{"id":127909,"date":"2025-08-11T11:30:03","date_gmt":"2025-08-11T03:30:03","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=127909"},"modified":"2025-08-11T11:30:03","modified_gmt":"2025-08-11T03:30:03","slug":"menikah-butuh-kesiapan-dprd-apresiasi-anak-muda-yang-menunda-menikah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/menikah-butuh-kesiapan-dprd-apresiasi-anak-muda-yang-menunda-menikah\/","title":{"rendered":"Menikah Butuh Kesiapan, DPRD Apresiasi Anak Muda yang Menunda Menikah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"334\" data-end=\"539\"><strong data-start=\"334\" data-end=\"347\">SAMARINDA<\/strong> \u2013 Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai keputusan sebagian anak muda untuk menunda pernikahan merupakan hal positif, selama dilandasi pertimbangan yang matang \u201cLoh bagus itu, hanya soalnya kan yang ditanya latar belakangnya apa, kenapa tidak mau menikah,\u201d ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Jumat (8\/8\/2025) sore.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"716\" data-end=\"967\">Sri Puji menjelaskan, pihaknya di DPRD Samarinda pernah mengusulkan rancangan peraturan daerah (ranperda) tentang pencegahan pernikahan usia anak. Meski demikian, usulan tersebut belum masuk ke dalam Program Pembentukan Peraturan Daerah (Pro-Pemda). \u201cKenapa tidak mau menikah, mungkin kan kalau kami di DPR ini kan kita istilahnya dulu pernah punya usulan ya, walaupun belum masuk ke pro-perda pencegahan usia pernikahan anak ya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1162\" data-end=\"1309\">Menurutnya, pernikahan di usia muda berpotensi menimbulkan sejumlah persoalan yang dapat berdampak negatif terhadap keberlangsungan rumah tangga. \u201cMasalahnya apa, kalau menikah usia muda berarti ada hal-hal negatif yang bakal terjadi,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1414\" data-end=\"1558\">Ia mencontohkan, dari sisi ekonomi, pasangan muda biasanya belum memiliki penghasilan tetap, masih menganggur, atau bergantung pada orang tua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1560\" data-end=\"1709\">\u201cMisal saja dia ketahanan terhadap ekonomi, biasanya dia pengangguran atau dia masih ikut orang tua, atau secara emosional belum matang,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1711\" data-end=\"1818\">Sri Puji menekankan, kesiapan menikah harus menyeluruh, meliputi kesiapan mental, emosional, dan ekonomi. \u201cPokoknya kalau menikah itu kesiapan-kesiapan, karena nanti kita bakal menjadi orang tua, bakal menjadi macam-macam, urus ekonomi keluarga juga,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1978\" data-end=\"2145\">Ia menilai, keputusan menunda menikah menunjukkan pola pikir yang lebih moderat dan rasional, karena calon pasangan mempertimbangkan risiko serta tantangan ke depan. \u201cJadi, kalau dia menunda mau menikah berarti bagus, berarti ada pemikiran yang lebih moderat yang karena mungkin ada hal-hal negatif yang bakal nanti akan mempersulit kehidupan mereka di depannya,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2358\" data-end=\"2509\">Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pasangan muda sering dihadapkan pada beban pembiayaan pendidikan anak, jaminan kesehatan, hingga kepemilikan rumah. \u201cMisal nanti bagaimana tentang pembiayaan anak sekolah, bagaimana tentang jaminan kesehatannya, bagaimana dengan mereka perumahannya seperti apa,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2670\" data-end=\"2797\">Selain itu, kebutuhan pokok seperti makan-minum, lingkungan sehat, dan sarana transportasi juga menjadi tantangan tersendiri. \u201cItu tiga itu saja sudah repot, bagaimana mereka kehidupan untuk makan minumnya, lingkungannya, menyiapkan transportasinya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2936\" data-end=\"3062\">Sri Puji menutup pernyataannya dengan memberi apresiasi kepada anak muda yang memilih tidak menikah atau menunda pernikahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3064\" data-end=\"3178\">\u201cNah, ini kan kalau mereka tidak mau menikah bagus, karena berarti mereka berpikiran modern, bagus,\u201d pungkasnya. []\n<p data-start=\"3064\" data-end=\"3178\">Penulis : Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai keputusan sebagian anak muda untuk menunda pernikahan merupakan hal positif, selama dilandasi pertimbangan yang matang \u201cLoh bagus itu, hanya soalnya kan yang ditanya latar belakangnya apa, kenapa tidak mau menikah,\u201d ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Jumat (8\/8\/2025) sore. Sri &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":127910,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[],"class_list":["post-127909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=127909"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127909\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":128159,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127909\/revisions\/128159"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/127910"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=127909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=127909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=127909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}