{"id":131528,"date":"2025-08-25T16:16:21","date_gmt":"2025-08-25T08:16:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=131528"},"modified":"2025-08-25T16:16:21","modified_gmt":"2025-08-25T08:16:21","slug":"berau-mulai-transisi-dari-sda-ke-pariwisata-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/berau-mulai-transisi-dari-sda-ke-pariwisata-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"Berau Mulai Transisi dari SDA ke Pariwisata Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"367\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"11\">BERAU \u2013<\/strong> Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan pemerintah daerah akan memulai transisi pembangunan dari ketergantungan pada sumber daya alam (SDA) menuju penguatan sektor pariwisata berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk mengantisipasi keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Alokasi Dana Kampung (ADK) di masa mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"369\" data-end=\"809\">\u201cKita ini kan sekarang sudah beralih, dari sumber daya alam yang ada saat ini, pelan-pelan secara berkelanjutan kita akan beralih menjadi sumber daya pariwisata,\u201d ungkap Sri Juniarsih Mas. Ia menekankan bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya melalui promosi, tetapi memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dalam mengelola potensi alam agar bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus meningkatkan pendapatan asli kampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"811\" data-end=\"1056\">\u201cSDM inilah yang termasuk kepala kampung dan aparatur. Bagaimana mereka bisa mengelola potensi alam untuk menjadi pendapatan asli kampung,\u201d tegas Sri. Menurutnya, kemampuan pengelolaan SDM akan menentukan keberhasilan transisi pembangunan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1058\" data-end=\"1480\">Untuk mendukung proses tersebut, Pemkab Berau akan bekerja sama dengan konsultan dan lembaga swadaya masyarakat (NGO) yang memiliki kompetensi dalam pemetaan dan pengembangan potensi kampung. \u201cKalau hanya mengandalkan kepala kampung saja, seringkali tidak maksimal. Dengan adanya konsultan, kita bisa melihat apa yang cocok di setiap kampung. Jadi, 100 kampung di Berau bisa dipetakan untuk transisi ke depan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1482\" data-end=\"1684\">Bupati juga menegaskan bahwa transisi pembangunan ini bukan pekerjaan instan. Dibutuhkan proses panjang, bahkan bisa melampaui satu periode pemerintahan. \u201cYang jelas ini harus berkelanjutan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1686\" data-end=\"2078\">Pendekatan bertahap ini diharapkan mampu memberikan fondasi yang kuat bagi pengembangan pariwisata lokal, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat kampung. Selain itu, keterlibatan konsultan dan NGO diharapkan dapat memberikan panduan strategis yang tepat sesuai karakteristik masing-masing kampung, sehingga potensi wisata dapat dikelola secara optimal dan berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2080\" data-end=\"2352\">Sri juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, kepala kampung, dan masyarakat agar visi pariwisata berkelanjutan tidak hanya menjadi rencana, tetapi benar-benar diwujudkan melalui program-program nyata yang memberi manfaat langsung bagi warga Berau.[]\n<p data-start=\"2080\" data-end=\"2352\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BERAU \u2013 Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan pemerintah daerah akan memulai transisi pembangunan dari ketergantungan pada sumber daya alam (SDA) menuju penguatan sektor pariwisata berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk mengantisipasi keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Alokasi Dana Kampung (ADK) di masa mendatang. \u201cKita ini kan sekarang sudah beralih, dari sumber &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":131529,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[478,26],"tags":[],"class_list":["post-131528","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-berau","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131528","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131528"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131530,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131528\/revisions\/131530"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131529"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}