{"id":126154,"date":"2025-07-31T09:26:15","date_gmt":"2025-07-31T01:26:15","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=126154"},"modified":"2025-08-03T16:18:54","modified_gmt":"2025-08-03T08:18:54","slug":"dprd-samarinda-soroti-tetesan-limbah-di-jalur-gunung-mangga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-samarinda-soroti-tetesan-limbah-di-jalur-gunung-mangga\/","title":{"rendered":"DPRD Samarinda Soroti Tetesan Limbah di Tanjakan Gunung Mangga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"488\" data-end=\"881\"><strong data-start=\"488\" data-end=\"501\">SAMARINDA<\/strong> \u2013 Persoalan tumpahan dan tetesan limbah dari truk pengangkut sampah kembali menjadi sorotan Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar. Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga mencemari lingkungan, khususnya di jalur tanjakan Gunung Mangga yang menjadi satu-satunya akses utama menuju Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"883\" data-end=\"1054\">\u201cNah kayak di Gunung Mangga itu kan memang posisinya menanjak, nanjaknya itu kan curam ya kan,\u201d ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Rabu (30\/7\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1056\" data-end=\"1354\">Menurut Deni, medan tanjakan yang cukup terjal membuat air lindi dari sampah mengalir dan menetes ke jalan. Kondisi ini menciptakan permukaan jalan yang kotor, licin, dan berbau menyengat. \u201cNah, itu biasanya kan nanti semua sampah turun ke ujung dan itu akan menimbulkan tetesan itu tadi,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1393\" data-end=\"1740\">Gunung Mangga memegang peran strategis karena merupakan satu-satunya jalur penghubung antara Samarinda dan Kukar, sekaligus akses menuju Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Hingga kini, belum tersedia jalur alternatif lain. Dengan demikian, setiap masalah di ruas jalan tersebut berdampak langsung terhadap ribuan pengendara yang melintas setiap hari. \u201cSaat ini kan belum ada jalan lain selain jalan Gunung Mangga itu kan, untuk ke Kabupaten Kukar juga,\u201d jelas Deni.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1858\" data-end=\"2135\">Deni menegaskan, jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memicu pencemaran lingkungan yang lebih parah. Tetesan limbah bukan hanya menciptakan bau tidak sedap, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara dan menjadi sumber penyakit bagi warga di sekitar jalur tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2182\" data-end=\"2445\">Politisi ini mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda untuk segera mengambil langkah pencegahan yang konkret. Ia menilai DLH tidak cukup hanya fokus pada proses pengangkutan, tetapi harus memastikan kebersihan jalur pengangkut bebas dari jejak limbah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2447\" data-end=\"2653\">\u201cMakanya kalau memang tidak dieksekusikan, mereka harus siapkan untuk pembersihannya, artinya jangan sampai itu menjadi kotoran yang ada di jalanan apalagi ini jalan-jalan poros kita ketahui kan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2655\" data-end=\"2891\">Ia menyarankan DLH menyiapkan sistem penampungan limbah cair di setiap truk pengangkut agar tetesan air sampah tidak langsung tumpah ke jalan. Selain itu, ia juga meminta adanya jadwal pembersihan rutin khusus untuk jalur Gunung Mangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2893\" data-end=\"3014\">\u201cNah, makanya kita harapkan Dinas terkait ini bisa melakukan langkah-langkah komprehensif terhadap masalah itu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3060\" data-end=\"3301\">Deni juga menyoroti stigma negatif yang melekat pada kendaraan pengangkut sampah. Selama ini, kata dia, masyarakat sudah terlanjur beranggapan bahwa setiap kali truk sampah lewat, pasti akan menimbulkan bau busuk dan tetesan limbah di jalan. \u201cJangan sampai sudah menjadi budaya, artinya kalau sudah mobil sampah lewat pasti bau nih, pasti netes nih,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3423\" data-end=\"3586\">Ia berharap, pengelolaan sampah di Samarinda bisa menghapus stigma tersebut dengan membuktikan bahwa prosesnya bisa dilakukan secara bersih, rapi, dan profesional. \u201cNah ini loh yang kita harus membersihkan dan artinya menghilangkan budaya-budaya itu tadi kan, stigma-stigma negatif lah yang kita inginkan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3781\" data-end=\"4025\">Sebagai langkah tindak lanjut, Deni menegaskan pihaknya akan terus memantau dan mengawasi kinerja DLH dalam menangani masalah ini. Pemantauan khusus akan difokuskan pada jalur Gunung Mangga sebagai titik rawan pencemaran akibat tumpahan limbah. \u201cMungkin nanti kami akan pantau lagi DLH kaitan dengan permasalahan ini tadi,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4119\" data-end=\"4409\">Dengan perhatian serius dari DPRD, diharapkan penanganan masalah limbah di jalur strategis ini dapat dilakukan secara tuntas. Langkah ini tidak hanya melindungi kualitas lingkungan, tetapi juga menjaga kenyamanan dan keselamatan para pengguna jalan yang setiap hari melintasi Gunung Mangga. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Persoalan tumpahan dan tetesan limbah dari truk pengangkut sampah kembali menjadi sorotan Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar. Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga mencemari lingkungan, khususnya di jalur tanjakan Gunung Mangga yang menjadi satu-satunya akses utama menuju Kabupaten Kutai Kartanegara &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":126157,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[6756,3146],"class_list":["post-126154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda","tag-dlh","tag-tps"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126154"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":126417,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126154\/revisions\/126417"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/126157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}