{"id":126568,"date":"2025-08-04T10:49:52","date_gmt":"2025-08-04T02:49:52","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=126568"},"modified":"2025-08-04T10:49:52","modified_gmt":"2025-08-04T02:49:52","slug":"warga-long-apari-tercekik-harga-pangan-bantuan-belum-datang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/warga-long-apari-tercekik-harga-pangan-bantuan-belum-datang\/","title":{"rendered":"Warga Long Apari Tercekik Harga Pangan, Bantuan Belum Datang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"427\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"17\">MAHAKAM ULU \u2013<\/strong> Warga di wilayah perbatasan Kabupaten Mahakam Ulu, khususnya di Kecamatan Long Apari, kini semakin kesulitan memenuhi kebutuhan bahan pokok sehari-hari. Pasokan bahan pangan seperti beras di sejumlah toko kian menipis, sementara harga terus melonjak hingga menembus Rp1,2 juta per karung. Kenaikan harga ini diperparah dengan stok barang yang kerap kosong, sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"429\" data-end=\"853\">Kondisi ini sudah berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir, setelah wilayah Mahakam Ulu dilanda kemarau panjang yang menyebabkan debit air Sungai Mahakam menurun drastis. Akibat surutnya sungai, moda transportasi air seperti speedboat yang selama ini menjadi andalan warga tidak lagi bisa dioperasikan secara normal. Hal ini membuat distribusi barang kebutuhan pokok ke Long Apari dan kampung sekitarnya terhambat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"855\" data-end=\"1424\">Petinggi Kampung Long Apari, Aristhon Sengiru Hang, menuturkan bahwa musim kemarau tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. \u201cTahun ini yang sangat parah. Tahun lalu memang ada juga kemarau tapi tidak separah tahun ini,\u201d kata Sengiru ketika dihubungi pada Minggu (03\/08\/2025). Ia mengungkapkan, pihak kampung sudah berupaya mengusulkan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu dengan melampirkan data kependudukan, namun hingga kini bantuan pangan belum kunjung diterima. \u201cKami sudah usulkan, termasuk data penduduk juga kami kasih,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1426\" data-end=\"1778\">Sementara itu, Kasi Pemerintahan Kampung Long Apari, Veronika Usung, menyebutkan bahwa krisis pangan ini semakin terasa dalam sebulan terakhir. Harga bahan pokok melonjak tajam, sementara stok kerap habis. \u201cKemarau ini sudah 2 bulan. Tapi yang paling parah kurang lebih 1 bulan ini semua bahan pokok naik. Bahkan sering juga habis di toko,\u201d ujar Usung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1780\" data-end=\"1996\">Usung juga membenarkan bahwa hingga saat ini warga Long Apari dan kampung-kampung lain di perbatasan belum mendapatkan bantuan pangan dari pemerintah, meski beberapa informasi menyebutkan bantuan sedang dipersiapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1998\" data-end=\"2430\">Menanggapi kondisi tersebut, Pemkab Mahakam Ulu pada Jumat (25\/07\/2025) telah menggelar rapat koordinasi. Wakil Bupati Mahakam Ulu, Yohanes Avun, menegaskan pentingnya langkah cepat dan terkoordinasi untuk menetapkan status siaga darurat. \u201cKita harus bergerak cepat untuk menetapkan status siaga darurat agar dana SOA dan BTT bisa segera digunakan. Dengan demikian, penanganan bisa dilakukan tepat sasaran dan cepat,\u201d tegas Yohanes.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2432\" data-end=\"2988\">Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) juga telah menyatakan kesiapan menyalurkan bantuan beras untuk membantu warga terdampak krisis di Mahulu. Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DPTPH Kaltim, Amaylia Dina Widyastuti, mengungkapkan bahwa lebih dari 68 ribu ton beras cadangan pemerintah akan dikirim ke Mahulu. \u201cKita akan menyalurkan 68.560 ton beras ke Mahulu. Saat ini lagi dimuat ke kapal. Mungkin akan selesai malam hari,\u201d kata Dina kepada wartawan di Samarinda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2990\" data-end=\"3256\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Bantuan tersebut sangat dinantikan warga yang saat ini menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang tak sebanding dengan penghasilan mereka. Diharapkan, pendistribusian beras ini bisa segera terealisasi untuk meringankan beban masyarakat di perbatasan Mahakam Ulu.[]\n<p data-start=\"2990\" data-end=\"3256\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAHAKAM ULU \u2013 Warga di wilayah perbatasan Kabupaten Mahakam Ulu, khususnya di Kecamatan Long Apari, kini semakin kesulitan memenuhi kebutuhan bahan pokok sehari-hari. Pasokan bahan pangan seperti beras di sejumlah toko kian menipis, sementara harga terus melonjak hingga menembus Rp1,2 juta per karung. Kenaikan harga ini diperparah dengan stok barang yang kerap kosong, sehingga menimbulkan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":126569,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,1173],"tags":[3351,10849,691],"class_list":["post-126568","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-mahakam-ulu-kalimantan-timur","tag-beras","tag-long-apari","tag-sungai-mahakam"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126568","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126568"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126568\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":126571,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126568\/revisions\/126571"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/126569"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126568"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126568"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126568"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}