{"id":137774,"date":"2025-09-18T16:56:33","date_gmt":"2025-09-18T08:56:33","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=137774"},"modified":"2025-09-20T16:59:45","modified_gmt":"2025-09-20T08:59:45","slug":"dprd-soroti-anak-samarinda-terbiasa-ucapkan-kata-kotor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dprd-soroti-anak-samarinda-terbiasa-ucapkan-kata-kotor\/","title":{"rendered":"DPRD Soroti Anak Samarinda Terbiasa Ucapkan Kata Kotor"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"319\" data-end=\"645\"><strong data-start=\"319\" data-end=\"332\">SAMARINDA<\/strong> \u2013 Fenomena anak-anak yang kerap melontarkan kata-kata kotor menjadi sorotan serius Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti. Ia menilai kebiasaan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan cerminan dari perilaku orang dewasa yang menjadi contoh utama bagi anak-anak di rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"647\" data-end=\"836\">\u201cSebenarnya kenapa anak-anak berkata kotor, anak-anaknya melihat orang yang dewasa biasanya dari rumah,\u201d ujar Sri Puji Astuti saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Rabu (17\/09\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"838\" data-end=\"1086\">Menurut Sri Puji, upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan ini sebenarnya telah dilakukan, salah satunya melalui lembaga terkait yang mengawasi penyiaran dan perlindungan anak, termasuk keberadaan Komisi Perlindungan Penyiaran Indonesia (KPAI). \u201cLalu pemerintah dalam hal ini mikir, kita sudah ada Komisi Perlindungan penyiaran KPAI,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1192\" data-end=\"1390\">Meski begitu, ia menilai langkah tersebut belum sepenuhnya efektif. Konten yang tidak sesuai untuk anak-anak masih marak ditayangkan di berbagai media, mulai dari televisi hingga platform digital. \u201cTernyata nggak berhasil itu karena sinetron, coba lihat tayangan-tayangan di sinetron, di Instagram, TikTok itu yang tidak terfilter dengan baik,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1553\" data-end=\"1832\">Sri Puji menekankan bahwa tugas pemerintah bukan hanya menghadirkan lembaga pengawas, tetapi juga memastikan adanya filterisasi yang benar-benar mampu melindungi anak dari konten negatif. Namun, ia mengakui perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan tersendiri. \u201cDan tugas pemerintah itu memfilter itu, tapi perkembangan globalisasi, perkembangan digital ini kan juga tidak bisa kita hambat juga,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1982\" data-end=\"2194\">Menurutnya, tanggung jawab membentengi anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Peran masyarakat, terutama orang tua, sangat penting dalam mendampingi anak-anak agar bijak menggunakan teknologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2196\" data-end=\"2363\">\u201cIni yang saya lihat banyak kita sendiri, masyarakat Samarinda atau masyarakat Indonesia itu tidak bijaksana menyikapi perkembangan teknologi yang pesat,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2365\" data-end=\"2583\">Sri Puji menegaskan, keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Pola asuh yang tepat disertai teladan nyata dari orang tua akan jauh lebih efektif dibandingkan sekadar larangan atau pengawasan. \u201cItulah tugas dari orang tua, bagaimana kita memberikan dasar-dasar kepada anak-anak kita,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2690\" data-end=\"2898\">Ia menambahkan, teladan dari lingkungan sekitar juga tidak kalah penting. Guru, tokoh masyarakat, maupun pemerintah kota harus mampu menghadirkan contoh yang baik agar anak-anak tidak meniru perilaku buruk. \u201cPaling-paling bagus itu adalah memberi contoh, entah itu contoh dari orang dewasa, dari gurunya, dari pemerintah kota,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Fenomena anak-anak yang kerap melontarkan kata-kata kotor menjadi sorotan serius Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti. Ia menilai kebiasaan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan cerminan dari perilaku orang dewasa yang menjadi contoh utama bagi anak-anak di rumah. \u201cSebenarnya kenapa anak-anak berkata kotor, anak-anaknya &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":137775,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[8356],"class_list":["post-137774","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-sri-puji-astuti"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=137774"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137774\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":137981,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137774\/revisions\/137981"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/137775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=137774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=137774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=137774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}