{"id":137362,"date":"2025-09-18T14:46:20","date_gmt":"2025-09-18T06:46:20","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=137362"},"modified":"2025-09-18T14:46:20","modified_gmt":"2025-09-18T06:46:20","slug":"samarinda-optimalkan-pad-lewat-teknologi-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/samarinda-optimalkan-pad-lewat-teknologi-modern\/","title":{"rendered":"Samarinda Optimalkan PAD Lewat Teknologi Modern"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"379\" data-end=\"774\"><strong data-start=\"379\" data-end=\"392\">SAMARINDA<\/strong>\u00a0\u2013 Digitalisasi sistem penerimaan daerah dinilai menjadi langkah strategis untuk mendorong transparansi sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda. Penerapan teknologi modern, termasuk melalui penggunaan barcode pada reklame, dianggap sebagai salah satu inovasi yang perlu segera diterapkan agar potensi penerimaan daerah dapat termaksimalkan secara optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"776\" data-end=\"1127\">Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menegaskan bahwa transformasi digital dalam sistem penerimaan daerah menjadi kunci penting untuk memastikan akuntabilitas dan efisiensi. \u201cBagaimana kita mendigitalisasi penerimaan-penerimaan daerah itu bukan manual lagi,\u201d ujar Iswandi saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Rabu (17\/09\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1129\" data-end=\"1422\">Iswandi menambahkan, sistem manual yang selama ini diterapkan masih sangat rawan terhadap berbagai bentuk penyimpangan. Mekanisme pemungutan langsung di lapangan yang masih mengandalkan interaksi manual dianggap rentan disalahgunakan oleh oknum. \u201cKalau manual ini kan masih rawan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1424\" data-end=\"1716\">Ia mencontohkan, tidak jarang muncul dugaan praktik yang tidak sesuai aturan, seperti pemungut yang tidak menyetorkan hasil penerimaan sesuai ketentuan atau adanya kerja sama yang tidak sehat. \u201cKita enggak tahu nanti tukang pungut, enggak setor atau bagaimana, ada kongkalikong,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1718\" data-end=\"2043\">Karena itu, DPRD mendorong penerapan sistem digital yang dapat menghilangkan celah terjadinya penyimpangan. Dengan sistem ini, setiap pembayaran akan masuk langsung ke kas daerah tanpa melalui perantara, sehingga lebih transparan dan akuntabel. \u201cKita mau semua nanti mudah-mudahan bisa terdigitalisasi semua,\u201d kata Iswandi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2045\" data-end=\"2361\">Menurutnya, digitalisasi akan membuat proses pembayaran lebih efisien dan dapat dipantau secara real time oleh pemerintah maupun masyarakat. Dengan demikian, potensi kecurangan atau penyelewengan dana dapat diminimalkan. \u201cJadi begitu bayar langsung masuk, bayar langsung masuk, tidak ada lagi perantara,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2363\" data-end=\"2795\">Selain itu, Iswandi menilai digitalisasi akan mengurangi potensi prasangka negatif atau tuduhan miring terhadap petugas pemungut di lapangan. Semua alur pembayaran akan tercatat secara otomatis dan akuntabel, sehingga tidak ada lagi dugaan kongkalikong atau praktik tidak sehat. \u201cJadi tidak ada lagi syak wasangka maupun fitnah terhadap para pemungut yang katanya kongkalikong atau bagaimana, kita kita mengarah ke sana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2797\" data-end=\"3181\">Penerapan barcode pada reklame menjadi salah satu inovasi penting yang akan segera diterapkan. Iswandi menyebut reklame sebagai salah satu sektor potensial yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap PAD jika dikelola dengan benar. Dengan sistem barcode, pembayaran pajak reklame dapat direkam secara digital, memudahkan pemantauan, serta memastikan kepatuhan pelaku usaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3183\" data-end=\"3514\">Langkah digitalisasi ini juga dianggap sebagai bagian dari upaya modernisasi tata kelola pemerintahan Kota Samarinda. Dengan penerapan teknologi, pemerintah daerah dapat memperkuat mekanisme pengawasan, meminimalkan risiko kebocoran pendapatan, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pengelolaan keuangan daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3516\" data-end=\"3854\">Iswandi berharap, dengan digitalisasi penerimaan daerah melalui barcode reklame, PAD Kota Samarinda dapat meningkat secara signifikan. Kenaikan PAD diharapkan dapat mendukung berbagai program pembangunan yang manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat, mulai dari infrastruktur, pelayanan publik, hingga program kesejahteraan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3856\" data-end=\"4093\">\u201cDigitalisasi ini bukan sekadar inovasi teknis, tetapi juga langkah strategis untuk memastikan penerimaan daerah optimal, transparan, dan akuntabel, sehingga manfaat pembangunan dapat benar-benar dirasakan masyarakat,\u201d pungkas Iswandi. []\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis:\u00a0 Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA\u00a0\u2013 Digitalisasi sistem penerimaan daerah dinilai menjadi langkah strategis untuk mendorong transparansi sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda. Penerapan teknologi modern, termasuk melalui penggunaan barcode pada reklame, dianggap sebagai salah satu inovasi yang perlu segera diterapkan agar potensi penerimaan daerah dapat termaksimalkan secara optimal. Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menegaskan bahwa &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":137519,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[1572],"class_list":["post-137362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-iswandi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=137362"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137362\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":137520,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137362\/revisions\/137520"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/137519"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=137362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=137362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=137362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}