{"id":137309,"date":"2025-06-27T16:00:18","date_gmt":"2025-06-27T08:00:18","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=137309"},"modified":"2025-09-17T16:04:28","modified_gmt":"2025-09-17T08:04:28","slug":"taufik-ridiannur-desak-perbaikan-jalan-poros-hulu-kukar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/taufik-ridiannur-desak-perbaikan-jalan-poros-hulu-kukar\/","title":{"rendered":"Taufik Ridiannur Desak Perbaikan Jalan Poros Hulu Kukar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"455\" data-end=\"743\"><strong>KUTAI KARTANEGARA<\/strong> \u2013 Kondisi jalan di wilayah hulu Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menjadi sorotan. Akses utama yang menghubungkan sejumlah kecamatan, khususnya ruas Jalan Poros Kota Bangun\u2013Muara Muntai hingga Muara Wis, kini mengalami kerusakan parah dan menghambat mobilitas masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"745\" data-end=\"1092\">Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar menegaskan perlunya penanganan segera dari pemerintah daerah agar akses transportasi yang vital bagi warga hulu dapat kembali berfungsi dengan baik. Jalan tersebut bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah, melainkan juga penopang roda perekonomian, pembangunan, hingga layanan kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1094\" data-end=\"1271\">Anggota Komisi III DPRD Kukar, Taufik Ridiannur, yang belum lama meninjau langsung kondisi lapangan bersama pihak pemerintah kecamatan, mengungkapkan fakta memprihatinkan. \u201cKarena jalannya rusak parah, dan jalan itu juga merupakan akses satu-satunya yang dilewati untuk warga datang berurusan ke Kecamatan Muara Wis,\u201d jelasnya, Kamis (26\/06\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1451\" data-end=\"1740\">Menurut Taufik, terdapat sekitar 12 kilometer ruas jalan Muara Wis\u2013Kota Bangun Seberang yang masih dalam kondisi rusak dan perlu perhatian serius. Padahal, jalur ini digunakan oleh masyarakat dari berbagai desa seperti Kota Bangun, Dusun Kuyung, Sebemban, Melintang, hingga Muara Muntai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1779\" data-end=\"2005\">Kerusakan jalan tersebut bukan hanya berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga mengganggu akses kesehatan. Banyak warga kesulitan membawa pasien ke rumah sakit karena ambulans tidak dapat melintas dengan aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2007\" data-end=\"2221\">\u201cDengan kondisi jalan rusak seperti itu, pasien-pasien yang sakit parah kita tidak bisa lewat darat lagi, lewat ambulan, nah tidak berani karena goncangannya terlalu kuat. Kita lewatnya pakai long boot,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2223\" data-end=\"2484\">Situasi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi warga di wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan. Jalan yang rusak dan rawan banjir membuat masyarakat harus mencari alternatif transportasi melalui jalur air yang tentu lebih memakan waktu dan biaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2527\" data-end=\"2721\">Taufik menjelaskan, salah satu titik kritis berada di Sebemban, Muara Wis. Kondisi jalan di kawasan tersebut tidak bisa langsung diseminisasi karena harus melalui proses peninggian lebih dulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2723\" data-end=\"3016\">\u201cBahkan saya juga sudah ketemu dengan Dinas PU, untuk ditinggikan sekitar 70 sampai 80 cm. kemudian baru diseminisasi. Tapi itu kan masih belum semuanya ter-cover. Jika itu sudah dikerjakan, jalan Muara Wis\u2013Kota Bangun Seberang itu masih ada sekitar 11 km yang belum diseminisasi,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3018\" data-end=\"3254\">Sementara di Kecamatan Muara Muntai, terdapat dua titik rawan yang juga menjadi perhatian. Ruas jalan tersebut kerap terendam banjir sehingga membutuhkan peninggian badan jalan agar lebih tahan lama dan bisa digunakan sepanjang tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3304\" data-end=\"3584\">DPRD menilai pembangunan infrastruktur jalan di wilayah hulu harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Kondisi jalan yang layak tidak hanya memudahkan mobilitas warga, tetapi juga menjadi kunci pengembangan sektor lain seperti pariwisata, perkebunan, dan ekonomi kreatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3586\" data-end=\"3880\">\u201cKami berharap yang lebih diutamakan adalah infrastruktur jalan. Karena kalau jalannya rusak, nggak bisa juga dilewati. Dan sekarang ini pariwisata, perkebunan dalam arti luas, belum lagi ekonomi kreatif yang mau kita kembangkan. Kalau akses jalannya rusak, tidak bisa jalan,\u201d pungkas Taufik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3882\" data-end=\"4193\">Harapan besar kini disandarkan pada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar agar persoalan ini masuk dalam prioritas penyusunan anggaran. Dengan perbaikan yang menyeluruh, akses transportasi di hulu Kukar bisa kembali berfungsi optimal, sehingga pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat tidak lagi terhambat. [] ADVERTORIAL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3882\" data-end=\"4193\">Penulis: Muhammad Ihsan | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2013 Kondisi jalan di wilayah hulu Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menjadi sorotan. Akses utama yang menghubungkan sejumlah kecamatan, khususnya ruas Jalan Poros Kota Bangun\u2013Muara Muntai hingga Muara Wis, kini mengalami kerusakan parah dan menghambat mobilitas masyarakat. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar menegaskan perlunya penanganan segera dari pemerintah daerah agar akses transportasi yang &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":137310,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,8920],"tags":[12057],"class_list":["post-137309","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kutai-kartanegara","tag-taufik-ridiannur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137309","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=137309"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137309\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":137311,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137309\/revisions\/137311"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/137310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=137309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=137309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=137309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}