{"id":131598,"date":"2025-08-26T12:37:25","date_gmt":"2025-08-26T04:37:25","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=131598"},"modified":"2025-08-26T12:37:25","modified_gmt":"2025-08-26T04:37:25","slug":"dprd-samarinda-soroti-keterbatasan-lahan-pertanian-dan-ketahanan-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-samarinda-soroti-keterbatasan-lahan-pertanian-dan-ketahanan-pangan\/","title":{"rendered":"DPRD Samarinda Soroti Keterbatasan Lahan Pertanian dan Ketahanan Pangan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"186\" data-end=\"476\"><strong data-start=\"186\" data-end=\"201\">SAMARINDA &#8211;<\/strong> Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Iswandi, menyoroti tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Kota Tepian. Ia menekankan keterbatasan lahan pertanian menjadi salah satu faktor utama yang membatasi tingkat produksi pangan lokal dan memengaruhi ketahanan pangan daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"478\" data-end=\"639\">\u201cMengacu secara jelas, secara umum kita kan punya RT\/RW, rencana tata ruang, rencana wilayah,\u201d ujarnya di Kantor DPRD Kota Samarinda, Senin (25\/08\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"641\" data-end=\"925\">Iswandi menjelaskan bahwa dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW), alokasi lahan di Samarinda telah dibagi untuk berbagai kepentingan, termasuk pertanian, perumahan, dan kawasan industri. \u201cAda peruntukan untuk pertanian, ada peruntukan untuk perumahan, ada untuk industri,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"927\" data-end=\"1243\">Meski demikian, luas lahan pertanian yang tersedia masih sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Berdasarkan data resmi, lahan pertanian di Samarinda hanya sekitar 1.243 hektar. \u201cDi RT\/RW kita kalau nggak salah itu lahan pertanian kita hanya sekitar 1.243 hektar saja,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1245\" data-end=\"1565\">Jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 800.000 jiwa secara resmi, dan kemungkinan lebih dari satu juta termasuk yang belum tercatat, menambah tekanan pada kebutuhan pangan lokal. \u201cPenduduk kita aja yang resmi saja 800.000 jiwa yang tercatat, yang enggak tercatat ada 1 juta mungkin penduduk Samarinda ini,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1567\" data-end=\"2171\">Iswandi menegaskan, dengan kondisi lahan yang terbatas, mustahil bagi Samarinda untuk mencapai surplus pangan hanya dari produksi lokal. \u201cBagaimana mau ada surplus dengan lahan sekecil itu memenuhi kebutuhan banyaknya manusia,\u201d tegasnya. Ia menambahkan, sejak dahulu kota ini memang tidak pernah mencapai surplus, dan produksi pertanian lokal hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan pasar, sekitar 20-30 persen. \u201cDari zaman dulu nggak pernah ada surplus memang di Samarinda ini, karena memang paling petani-petani yang ada itu bisa memenuhi kebutuhan pasar sekitar 20-30% saja, kalau optimal,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2173\" data-end=\"2593\">Meski demikian, Iswandi menilai masih ada peluang untuk meningkatkan produksi pertanian melalui inovasi, teknologi, dan dukungan pemerintah. \u201cTapi kan banyak metode-metode walaupun lahan sempit, tapi harusnya ada dukungan dari pemerintah kota, dari dinas-dinas terkait, bagaimana produksi bisa ditingkatkan dengan lahan sempit, dengan teknik apakah, dengan subsidi pupuk apa, dan macam-macam itu, teknologi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2595\" data-end=\"2850\">Ia menekankan bahwa keberhasilan peningkatan hasil panen sangat bergantung pada goodwill pemerintah daerah, termasuk kebijakan, subsidi, dan fasilitasi teknologi pertanian. \u201cIni harus ada goodwill dari pemerintah, harus mau membantu begitu,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2852\" data-end=\"3068\">Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan keterbatasan lahan tidak lagi menjadi penghalang signifikan, dan pertanian lokal tetap dapat berkontribusi bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat Samarinda.[] ADVERTORIAL<\/p>\n<p data-start=\"2852\" data-end=\"3068\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Iswandi, menyoroti tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Kota Tepian. Ia menekankan keterbatasan lahan pertanian menjadi salah satu faktor utama yang membatasi tingkat produksi pangan lokal dan memengaruhi ketahanan pangan daerah. \u201cMengacu secara jelas, secara umum kita kan punya RT\/RW, rencana tata ruang, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":131599,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[],"class_list":["post-131598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131598"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131720,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131598\/revisions\/131720"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}