{"id":135784,"date":"2025-09-11T10:12:33","date_gmt":"2025-09-11T02:12:33","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=135784"},"modified":"2025-09-11T10:12:33","modified_gmt":"2025-09-11T02:12:33","slug":"dprd-minta-penambahan-koleksi-untuk-hidupkan-museum-samarinda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-minta-penambahan-koleksi-untuk-hidupkan-museum-samarinda\/","title":{"rendered":"DPRD Minta Penambahan Koleksi untuk Hidupkan Museum Samarinda"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"554\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"15\">SAMARINDA &#8211;<\/strong> Keberadaan museum di Kota Samarinda kembali menjadi sorotan setelah dinilai belum mampu berkembang optimal meski telah berdiri sejak beberapa tahun lalu. Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyebut bangunan yang mulai digunakan sejak 2019 kini sudah menunjukkan kerusakan. \u201cKarena dari bangunan saja itu sudah tahun 2019, akan dibangun itu saat ini sudah mulai banyak yang bolong-bolong dan rusak ya,\u201d ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Rabu (10\/09\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"556\" data-end=\"1154\">Puji menambahkan, lokasi museum yang berada di pinggir jalan belum mampu dimanfaatkan secara maksimal. Alih-alih menjadi pusat perhatian, area sekitar museum justru banyak dipakai untuk lahan parkir. \u201cMungkin lalu tentang suasana ya, suasana di pinggir jalan itu malah sekarang dijadikan tempat parkir,\u201d katanya. Meski demikian, ia mengakui ada sisi positif dari kondisi itu karena bisa saja pengendara yang parkir tertarik untuk mengunjungi museum. \u201cIni kan juga mungkin satu sisi positifnya, mungkin orang parkir di situ akan, \u2018Oh, ini kita ternyata punya museum,\u2019 dia akan tertarik,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1156\" data-end=\"1486\">Menurut Puji, persoalan utama yang membuat museum Samarinda kurang berkembang adalah keterbatasan koleksi. \u201cTapi dengan begitu kita akan harus menyiapkan isinya, hambatannya itu di Kota Samarinda kenapa museumnya tidak terlalu berkembang dengan baik, ternyata barang-barang yang ada di dalamnya itu masih terbatas ya,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1488\" data-end=\"1954\">Ia mengusulkan agar koleksi bisa ditambah melalui sumbangan, pinjaman, ataupun pembelian barang bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan Kota Samarinda. \u201cKita harus banyak perlu barang baik itu kayak sumbangan dari masyarakat atau pinjam gitu atau kita membeli barang yang bisa dijadikan tonggak sejarah, misalnya tentang literasi, literatur, tentang lukisan, atau tentang barang-barang yang bersejarah yang mendukung berdirinya Kota Samarinda gitu,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1956\" data-end=\"2356\">Komisi IV DPRD disebut sudah membahas persoalan ini agar museum tidak sekadar berdiri, tetapi benar-benar menjadi sarana edukasi. \u201cItu tadi sudah didiskusikan dengan kami dengan Komisi IV, apa sih yang akan kita lakukan untuk supaya museum yang ada di Kota Samarinda ini sudah dibangun zamannya wali kota terdahulu itu bisa betul-betul bermanfaat sebagai sarana edukasi untuk masyarakat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2358\" data-end=\"2715\">Selama ini, mayoritas pengunjung museum berasal dari kalangan pelajar. Namun, minat mereka masih rendah karena kurangnya sarana interaktif. \u201cSelama ini pengunjungnya banyak, tetapi ternyata pengunjungnya kebanyakan anak-anak sekolah, dan anak-anak sekolahnya juga mungkin tidak terlalu tertarik, kurang interaktif, sarana interaktifnya kurang,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2717\" data-end=\"3023\">Meski museum telah memiliki peralatan digital, jumlahnya masih terbatas. Kondisi ini diperparah karena banyak siswa yang belum terbiasa menggunakannya. \u201cWalaupun kita punya alat digital itu, cuman kan terbatas ya. Terus yang menggunakannya juga anak-anak mungkin juga kurang, kurang familiar,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3025\" data-end=\"3366\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Puji menegaskan, museum seharusnya bisa menjadi pusat edukasi utama di Samarinda, terlebih dengan jumlah siswa yang mencapai ratusan ribu orang. \u201cIni kita ini punya 134.000 siswa, dari tingkat PAUD hingga SMP, kalau itu bisa semua berkunjung kan bagus banget, lalu kita harus menyiapkan sarana-sarana yang ramah terhadap anak,\u201d pungkasnya.[] ADVERTORIAL<\/p>\n<p data-start=\"3025\" data-end=\"3366\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Penulis:\u00a0 Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Keberadaan museum di Kota Samarinda kembali menjadi sorotan setelah dinilai belum mampu berkembang optimal meski telah berdiri sejak beberapa tahun lalu. Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyebut bangunan yang mulai digunakan sejak 2019 kini sudah menunjukkan kerusakan. \u201cKarena dari bangunan saja itu sudah tahun &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":135785,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585],"tags":[],"class_list":["post-135784","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135784"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135784\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":135851,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135784\/revisions\/135851"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/135785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}