{"id":130901,"date":"2025-08-22T12:07:31","date_gmt":"2025-08-22T04:07:31","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=130901"},"modified":"2025-08-22T12:07:31","modified_gmt":"2025-08-22T04:07:31","slug":"meski-tanpa-dak-jalan-strategis-tering-ujoh-bilang-tetap-prioritas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/meski-tanpa-dak-jalan-strategis-tering-ujoh-bilang-tetap-prioritas\/","title":{"rendered":"Meski Tanpa DAK, Jalan Strategis Tering-Ujoh Bilang Tetap Prioritas"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"247\" data-end=\"621\"><strong data-start=\"247\" data-end=\"264\">KUTAI BARAT &#8211;<\/strong> Pembangunan jalan penghubung Tering \u2013 Ujoh Bilang tetap menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) meskipun tahun 2025 tidak ada alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat. Ruas jalan ini memegang peranan penting sebagai akses vital yang menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"623\" data-end=\"845\">Kepastian tersebut disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda. Menurutnya, tidak adanya DAK pada 2025 merupakan keputusan pemerintah pusat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"847\" data-end=\"1051\">\u201cBiasanya DAK memang ada, meskipun nilainya tidak tetap. Pernah hanya Rp20 miliar, kadang bisa Rp50 miliar. Namun untuk 2025 sudah dipastikan tidak ada sama sekali,\u201d terang Firnanda, Kamis (21\/08\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1053\" data-end=\"1404\">Meski demikian, Firnanda menilai ketidakhadiran DAK tidak akan terlalu memengaruhi laju pembangunan. Sebab, belanja infrastruktur Kaltim sebagian besar bersumber dari APBD provinsi, yang rata-rata mengalokasikan sekitar Rp3 triliun per tahun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dukungan DAK yang biasanya hanya Rp50\u2013Rp100 miliar per tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1406\" data-end=\"1633\">\u201cProporsi APBD kita jauh lebih dominan. Tahun 2024 lalu misalnya, Kaltim masih mendapat Rp50 miliar DAK. Tapi tanpa DAK pun, proyek strategis tetap jalan karena APBD dan dukungan APBN melalui BBPJN cukup kuat,\u201d ujar Firnanda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1635\" data-end=\"1917\">Pembangunan jalan Tering \u2013 Ujoh Bilang tetap berjalan dengan alokasi APBD sekitar Rp200 miliar pada tahun ini, ditambah dukungan sekitar Rp80 miliar dari APBN melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN). Proyek ini juga menggunakan skema kontrak multiyears hingga 2027.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1919\" data-end=\"2152\">Selain itu, beberapa ruas lain juga tengah digarap. Jalan Ujoh Bilang \u2013 Long Pahangai memperoleh alokasi sekitar Rp30 miliar, sedangkan peningkatan ruas Long Bagun \u2013 Malinau (Kalimantan Utara) dialokasikan kurang lebih Rp28 miliar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2154\" data-end=\"2473\">Dengan kombinasi pendanaan APBD dan dukungan pusat, Pemprov Kaltim optimistis konektivitas antarwilayah di pedalaman dan perbatasan akan meningkat. Peningkatan akses jalan ini diharapkan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat, membuka keterisolasian, dan mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Kaltim.[]\n<p data-start=\"2154\" data-end=\"2473\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI BARAT &#8211; Pembangunan jalan penghubung Tering \u2013 Ujoh Bilang tetap menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) meskipun tahun 2025 tidak ada alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat. Ruas jalan ini memegang peranan penting sebagai akses vital yang menghubungkan Kabupaten Kutai Barat dengan ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu. Kepastian tersebut disampaikan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":130902,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,483],"tags":[11404,11405,11406],"class_list":["post-130901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-barat","tag-infrastrukturpedalaman","tag-jalanteringujohbilang","tag-pembangunankaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=130901"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130901\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":130903,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130901\/revisions\/130903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/130902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=130901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=130901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=130901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}