{"id":129199,"date":"2025-08-16T10:56:34","date_gmt":"2025-08-16T02:56:34","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=129199"},"modified":"2025-08-17T11:13:27","modified_gmt":"2025-08-17T03:13:27","slug":"abdul-rohim-duga-fenomena-manusia-silver-terorganisir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/abdul-rohim-duga-fenomena-manusia-silver-terorganisir\/","title":{"rendered":"Abdul Rohim Duga Fenomena Manusia Silver Terorganisir"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"325\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"15\">SAMARINDA &#8211;<\/strong> Fenomena manusia silver yang kerap terlihat di sejumlah titik jalan Kota Samarinda, baik siang maupun malam hari, menjadi perhatian Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim. Ia menekankan bahwa penanganan masalah ini harus dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, baik dari sisi hilir maupun hulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"327\" data-end=\"457\">\u201cBerarti selalu pendekatannya hulu dan hilir,\u201d ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Jumat (15\/08\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"459\" data-end=\"843\">Abdul Rohim menjelaskan bahwa di sisi hilir, penegakan aturan secara konsisten menjadi kunci. Satpol PP harus menunjukkan keberlanjutan dalam menindak aktivitas manusia silver yang terus muncul meski telah dilakukan penertiban. \u201cJadi, kalau hilir itu kira-kira ya memang harus diperlihatkan konsistensinya, konsisten Satpol PP atau lebih konsisten manusia silver-nya,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"845\" data-end=\"1098\">Ia menegaskan bahwa penindakan tidak bisa berhenti pada satu kali operasi karena aktivitas manusia silver sering muncul kembali keesokan harinya. \u201cJadi, kalau dia muncul mesti ditindak, nanti besok ada lagi tindak lagi, ada lagi tindak lagi,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1100\" data-end=\"1556\">Namun, Abdul Rohim menyoroti pentingnya menelusuri akar persoalan di sisi hulu. Ia menilai fenomena manusia silver kemungkinan tidak sepenuhnya berasal dari inisiatif individu, melainkan ada pihak tertentu yang mengorganisir dan mengambil keuntungan dari praktik tersebut. \u201cItu mulai agak ke hulu itu maksud saya agak di tengah, ini sebenarnya ada yang memobilisasi ada yang mengorganisir ini harus juga dicari, jangan-jangan ini terorganisir,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1558\" data-end=\"1967\">Ia menambahkan, pelacakan pihak yang menggerakkan dan mengkapitalisasi manusia silver perlu dilakukan agar penanganan lebih efektif. \u201cIni juga harus di tracking untuk memastikan bahwa kalau ternyata memang ini diorganisir, maka memang tidak bisa selesai kalau cuman sekedar yang diurus manusia silver-nya berarti harus dikejar ini siapa yang menggerakkan mereka, yang mengkapitalisasi mereka ini,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1969\" data-end=\"2250\">Abdul Rohim mencontohkan pola serupa pada pengemis di lampu merah yang ternyata bagian dari jaringan terorganisir. \u201cIni kan model ya kurang lebih kayak peminta-peminta itu yang di lampu merah, ternyata kita pikir mereka secara personal tapi ternyata mereka diorganisir,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2252\" data-end=\"2531\">Lebih jauh, ia menegaskan bahwa akar utama fenomena manusia silver tetap terkait kondisi ekonomi masyarakat. \u201cYang paling hulu adalah ini soal ekonomi, muncul yang begini-begini ya salah satunya karena ada kebutuhan untuk meningkatkan pemenuhan ke hajat hidup mereka,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2533\" data-end=\"2816\">Menurutnya, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja menjadi solusi jangka panjang untuk menekan munculnya fenomena manusia silver di Samarinda. \u201cSehingga dengan cara ini bisa meminimalisir berbagai model-model seperti manusia silver itu,\u201d pungkas Abdul Rohim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2818\" data-end=\"3021\">Pendekatan yang ia paparkan menekankan bahwa solusi efektif tidak hanya bersifat represif, tetapi juga bersifat preventif dan struktural, dengan melibatkan berbagai pihak dalam penanganan akar masalah.[] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3023\" data-end=\"3074\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Fenomena manusia silver yang kerap terlihat di sejumlah titik jalan Kota Samarinda, baik siang maupun malam hari, menjadi perhatian Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim. Ia menekankan bahwa penanganan masalah ini harus dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, baik dari sisi hilir maupun hulu. \u201cBerarti selalu pendekatannya hulu dan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":129280,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[11032,11246],"class_list":["post-129199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda","tag-abdul-rohim","tag-manusia-silver"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=129199"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":129282,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129199\/revisions\/129282"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/129280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=129199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=129199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=129199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}