{"id":136009,"date":"2025-09-12T14:17:15","date_gmt":"2025-09-12T06:17:15","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=136009"},"modified":"2025-09-12T14:17:15","modified_gmt":"2025-09-12T06:17:15","slug":"warga-loa-bakung-kecewa-pt-bbe-tak-hadir-di-rdp-dprd-samarinda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/warga-loa-bakung-kecewa-pt-bbe-tak-hadir-di-rdp-dprd-samarinda\/","title":{"rendered":"Warga Loa Bakung Kecewa, PT BBE Tak Hadir di RDP DPRD Samarinda"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"395\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"15\">SAMARINDA &#8211;<\/strong> Kekecewaan warga Loa Bakung terhadap PT Bukit Baiduri Energi (BBE) kembali mencuat setelah manajemen perusahaan tidak hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kota Samarinda, Kamis (11\/09\/2025). RDP tersebut membahas permintaan hibah lahan dari PT BBE untuk dijadikan Tempat Pemakaman Umum (TPU), namun pertemuan urung dilanjutkan karena ketidakhadiran pihak perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"397\" data-end=\"756\">Sumadi, Ketua Rukun Tetangga (RT) 73 sekaligus anggota Forum Rukun Kematian Jalan Padat Karya, Sungai Kunjang, menyampaikan kekecewaannya secara terbuka. \u201cWarga dan ketua Rukun Kematian Loa Bakung sangat kecewa berat tidak hadirnya PT BBE dalam RDP, kami menuntut hibah tanah dijadikan TPU sebagai CSR dari PT BBE,\u201d ujarnya kepada awak media usai pertemuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"758\" data-end=\"1129\">Menurut Sumadi, warga telah mengajukan permohonan hibah lahan sejak 2012, dengan tujuan agar perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut memberikan kontribusi sosial nyata melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). \u201cSecara lisan memang ada tawaran tanah, tetapi legalitasnya belum jelas, sementara sudah ada warga yang dimakamkan di lahan itu,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1131\" data-end=\"1491\">Lahan yang diajukan untuk hibah mencapai hampir 4 hektare. Sumadi menekankan pentingnya kepastian legalitas agar lahan dapat digunakan secara sah tanpa menimbulkan masalah hukum di kemudian hari. \u201cKami perlu legalitas untuk dapat dipastikan wakafnya ke Pemerintah. Dengan begitu, jika ada pembangunan jalan atau penataan TPU, prosesnya lebih mudah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1493\" data-end=\"1851\">Selain itu, Sumadi berharap PT BBE segera melakukan pematangan dan penataan lahan. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan fungsi TPU dan sebagai wujud nyata kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar. \u201cHarapannya legalitas secepatnya dan dilakukan pematangan lahan, karena orang meninggal waktu tidak dapat ditetapkan,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1853\" data-end=\"2217\">RDP ini sendiri dipimpin Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, dan dihadiri oleh Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman serta Camat Sungai Kunjang. Meski berjalan singkat, pertemuan tersebut menegaskan bahwa warga Loa Bakung menuntut kepastian dan transparansi dari pihak perusahaan agar lahan hibah dapat segera difungsikan sebagai Tempat Pemakaman Umum.[] ADVERTORIAL<\/p>\n<p data-start=\"1853\" data-end=\"2217\">Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Kekecewaan warga Loa Bakung terhadap PT Bukit Baiduri Energi (BBE) kembali mencuat setelah manajemen perusahaan tidak hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kota Samarinda, Kamis (11\/09\/2025). RDP tersebut membahas permintaan hibah lahan dari PT BBE untuk dijadikan Tempat Pemakaman Umum (TPU), namun pertemuan urung dilanjutkan karena ketidakhadiran pihak perusahaan. Sumadi, Ketua &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":136167,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,37],"tags":[11972],"class_list":["post-136009","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-loa-bakung"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136009","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=136009"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136009\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":136171,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136009\/revisions\/136171"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/136167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=136009"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=136009"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=136009"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}