{"id":12850,"date":"2015-10-02T18:53:47","date_gmt":"2015-10-02T10:53:47","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.com\/?p=12850"},"modified":"2015-10-02T18:53:47","modified_gmt":"2015-10-02T10:53:47","slug":"gara-gara-tuntut-hak-15-warga-ditangkap-polisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/gara-gara-tuntut-hak-15-warga-ditangkap-polisi\/","title":{"rendered":"Gara-Gara Tuntut Hak, 15 Warga Ditangkap Polisi"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_12849\" aria-describedby=\"caption-attachment-12849\" style=\"width: 199px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/419118_259616907452812_2070782461_n.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-12849 size-medium\" src=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/419118_259616907452812_2070782461_n-199x300.jpg\" alt=\"419118_259616907452812_2070782461_n\" width=\"199\" height=\"300\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-12849\" class=\"wp-caption-text\">Saiduni Nyuk, Koordinator BAR<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify\"><strong>KUTAI KARTANEGARA<\/strong> &#8211; 15 warga Desa Kelekat, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), ditangkap polisi karena aksi pendudukan lahan\u00a0PT\u00a0Rea Kaltim Plantation. Kelimabelas warga tersebut merupakan demonstran yang\u00a0menuntut hak pembayaran ganti rugi lahan dan tanam tumbuh yang belum selesai dan berlarut larut.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify\">Menurut Kepala Desa Kelekat, Rudi, saat dihubungi lewat sambungan telepon, kasus terjadi sejak tahun 2005. &#8220;Namun pendudukan dilakukan sejak 3 bulan ini, warga melakukan aksi dan terakhir hari Rabu (30\/9\/2015) mereka dieksekusi ratusan personel gabungan dari Polda Kaltim, Polres Kukar dan satuan Brimob Polda Kaltim,&#8221; katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify\">Dari 15 warga yang ditangkap terdapat 2 perempuan akan tetapi kata Rudi mereka sudah dilepaskan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify\">Sementara itu, Saiduani Nyuk, Koordinator Barisan Advokasi Rakyat (BAR), mempertanyakan status 13 warga yang ditangkap. &#8220;Jika mereka belum memiliki status dan tidak membuktikan kesalahan dalam waktu 1x 24 jam maka polisi harus membebaskan ini sesuai dengan KUHAP yang berlaku, jika tidak polisi dan perusahaan melanggar hukum dan\u00a0HAM warga,&#8221; katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify\">&#8220;Kasus ini menunjukkan bahwa pemerintah abai dengan permasalahan warga, padahal kasus sudah ada sejak tahun 2005. Mestinya pemerintah memfasilitasi sejak dulu, jangan menunggu pecahnya demonstrasi warga seperti halnya di Lumajang,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify\">Menurut catatan BAR, PT Rea Kaltim Plantation\u00a0ini merupakan perusahaan nakal. Pada tahun 2013, PT Rea Kaltim Plantation\u00a0 dipersoalkan warga karena menggunakan fasilitas jalan\u00a0warga. Pada bulan November 2014 PT Rea Kaltim juga terlibat penenembakan warga oleh oknum TNI yang mengakibatkan salah satu warga cacat permanen dan terakhir adalah 15 warga ditangkap aparat karena diduga memblokade kegiatan PT Rea Katim Plantation. [] Mustakim<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA &#8211; 15 warga Desa Kelekat, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), ditangkap polisi karena aksi pendudukan lahan\u00a0PT\u00a0Rea Kaltim Plantation. Kelimabelas warga tersebut merupakan demonstran yang\u00a0menuntut hak pembayaran ganti rugi lahan dan tanam tumbuh yang belum selesai dan berlarut larut. Menurut Kepala Desa Kelekat, Rudi, saat dihubungi lewat sambungan telepon, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12851,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[6,17,26,33],"tags":[560,1574,1575],"class_list":["post-12850","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-lain","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-kartanegara","tag-kukar","tag-pt-rea-kaltim-plantation","tag-saiduaini-nyuk"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12850","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12850"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12850\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}