{"id":137230,"date":"2025-09-17T10:56:38","date_gmt":"2025-09-17T02:56:38","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=137230"},"modified":"2025-09-17T10:56:38","modified_gmt":"2025-09-17T02:56:38","slug":"rakhman-proyek-jalan-strategis-kaltim-butuh-perhatian-serius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/rakhman-proyek-jalan-strategis-kaltim-butuh-perhatian-serius\/","title":{"rendered":"Rakhman: Proyek Jalan Strategis Kaltim Butuh Perhatian Serius"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAMARINDA <\/strong>\u2013 Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Abdul Rakhman Bolong, menyoroti lambatnya progres pembangunan jalan Muara Badak\u2013Marangkayu\u2013Bontang. Proyek strategis yang dikerjakan sejak awal tahun ini dinilai berjalan tidak sesuai rencana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Rakhman, keterlambatan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, terutama persoalan sosial dan kondisi cuaca. \u201cTerjadi keterlambatan pengerjaan disebabkan dampak sosial, untuk persoalan begini harus hati-hati, jadi kontraktor beralasan persoalan pipa gas dan pagar milik masyarakat yang harus diperhatikan dampak dari faktor sosial,\u201d ujarnya kepada awak media saat ditemui di Kantor DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, Samarinda, Selasa (16\/09\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan, sejumlah kontraktor menyampaikan kesulitan dalam menyelesaikan dampak sosial di lapangan, seperti keberadaan pagar kebun dan warung milik masyarakat yang terdampak pelebaran jalan. Tidak adanya ganti rugi, menurutnya, menjadi salah satu alasan proses penyelesaian berlangsung lebih lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTerkait pelebaran jalan yang mengenai pagar milik masyarakat, menurut PPK dari Dinas PUPR-Pera tidak ada penggantian dan telah melakukan pendekatan secara persuasif dengan pemilik karena demi kepentingan umum,\u201d kata Rakhman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, kendala lain yang menghambat progres proyek adalah masalah pasokan material. Salah satu kontraktor disebut mengalami keterlambatan karena harus mendatangkan material dari Pulau Sulawesi, ditambah terkendala arus kas (cashflow).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAda satu kontraktor yang beralasan kesiapan material proyek belum siap di lapangan dikarenakan masalah cashflow untuk mendatangkan bahan sesuai dengan kebutuhan,\u201d tutur legislator dari daerah pemilihan Kutai Kartanegara (Kukar) ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski menghadapi sejumlah hambatan, Rakhman berharap pengerjaan proyek dapat selesai tepat waktu sesuai kontrak yang telah disepakati dengan Dinas PUPR-Pera Kaltim. \u201cHarapan saya harus selesai sesuai dengan jatuh tempo yang telah tertulis dalam kontrak yang disepakati dengan Dinas PUPR-Pera Kaltim,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai informasi, proyek pembangunan jalan Muara Badak\u2013Marangkayu\u2013batas Bontang menelan anggaran Rp36 miliar dari APBD Kaltim 2025. Jalan sepanjang 17 kilometer itu dikerjakan oleh empat perusahaan, yakni PT Imanuel Karya Perkasa, PT Alvi Sinar Abadi, PT Libra Putra Pratama, serta PT Hasto Mulya Adiprima KSO CV Reva Jaya Abadi.\u00a0 []\n<p>Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Abdul Rakhman Bolong, menyoroti lambatnya progres pembangunan jalan Muara Badak\u2013Marangkayu\u2013Bontang. Proyek strategis yang dikerjakan sejak awal tahun ini dinilai berjalan tidak sesuai rencana. Menurut Rakhman, keterlambatan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, terutama persoalan sosial dan kondisi cuaca. \u201cTerjadi keterlambatan pengerjaan disebabkan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":137245,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[14,26],"tags":[10066],"class_list":["post-137230","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-parlementaria-dprd-kaltim","category-kalimantan-timur-kaltim","tag-abdul-rakhman-bolong"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137230","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=137230"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137230\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":137248,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137230\/revisions\/137248"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/137245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=137230"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=137230"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=137230"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}