beredar menyebutkan bahwa beberapa mahasiswa dari berbagai jurusan telah melaporkan kejadian serupa. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan sistem akademik kampus mengalami peretasan yang mengakibatkan data pribadi mahasiswa bocor ke pihak yang tidak bertanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"618\" data-end=\"1024\">Salah satu korban, Nurul Ain Syafika, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), menyampaikan bahwa dirinya menerima panggilan dari nomor 081826406121 pada pukul 11.14 WITA. Ia merasa terkejut karena penelepon tidak hanya mengetahui namanya, tetapi juga alamat lengkapnya di Sebatik. Lebih mencemaskan, penelepon itu menyampaikan ancaman akan datang ke rumah jika permintaannya tidak dipenuhi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1026\" data-end=\"1171\">\u201cDia tahu nama lengkap saya dan bilang kalau identitas saya disalahgunakan. Dia suruh saya ke Polda,\u201d jelasnya kepada media, Minggu (20\/07\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1173\" data-end=\"1403\">Kasus serupa dialami pula oleh Indah Lestari dari Fakultas Pertanian. Dalam satu hari, ia menerima panggilan dari tiga nomor berbeda: 081882036527 pukul 10.52 WITA, 081881912455 pukul 15.17 WITA, dan 081842633120 pukul 17.44 WITA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1405\" data-end=\"1501\">\u201cSaya sempat angkat satu kali, tapi tidak ada suara. Langsung saya tutup karena takut,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1503\" data-end=\"1723\">Miftakhul Jannah, mahasiswi Fakultas Kesehatan, mengaku mendapat enam panggilan dari nomor asing yang sama-sama berawalan 0818. Meskipun tidak dijawab, ia merasa cemas akibat frekuensi panggilan yang tinggi dan beruntun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1725\" data-end=\"1925\">\u201cSaya tidak angkat karena curiga. Tapi jumlahnya banyak dan beruntun,\u201d ujarnya. Nomor-nomor tersebut antara lain 081891558235, 081875681488, 081804714215, 081810261948, 081823446954, dan 081814295617.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1927\" data-end=\"2232\">Sejumlah pesan yang diteruskan di kalangan mahasiswa juga menunjukkan bahwa penelepon memiliki informasi sensitif, seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan jurusan. Mahasiswi FKIP, Syahrani Revi Mariska, menyatakan kekhawatirannya atas penyalahgunaan data dan menyampaikan imbauan kepada rekan-rekannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2234\" data-end=\"2580\">\u201cKami khawatir data kami disalahgunakan. Ada yang bahkan disebut NIK-nya secara lengkap,\u201d tulisnya. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak sembarangan memberikan informasi pribadi apabila dihubungi nomor asing. \u201cTolong diingatkan saja sama teman-teman untuk tidak menyebutkan identitas lebih lanjut seperti nomor rekening, NIK, dll,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2582\" data-end=\"2775\">Bahkan, dalam salah satu laporan, penelepon sempat mengaku sebagai pejabat kepolisian. Hal itu semakin memperkuat dugaan bahwa data mahasiswa telah jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2777\" data-end=\"2899\">\u201cPenelepon bilang dia dari Kapolda, dan dia tahu detail kami. Itu yang bikin kami makin takut,\u201d ucap salah seorang korban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2901\" data-end=\"3118\">Mahasiswa berharap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UBT dan pihak universitas segera bertindak atas situasi ini. Mereka mendesak adanya penelusuran lebih lanjut terhadap kemungkinan kebocoran data di lingkungan kampus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3120\" data-end=\"3289\">\u201cSaya berharap pihak BEM bisa menindaklanjuti masalah ini, karena sudah meresahkan. Semoga kampus juga tidak diam saja,\u201d tulis mahasiswa dalam pesan yang disebarluaskan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3291\" data-end=\"3490\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak Universitas Borneo Tarakan mengenai dugaan kebocoran sistem akademik yang memicu maraknya teror melalui telepon kepada para mahasiswa.[]\n<p data-start=\"3291\" data-end=\"3490\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TARAKAN &#8211; Sejumlah mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengungkapkan keresahan mereka usai menerima panggilan dari nomor tidak dikenal pada Minggu (20\/07\/2025). Panggilan tersebut datang secara acak dan intens, sebagian besar dari nomor yang berawalan 0818, menimbulkan dugaan adanya kebocoran data pribadi mahasiswa. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa beberapa mahasiswa dari berbagai jurusan telah melaporkan kejadian &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":124074,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[27,2257],"tags":[],"class_list":["post-124072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kota-tarakan-kalimantan-utara"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=124072"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":124075,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124072\/revisions\/124075"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/124074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=124072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=124072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=124072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}