{"id":133578,"date":"2025-09-04T15:57:37","date_gmt":"2025-09-04T07:57:37","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=133578"},"modified":"2025-09-05T16:12:46","modified_gmt":"2025-09-05T08:12:46","slug":"bahasa-kutai-jadi-muatan-lokal-dprd-bentuk-jaga-identitas-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bahasa-kutai-jadi-muatan-lokal-dprd-bentuk-jaga-identitas-budaya\/","title":{"rendered":"Bahasa Kutai Jadi Muatan Lokal, DPRD: Bentuk Jaga Identitas Budaya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAMARINDA <\/strong>\u2013 Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan pentingnya memasukkan muatan lokal dalam kurikulum sekolah. Salah satunya adalah penerapan bahasa daerah yang dinilainya sebagai upaya menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTerkaitkan tentang bahasa di sekolah, hal ini memang tertuang dalam kurikulum dalam muatan lokal,\u201d ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Rabu (03\/09\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Novan menjelaskan, program pembelajaran muatan lokal sudah berjalan di sejumlah sekolah di Kota Samarinda. \u201cNah, ini yang yang yang akan dijalankan ataupun saat ini berlangsung di sekolah-sekolah,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, pemilihan bahasa Kutai sebagai muatan lokal memiliki pertimbangan historis dan geografis. \u201cKenapa yang dipilih bahasa Kutai, karena yang pertama kita ini merupakan areal dari wilayah Kutai,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, penggunaan bahasa Kutai di sekolah merupakan langkah tepat, sebab bahasa tersebut memiliki keterikatan erat dengan budaya lokal Kaltim. \u201cItu yang kenapa dipilih bahasa Kutai bukan bahasa daerah lain,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski Samarinda dikenal sebagai daerah yang majemuk dengan masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya, Novan menilai bahasa Kutai tetap pantas dijadikan muatan lokal. \u201cWalaupun daerah kita adalah daerah yang majemuk, tapi bahasa Kutai ini sendiri adalah bahasa dari daerah kita yang ada di wilayah Kalimantan Timur,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menekankan bahwa memasukkan bahasa Kutai ke dalam kurikulum sekolah merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya asli daerah. \u201cItulah kenapa dipilihnya jadi bahasa Kutai,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah ini, lanjut Novan, bukan hanya sekadar formalitas, melainkan strategi nyata untuk memperkenalkan budaya Kutai kepada generasi muda. Dengan mempelajari bahasa daerah, siswa dapat memperkuat rasa cinta tanah kelahiran serta memperkaya wawasan kebudayaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengingatkan, melestarikan bahasa daerah sama pentingnya dengan menjaga warisan leluhur. Di tengah gempuran modernisasi, bahasa Kutai harus tetap hidup sebagai identitas lokal. Harapannya, kebijakan ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat, dunia pendidikan, serta pihak-pihak terkait agar bahasa Kutai dapat terus terjaga keberadaannya. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan pentingnya memasukkan muatan lokal dalam kurikulum sekolah. Salah satunya adalah penerapan bahasa daerah yang dinilainya sebagai upaya menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi. \u201cTerkaitkan tentang bahasa di sekolah, hal ini memang tertuang dalam kurikulum dalam muatan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":133579,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[11035,11847],"class_list":["post-133578","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda","tag-bahasa-kutai","tag-muatan-lokal"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133578"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133578\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":134122,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133578\/revisions\/134122"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/133579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}