{"id":13792,"date":"2015-10-28T15:06:39","date_gmt":"2015-10-28T07:06:39","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.com\/?p=13792"},"modified":"2015-10-28T15:06:39","modified_gmt":"2015-10-28T07:06:39","slug":"asap-ganggu-pilkada-ketua-balakarcana-turunkan-personel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/asap-ganggu-pilkada-ketua-balakarcana-turunkan-personel\/","title":{"rendered":"Asap Ganggu Pilkada, Ketua Balakarcana Turunkan Personel"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_13793\" aria-describedby=\"caption-attachment-13793\" style=\"width: 272px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/asap-ganggu-pilkada-serentak.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-13793 size-medium\" src=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/asap-ganggu-pilkada-serentak-272x300.jpg\" alt=\"asap-ganggu-pilkada-serentak\" width=\"272\" height=\"300\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-13793\" class=\"wp-caption-text\">Nanang Sulaiman<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAMARINDA<\/strong> &#8211; Pelan-pelan kepekatan asap di Samarinda mulai berkurang. Ini merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memantau tingkat kepekatan asap masuk di level baik. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Temindung Samarinda Sutrisno\u00a0 menyebut, kepekatan asap berada di angka 15,61 ug\/m3 dan tertinggi 80,57 ug\/m3. Pengukuran itu didapat dari jumlah partikel padat dan cair di udara dengan <em>particulate matter<\/em> (PM) 10. \u201cHari ini (kemarin) jauh menurun ketimbang sepekan lalu, kepekatan asap mencapai 226,40 ug\/m3,\u201d katanya, Selasa (27\/10).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia menjelaskan, bila kadar polutan 0\u201350 ug\/m3 maka tergolong baik. Sedangkan 51\u2013150 ug\/m3 kualitas udara terbilang sedang. Kata dia, saat konsentrasi asap berkurang maka peluang untuk hujan bisa meningkat. \u201cDi Samarinda sudah dua kali turun hujan beberapa hari terakhir,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, hujan yang turun masih bersifat lokal dan dalam skala kecil. Hal tersebut bukan merupakan tanda musim hujan tiba. Sutrisno menjelaskan, BMKG tetap memperkirakan penghujan akan tiba awal November. Walaupun beberapa hari ke depan masih berpeluang turun hujan. Beberapa hari terakhir hujan tak hanya terjadi di Kota Tepian. Daerah pesisir seperti Samboja, Muara Jawa, Sangasanga hingga Palaran juga sempat diguyur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pria berkacamata ini mengatakan iklim kemarau di Kaltim termasuk kemarau basah. Artinya rentang hari tanpa hujan termasuk pendek dari kawasan lain di Indonesia. Soal titik panas pun juga jauh berkurang. \u201cCitra satelit pada pukul 05.00 Wita menangkap ada delapan titik panas di Kaltim. Sedangkan hasil pantauan sore hari terlihat 29 titik panas,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia memerinci, masing-masing titik panas tersebar di Kutai Barat (Kubar) 1 titik, Kutai Kartanegara (Kukar) 11 titik, Kutai Timur (Kutim) 11 titik, Mahakam Ulu 4 titik, dan Paser 2 titik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>TURUNKAN PERSONEL<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Barisan Relawan Kebakaran dan Bencana (Balakarcana) Samarinda Nanang Sulaiman mengatakan, semua lini saat ini sudah diturunkan oleh pemerintah pusat untuk memadamkan kebakaran lahan di Indonesia. Sayang, kata dia, upaya tersebut masih belum maksimal. Sebab asap masih tebal di beberapa daerah. \u201cMenurunkan TNI dalam memadamkan sudah sangat bagus. Tinggal dimaksimalkan lagi dengan menambah lebih banyak petugas,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Makanya, kata dia, pihaknya siap untuk diterjunkan dan disebar ke kawasan-kawasan kebakaran lahan di Kaltim. Sejauh ini, pihaknya masih membantu kebakaran lahan di sejumlah titik di Samarinda. \u201cKhusus di Samarinda, kita pasti turun memang kalau ada musibah kebakaran rumah dan lahan,\u201d kata Nanang. Kalau untuk keluar Kota Tepian, pihaknya masih menunggu. Karena memang dalam koordinasinya pasti akan melibatkan instansi yang lebih tinggi, yakni pemerintah daerah. \u201cKalau memang pemprov meminta kita dan difasilitasi untuk ikut memadamkan kebakaran lahan di luar Samarinda, kami