{"id":1323,"date":"2014-06-01T21:56:18","date_gmt":"2014-06-01T13:56:18","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=1323"},"modified":"2022-10-16T11:25:38","modified_gmt":"2022-10-16T03:25:38","slug":"harga-komoditas-di-pasar-induk-bulungan-mulai-meroket","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/harga-komoditas-di-pasar-induk-bulungan-mulai-meroket\/","title":{"rendered":"Harga Komoditas di Pasar Induk Bulungan Mulai Meroket"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Bulan Ramadhan jatuh dalam beberapa minggu lagi, namun sejumlah harga komoditas bahan pokok di Bulungan mulai mengalami kenaikan.<\/p>\n<p>Di Pasar Induk Bulungan (satu-satunya pasar terlengkap di Tanjung Selor) misalnya, harga telur lokal yang dipasok dari Samarinda melenggang fantastis dari kisaran Rp 35.000 rupiah menjadi Rp 40.000 hingga Rp 42.000 per keraknya.<\/p>\n<p>Sejumlah pedagang menuturkan, kenaikan ini telah terjadi semenjak kurang dari seminggu yang lalu. Sementara telur ayam yang dipasok dari Malaysia terpantau belum mengalami kenaikan, di mana masih masih berada di jalur aman, di kisaran Rp 35.000 per keraknya.<\/p>\n<p>\u201cTerpaksa harga telur lokalnya dinaikkan, karena harga di agennya sudah naik juga,\u201d ungkap Siti Janah (32) salah satu pedagang di Pasar Induk, Minggu (1\/6).<\/p>\n<p>Komoditas yang juga mengalami kenaikan adalah bawang merah dan bawang putih. Jika harga bawang merah sebelumnya hanya dipatok Rp 28.000 tiap koligramnya, kini telah dijual ke konsumen seharga Rp 30.000 per kilogram. Begitu juga untuk bawang merah berbulir kecil, kali ini perkilonya sudah mencapai Rp 20.000 dari Rp 18.000 beberapa hari yang lalu.<\/p>\n<p>Dibandingkan dengan bawang merah, tak tanggung-tanggung bawang putih yang dipasok dari Jawa dan Sulawesi meroket hingga Rp 25.000 perkoligram dari harga sebelumnya hanya Rp 18.000.<\/p>\n<p>\u201cIni memang sudah waktunya harga barang-barang naik. Bukan masalah kurangnya stok atau keterlambatan distribusi, tapi memang karena momen mau masuk bulan puasa,\u201d tandas Sukatno, yang juga salah pedagang di Pasar Induk.<\/p>\n<p>Kenaikan harga beberapa komoditas di pasaran ini pun disesalkan sejumlah masyarakat. Risma (28) warga Jalan Semangka, Tanjung Selor Ilir misalnya. Meski kenaikan ini dinilainya wajar, namun untuk waktunya kurang tepat menaikkan harga beberapa minggu menjelang bulan Ramadhan. Pasalnya, tingkat konsumsi masyarakat masih di ambang batas normal.<\/p>\n<p>\u201cKenaikan harga itu wajar. Tapi waktunya tidak wajar. Harusnya lima atau tiga hari menjelang puasa, harga itu baru dinaikkan,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Apalagi kata Risma, menjelang lebaran pun akan terjadi lagi kenaikan yang bahkan dua kali lipat dari harga sebelumnya. \u201cJadi ada tiga kali kenaikan dong. Beberapa minggu menjelang puasa, beberapa hari menjelang puasa, dan menjelang lebaran,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sejumlah masyarakat lainnya pun berharap harga komoditas tidak terus merangkak naik dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini. Meski permintaan akan kebutuhan tersebut terus meningkat, apalagi menjelang hari raya.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun harus diakui kebutuhan beberapa komoditas itu memang lagi musimnya, kami harap pemerintah mengawasi harga-harga di ambang batas yang wajar,\u201d tutup Rosmah salah satu pembeli. [] RedFj\/TK<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bulan Ramadhan jatuh dalam beberapa minggu lagi, namun sejumlah harga komoditas bahan pokok di Bulungan mulai mengalami kenaikan. Di Pasar Induk Bulungan (satu-satunya pasar terlengkap di Tanjung Selor) misalnya, harga telur lokal yang dipasok dari Samarinda melenggang fantastis dari kisaran Rp 35.000 rupiah menjadi Rp 40.000 hingga Rp 42.000 per keraknya. Sejumlah pedagang menuturkan, kenaikan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1324,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2256,27],"tags":[],"class_list":["post-1323","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-bulungan","category-kalimantan-utara-kaltara"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1323","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1323"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1323\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22572,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1323\/revisions\/22572"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1323"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1323"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1323"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}