{"id":132070,"date":"2025-08-28T08:44:01","date_gmt":"2025-08-28T00:44:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=132070"},"modified":"2025-08-28T08:44:01","modified_gmt":"2025-08-28T00:44:01","slug":"media-salah-liput-warga-jepang-khawatir-soal-imigran-afrika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/media-salah-liput-warga-jepang-khawatir-soal-imigran-afrika\/","title":{"rendered":"Media Salah Liput, Warga Jepang Khawatir soal Imigran Afrika"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"257\" data-end=\"555\"><strong data-start=\"257\" data-end=\"271\">TOKYO \u2013<\/strong> Upaya Jepang untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika melalui penetapan empat kota sebagai \u201ckampung halaman Afrika\u201d justru memicu kegaduhan di dalam negeri. Reaksi keras masyarakat Jepang muncul menyusul pemberitaan yang dianggap tidak akurat terkait program tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"557\" data-end=\"992\">Menurut laporan <em data-start=\"573\" data-end=\"587\">The Guardian<\/em> pada Rabu (27\/08\/2025), kontroversi bermula ketika Japan International Cooperation Agency (JICA) mengumumkan bahwa empat kota di Jepang\u2014Imabari, Kisarazu, Sanjo, dan Nagai\u2014ditetapkan sebagai \u201ckampung halaman\u201d bagi Mozambik, Nigeria, Ghana, dan Tanzania. Program ini bertujuan meningkatkan pertukaran personel dan kegiatan budaya untuk mempererat hubungan antara kota-kota Jepang dengan keempat negara Afrika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"994\" data-end=\"1330\">Namun, pemberitaan yang keliru membuat masyarakat lokal dan pengguna media sosial bereaksi keras. Kota-kota yang ditunjuk menerima ribuan telepon dan e-mail dari warga yang merasa cemas dan kebingungan. Banyak warga menafsirkan status \u201ckampung halaman\u201d sebagai izin khusus bagi warga Afrika untuk tinggal dan bekerja di kota tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1332\" data-end=\"1455\">\u201cJika imigran datang membanjiri, siapa yang akan bertanggung jawab?\u201d ujar seorang warga melalui unggahan di media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1457\" data-end=\"1831\">Reaksi publik semakin memuncak setelah sebuah unggahan di X menyebut bahwa kota Kisarazu mempertimbangkan untuk menyerahkan kota itu kepada warga Afrika, yang mendapat perhatian hingga 4,6 juta kali. Kota Sanjo misalnya, menerima 350 panggilan telepon dan 3.500 e-mail dari warga sejak Senin (25\/08\/2025). Kota Imabari menerima 460 panggilan dan 1.400 e-mail terkait isu serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1833\" data-end=\"2056\">Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi, menegaskan bahwa klaim-klaim tersebut tidak berdasar. \u201cTidak ada rencana untuk mempromosikan penerimaan imigran atau mengeluarkan visa khusus,\u201d katanya kepada wartawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2058\" data-end=\"2490\">Wali Kota Kisarazu, Yoshikuni Watanabe, menjelaskan bahwa kota itu sebelumnya pernah menjadi tuan rumah bagi atlet Nigeria selama Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, dan proyek ini tidak akan menimbulkan penerimaan imigran. \u201cInisiatif kami akan melibatkan kerja sama di bidang pendidikan anak muda berbasis disiplin melalui bisbol dan sofbol, dan ini bukan program yang akan mengarah pada relokasi dan imigrasi,\u201d ujar Watanabe.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2492\" data-end=\"2783\">Wali Kota Sanjo, Ryo Takizawa, menegaskan bahwa kota mereka tidak meminta untuk menerima migran atau imigran dari Ghana. \u201cTidak benar bahwa kota kami meminta untuk menerima migran atau imigran dari Ghana, dan kami tidak berencana untuk membuat permintaan seperti itu ke depannya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2785\" data-end=\"3214\">Kegaduhan ini juga dipicu oleh laporan Tanzania Times yang menulis \u201cJepang mendedikasikan kota Nagai untuk Tanzania\u201d, di mana kata \u201cmendedikasikan\u201d diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai \u201csasageru\u201d, sehingga menimbulkan kesan bahwa kota tersebut \u201cdikorbankan\u201d. Pemerintah Nigeria juga salah menafsirkan detail program ini dan menyebut Kisarazu terbuka bagi warga Nigeria untuk tinggal dan bekerja, termasuk rencana visa khusus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3216\" data-end=\"3521\">JICA menanggapi kesalahpahaman ini dengan meminta media lokal dan pemerintah Afrika untuk mengoreksi informasi yang tidak akurat. \u201cJICA saat ini mendesak media lokal terkait dan pemerintah Afrika untuk memperbaiki ketidakakuratan yang ada dalam liputan mereka,\u201d tulis lembaga tersebut di situs resminya.[]\n<p data-start=\"3216\" data-end=\"3521\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TOKYO \u2013 Upaya Jepang untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika melalui penetapan empat kota sebagai \u201ckampung halaman Afrika\u201d justru memicu kegaduhan di dalam negeri. Reaksi keras masyarakat Jepang muncul menyusul pemberitaan yang dianggap tidak akurat terkait program tersebut. Menurut laporan The Guardian pada Rabu (27\/08\/2025), kontroversi bermula ketika Japan International Cooperation Agency (JICA) mengumumkan bahwa &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":132071,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2254],"tags":[2478],"class_list":["post-132070","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-internasional","tag-jepang"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132070","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=132070"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132070\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":132072,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132070\/revisions\/132072"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132071"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=132070"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=132070"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=132070"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}