{"id":125628,"date":"2025-07-10T15:03:32","date_gmt":"2025-07-10T07:03:32","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=125628"},"modified":"2025-07-30T15:27:13","modified_gmt":"2025-07-30T07:27:13","slug":"dprd-kaltim-revisi-janji-gratispol-jadi-bantuan-pendidikan-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-kaltim-revisi-janji-gratispol-jadi-bantuan-pendidikan-tinggi\/","title":{"rendered":"DPRD Kaltim Revisi Janji GratisPol, Jadi Bantuan Pendidikan Tinggi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"318\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"15\">SAMARINDA &#8211;<\/strong> Wacana Pendidikan Gratis Total atau <em data-start=\"52\" data-end=\"63\">GratisPol<\/em> yang sempat menjadi janji kampanye pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas\u2019ud dan Seno Aji, kembali menjadi sorotan. Meski ide ini mulai diterapkan secara bertahap, realisasinya belum sepenuhnya mencerminkan ekspektasi masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"320\" data-end=\"649\">Alih-alih dianggap sebagai kegagalan, implementasi program tersebut dipahami sebagai bentuk penyesuaian terhadap realitas anggaran dan ketentuan hukum yang berlaku. Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry, menegaskan bahwa pelaksanaan <em data-start=\"572\" data-end=\"583\">GratisPol<\/em> harus diselaraskan dengan regulasi serta kemampuan fiskal daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"651\" data-end=\"915\">\u201cKalau ada yang berpendapat bahwa GratisPol itu tidak full, ya bisa jadi memang benar. Tapi itu bukan berarti programnya batal. GratisPol itu adalah janji kampanye yang kini kita sesuaikan dengan regulasi dan kemampuan keuangan daerah,\u201d ujarnya, Rabu (09\/07\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"917\" data-end=\"1258\">Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa tujuan utama dari program tersebut adalah memperluas kesempatan masyarakat mengenyam pendidikan tinggi. Namun, dalam praktiknya, terdapat berbagai batasan. Salah satunya adalah tidak adanya istilah <em data-start=\"1150\" data-end=\"1161\">GratisPol<\/em> dalam sistem peraturan nasional, karena pendidikan tinggi merupakan kewenangan pemerintah pusat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1260\" data-end=\"1505\">\u201cIstilah GratisPol itu tidak dikenal dalam regulasi formal. Pendidikan tinggi adalah wewenang pemerintah pusat. Kalimantan Timur bukan daerah dengan otonomi khusus seperti Papua, yang punya dasar hukum khusus untuk program seperti ini,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1507\" data-end=\"1811\">Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Kaltim mengalihkan pendekatan dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Bantuan Pendidikan Tinggi. Program ini tetap mengacu pada semangat awal, namun dalam bentuk bantuan finansial yang jumlahnya dibatasi oleh kondisi keuangan daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1813\" data-end=\"2062\">\u201cJadi dari GratisPol menjadi Pergub Bantuan Pendidikan. Ini kompromi antara janji politik dan aturan hukum. Tentu saja, bantuan ini tetap penting untuk meringankan beban mahasiswa, meski tidak seratus persen gratis,\u201d ujar politisi Partai Golkar itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2064\" data-end=\"2287\">Sarkowi menjelaskan bahwa besaran bantuan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp7 juta per mahasiswa. Hal ini diberlakukan guna menghindari pembiayaan yang tidak merata, terutama bagi jurusan berbiaya tinggi seperti kedokteran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2289\" data-end=\"2506\">\u201cPendidikan dokter itu mahal. Kalau mau benar-benar gratis semua, uang kita nggak akan cukup. Di situlah mengapa kita pakai batas atas. Kalau tidak, berapa orang yang bisa dibiayai? Pasti tidak akan merata,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2508\" data-end=\"2768\">Ia juga menyoroti tantangan anggaran yang dihadapi Kaltim dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mengalami penurunan dari Rp22 triliun menjadi Rp20 triliun, bahkan diperkirakan hanya mencapai Rp18 triliun pada 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2770\" data-end=\"3042\">\u201cKita ini menghadapi banyak tantangan. Jalan-jalan rusak, sekolah masih banyak yang belum layak, rumah sakit masih kekurangan dokter. Kalau semua uang dihabiskan untuk pendidikan tinggi, yang sebetulnya bukan kewenangan provinsi, lalu yang lain mau dikasih apa?\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3044\" data-end=\"3217\">Meskipun program ini semula dijadwalkan aktif penuh pada 2026, realisasinya dipercepat menjadi tahun 2025 menyusul adanya Instruksi Presiden serta dinamika politik nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3219\" data-end=\"3365\">\u201cJustru kita lebih cepat dari jadwal. Tapi memang tidak bisa maksimal. Kita lakukan dulu yang bisa, nanti kita evaluasi sambil berjalan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3367\" data-end=\"3573\">DPRD Kaltim juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan. Upaya penguatan program bahkan sedang dibahas dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Pendidikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3575\" data-end=\"3777\">\u201cKalau nanti substansinya disetujui Pemprov Kaltim, program bantuan pendidikan tinggi ini bisa diatur dalam Perda. Tapi tentu kita lihat dulu hasil pembahasan pansus dan tanggapan eksekutif,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3779\" data-end=\"3963\">Sarkowi kembali mengingatkan bahwa pendidikan tinggi bukanlah tanggung jawab utama pemerintah provinsi. Oleh karena itu, bantuan yang diberikan lebih bersifat afirmatif daripada wajib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3965\" data-end=\"4173\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">\u201cIndikator kinerja utama kita di provinsi itu ada di SMA dan SMK. Kalau ada bantuan ke pendidikan tinggi, itu sebenarnya bentuk keberpihakan, bukan kewajiban. Kita bantu sebisanya, semampunya,\u201d pungkasnya. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p data-start=\"3965\" data-end=\"4173\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Penulis: Muhammad Ihsan | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Wacana Pendidikan Gratis Total atau GratisPol yang sempat menjadi janji kampanye pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas\u2019ud dan Seno Aji, kembali menjadi sorotan. Meski ide ini mulai diterapkan secara bertahap, realisasinya belum sepenuhnya mencerminkan ekspektasi masyarakat. Alih-alih dianggap sebagai kegagalan, implementasi program tersebut dipahami sebagai bentuk penyesuaian terhadap realitas &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":125629,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,14],"tags":[9463,10436,10899,10788],"class_list":["post-125628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-parlementaria-dprd-kaltim","tag-gratispol","tag-gratispol-kaltim","tag-sarkowi","tag-sarkowi-v-zahry"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=125628"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":125630,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125628\/revisions\/125630"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/125629"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=125628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=125628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=125628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}