{"id":138508,"date":"2025-09-23T11:56:51","date_gmt":"2025-09-23T03:56:51","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=138508"},"modified":"2025-09-23T11:56:51","modified_gmt":"2025-09-23T03:56:51","slug":"air-mata-bahagia-warnai-peluncuran-sekolah-rakyat-di-banjarbaru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/air-mata-bahagia-warnai-peluncuran-sekolah-rakyat-di-banjarbaru\/","title":{"rendered":"Air Mata Bahagia Warnai Peluncuran Sekolah Rakyat di Banjarbaru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BANJARBARU<\/strong> \u2013 Senyum malu-malu Anggun Aprilyani (15) pada Senin (22\/9\/2025) seolah menjadi simbol harapan baru bagi anak-anak dari keluarga sederhana di Kalimantan Selatan. Ia berdiri di samping ayahnya, Sunarko Thamrin, seorang buruh harian lepas dari Desa Talaga, Kabupaten Tanah Laut, yang selama ini berjuang dengan penghasilan tidak sampai Rp1 juta per bulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak ditinggal ibunya yang meninggal dunia, cita-cita Anggun untuk melanjutkan pendidikan nyaris sirna. Namun melalui program Sekolah Rakyat, ia kembali berpeluang mengejar mimpi. \u201cSaya ingin anak saya bisa sekolah, bisa nerusin sekolahnya yang terhenti,\u201d ucap Sunarko dengan suara bergetar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang hadir langsung dalam kegiatan Dialog Calon Siswa Sekolah Rakyat tahap 1C di Banjarbaru menegaskan bahwa inilah semangat program tersebut. \u201cInilah semangat Sekolah Rakyat. Anak-anak dari keluarga sederhana, yang ditinggal ibunya dan hanya hidup bersama ayah yang bekerja seadanya, tetap punya hak untuk sekolah dan masa depan yang lebih baik,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain Anggun, perhatian juga tertuju pada Muhammad Aditya (10), bocah dari Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, yang sempat putus sekolah setelah orang tuanya berpisah. Pendamping PKH, Sertiana, yang menemukan Aditya, memastikan ia lolos administrasi dan bisa kembali bersekolah. \u201cSaya melihat ada anak tidak sekolah saat bertugas di desa. Setelah kami koordinasikan dan pastikan datanya ada di DTSEN, Aditya lolos administrasi dan bisa masuk Sekolah Rakyat,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tangis bahagia pun tak terbendung dari ibunya, Sri Rahmawati. \u201cTerima kasih banyak. Anak saya sekarang bisa sekolah lagi. Kami merasa terjamin, tidak diragukan lagi. Alhamdulillah, ada Sekolah Rakyat yang peduli,\u201d ujarnya penuh haru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para guru yang ditugaskan pun menunjukkan antusiasme serupa. Husnul Khatimah, pengajar asal Tulungagung, mengaku motivasinya adalah ingin memberi dampak nyata. \u201cMotivasi saya bergabung di Sekolah Rakyat adalah ingin berdampak, bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk generasi muda Indonesia,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekolah Rakyat tahap 1C ini berlokasi di Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Kalimantan Selatan, dengan 70 calon siswa yang akan segera memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada 29 September mendatang. Gus Ipul menegaskan, program ini merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan dan mengentaskan kemiskinan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harapan baru kini terbit bagi Anggun, Aditya, dan ribuan anak lainnya di Indonesia. Bagi mereka, Sekolah Rakyat bukan hanya ruang belajar, tetapi juga pintu masa depan. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJARBARU \u2013 Senyum malu-malu Anggun Aprilyani (15) pada Senin (22\/9\/2025) seolah menjadi simbol harapan baru bagi anak-anak dari keluarga sederhana di Kalimantan Selatan. Ia berdiri di samping ayahnya, Sunarko Thamrin, seorang buruh harian lepas dari Desa Talaga, Kabupaten Tanah Laut, yang selama ini berjuang dengan penghasilan tidak sampai Rp1 juta per bulan. Sejak ditinggal ibunya &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":138509,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2279,17,2276],"tags":[],"class_list":["post-138508","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-banjarbaru-provinsi-kalimantan-selatan","category-headlines","category-kalimantan-selatan-kalsel"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=138508"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138508\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":138510,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138508\/revisions\/138510"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/138509"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=138508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=138508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=138508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}