{"id":127912,"date":"2025-08-11T12:56:26","date_gmt":"2025-08-11T04:56:26","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=127912"},"modified":"2025-08-11T12:56:26","modified_gmt":"2025-08-11T04:56:26","slug":"dprd-samarinda-nilai-positif-fenomena-menikah-sederhana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-samarinda-nilai-positif-fenomena-menikah-sederhana\/","title":{"rendered":"DPRD Samarinda Nilai Positif Fenomena Menikah Sederhana"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"268\" data-end=\"536\"><strong data-start=\"268\" data-end=\"281\">SAMARINDA<\/strong> \u2013 Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengapresiasi fenomena anak muda yang memilih menikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan kemandirian pasangan dan meringankan beban finansial orang tua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"538\" data-end=\"735\">\u201cItu bagus lagi, karena mereka ini kan kita mengajak anak untuk lebih mandiri, berarti tidak membebani orang tua,\u201d ujar Sri Puji saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Jumat (8\/8\/2025) sore.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"737\" data-end=\"967\">Ia menjelaskan, dorongan untuk menggelar pesta pernikahan biasanya berasal dari calon pengantin sendiri. Karena itu, ketika mereka memilih pernikahan sederhana di KUA, hal tersebut mencerminkan pandangan hidup yang lebih dewasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"969\" data-end=\"1094\">\u201cJadi keinginan-keinginan untuk berpesta ria dan lain sebagainya itu, itu memang biasanya keinginan dari anaknya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1096\" data-end=\"1263\">Menurut Sri Puji, banyak anak muda yang menunda pernikahan atau memilih menikah secara sederhana karena mempertimbangkan kesiapan finansial dan kebutuhan masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1265\" data-end=\"1366\">\u201cKarena mereka kan inginnya gini, aku menikah setelah itu aku enggak punya rumah percuma,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1368\" data-end=\"1506\">Ia menambahkan, pernikahan bukan hanya soal mengikat hubungan secara resmi, tetapi juga mempersiapkan berbagai kebutuhan jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1508\" data-end=\"1728\">\u201cJadi hubungannya tadi kalau menikah itu harus menyiapkan rumah, menyiapkan mobil, menyiapkan tabungan, menyiapkan deposito untuk nanti anaknya, sekolah gimana, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan,\u201d tutur Sri Puji.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1730\" data-end=\"1848\">Sri Puji menilai, sikap anak muda yang berpikir jauh ke depan dalam urusan pernikahan menunjukkan pola pikir modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1850\" data-end=\"2070\">\u201cJadi memang kalau ini baguslah berarti mereka lebih berpikiran ke depan ya, lebih modern gitu, maksudnya menikah itu tidak mungkin hanya sebatas keluarga saja, dihadiri oleh orang-orang terdekat, bagus juga,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2072\" data-end=\"2200\">Namun, ia mengakui tradisi budaya masih berpengaruh besar terhadap pelaksanaan pernikahan di Indonesia, termasuk di Samarinda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2202\" data-end=\"2271\">\u201cTetapi memang itu kan kita tidak bisa lepas dari budaya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2273\" data-end=\"2406\">Menurutnya, salah satu alasan orang tua menggelar pesta besar adalah untuk memberi tahu masyarakat bahwa anak mereka telah menikah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2408\" data-end=\"2653\">\u201cCuma kenapa orang menikahkan anaknya itu harus mengumpulkan orang banyak, mengundang orang banyak, itu kan juga bagian dari budaya dan ingin mengatakan bahwa pernikahan itu harus disiarkan supaya orang tahu, anak ini sudah menikah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2655\" data-end=\"2774\">Sri Puji menegaskan, baik pernikahan sederhana di KUA maupun pesta besar sama-sama memiliki sisi positif dan negatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2776\" data-end=\"2896\">\u201cJadi ada hal positif, ada hal negatif yang tinggal tergantung kita, pandangan kita seperti apa gitu loh,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2898\" data-end=\"2967\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar<br data-start=\"2929\" data-end=\"2932\" \/>Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengapresiasi fenomena anak muda yang memilih menikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan kemandirian pasangan dan meringankan beban finansial orang tua. \u201cItu bagus lagi, karena mereka ini kan kita mengajak anak untuk lebih mandiri, berarti tidak membebani orang tua,\u201d ujar &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":127913,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[],"class_list":["post-127912","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127912","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=127912"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127912\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":128206,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127912\/revisions\/128206"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/127913"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=127912"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=127912"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=127912"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}