siap,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata dia, Balakarcana Samarinda punya sumber daya yang mumpuni dalam penanganan kebakaran. Yakni, ada 45 unit pasukan yang tersebar di semua kelurahan di Samarinda. Tiap unit berisi 20 hingga 50 orang. Total di Samarinda ada 500 orang. Selain personel yang berjumlah ratusan, pihaknya juga sudah memiliki empat mobil tangki dengan kapasitas masing-masing lima ribu liter. Juga ada 50 unit pompa air portabel yang diangkut dengan becak dan kendaraan. \u201cJuga ada satu kendaraan untuk penerangan yang membantu dalam proses pemadaman kebakaran kalau terjadi malam hari,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini, tujuh unit pasukannya sudah diminta bantuan oleh salah satu lembaga swadaya masyarakat di Kutai Barat (Kubar) untuk proses pemadaman kebakaran lahan di kabupaten itu. Aktivitas pasukannya di Kubar itu difasilitasi lembaga swadaya masyarakat yang meminta tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>GANGGU PILKADA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara nasional, imbas kabut asap sudah semakin ke mana-mana. Teranyar, ancaman gangguan asap saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di Tanah Air. Kondisi ini dibeber Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz. Setidaknya terdapat 48 kabupaten\/kota di lima provinsi yang terkena dampak asap kebakaran dan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pilkada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDaerah tersebut adalah di Kalimantan Tengah 14 daerah, Sumatra Selatan 7 daerah, Riau 9 daerah, Kalimantan Barat 7 daerah, dan Jambi 11 daerah,\u201d ujar Masykurudin, Selasa (27\/10). Kata dia, \u200edampak kabut asap paling tidak berpengaruh terhadap rekrutmen dan bimbingan teknis penyelenggara, proses kampanye pasangan calon, pemasangan alat peraga di tempat-tempat umum dan distribusi logistik pilkada. Padahal, \u200ebimbingan teknis merupakan sarana memastikan kemampuan petugas dalam melaksanakan pilkada. Namun, akibat kabut asap, Masykurudin khawatir dilaksanakan \u200edengan penuh hambatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPelatihan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam pemungutan dan penghitungan suara terancam tidak diikuti oleh seluruh peserta yang seharusnya terlibat,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikian juga kesempatan masa kampanye dengan tatap muka antara pasangan calon dengan masyarakat pemilih, menurut Masykurudin jelas sangat berkurang. Apalagi untuk menyampaikan visi, misi, dan program dengan membangun komunikasi intensif, membutuhkan perbincangan tanpa masker yang nyata-nyata menghalangi pembicaraan dua arah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemasangan alat peraga kampanye di tempat-tempat umum juga jadi perhatiannya. Kata dia, jarak pandang yang terbatas menghalangi pemilih untuk dapat melihat pesan-pesan pilkada dalam spanduk dan baliho yang juga dibiayai dari pajak yang mereka bayar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApabila bencana asap dari kebakaran tidak segera tertangani, bukan tidak mungkin dapat membatalkan pilkada. Bila logistik tidak sampai ke tempat pemungutan suara (TPS) karena distribusi mengalami kendala, maka pemilih akan gagal menggunakan hak suaranya. Mudah-mudahan tidak,\u201d ujar Masykurudin. <strong>[] KP<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA &#8211; Pelan-pelan kepekatan asap di Samarinda mulai berkurang. Ini merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memantau tingkat kepekatan asap masuk di level baik. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Temindung Samarinda Sutrisno\u00a0 menyebut, kepekatan asap berada di angka 15,61 ug\/m3 dan tertinggi 80,57 ug\/m3. Pengukuran itu didapat dari jumlah partikel padat dan cair &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13793,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[1608,1678,1541],"class_list":["post-13792","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-asap","tag-nanang-sulaiman","tag-pilkada"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13792","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13792"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13792\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}