{"id":138553,"date":"2025-09-23T14:35:43","date_gmt":"2025-09-23T06:35:43","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=138553"},"modified":"2025-09-23T14:35:43","modified_gmt":"2025-09-23T06:35:43","slug":"organisasi-pelajar-minta-dialog-sebelum-pemkab-terapkan-jam-malam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/organisasi-pelajar-minta-dialog-sebelum-pemkab-terapkan-jam-malam\/","title":{"rendered":"Organisasi Pelajar Minta Dialog Sebelum Pemkab Terapkan Jam Malam"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PASER <\/strong>\u2013 Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser untuk memberlakukan kebijakan jam malam bagi pelajar menuai beragam tanggapan dari kalangan organisasi pelajar di daerah setempat. Wacana ini muncul sebagai langkah preventif pemerintah dalam menekan angka kenakalan remaja yang belakangan dinilai semakin marak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Paser, Maulana, menyampaikan keberatan terhadap rencana tersebut. Menurutnya, perilaku negatif yang dilakukan sekelompok remaja tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menerapkan aturan yang berlaku menyeluruh. Ia menilai kondisi masyarakat sangat plural sehingga kebijakan harus mempertimbangkan keragaman situasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPerlu dikecualikan jikalau mereka melakukan kegiatan hal-hal positif dengan membuat regulasi yang jelas. Meski kebijakan ini didasari dengan niat baik sebagai upaya preventif, namun harus ada tinjauan yang lebih mendalam,\u201d kata Maulana, Senin (22\/9\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, pembatasan jam malam berisiko menjadi instrumen represif jika pendekatannya sebatas larangan. Bagi Maulana, langkah yang lebih tepat adalah membangun kesadaran melalui pendidikan dan dialog kultural.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPelajar seharusnya tidak hanya diajari untuk patuh, tetapi juga diajak memahami mengapa aturan itu penting. Itulah esensi dari pendidikan sejati,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Paser, Nurul Sri Wahyuni, menilai kebijakan jam malam bisa memberi dampak positif sepanjang tetap dijalankan dengan prinsip keseimbangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, komunikasi yang baik antara pelajar, orang tua, dan pihak sekolah sangat penting agar tujuan kebijakan tidak mengekang kebebasan, tetapi justru membantu tumbuh kembang sosial dan emosional pelajar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKebijakan ini memerlukan komunikasi yang baik antara pelajar, orang tua, dan pihak sekolah untuk mencapai keputusan yang bijak sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pendidikan,\u201d kata Nurul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, dengan adanya aturan pembatasan, peran orang tua dalam mendampingi anak juga semakin dikuatkan. Bahkan, pengawasan pemerintah terhadap aktivitas remaja di malam hari dinilai bisa memberi jaminan keamanan lebih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSecara tidak langsung remaja juga diajarkan untuk menghargai waktu dan menetapkan prioritas dalam hidup serta lebih bertanggung jawab terhadap waktu mereka,\u201d pungkasnya. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PASER \u2013 Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser untuk memberlakukan kebijakan jam malam bagi pelajar menuai beragam tanggapan dari kalangan organisasi pelajar di daerah setempat. Wacana ini muncul sebagai langkah preventif pemerintah dalam menekan angka kenakalan remaja yang belakangan dinilai semakin marak. Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Paser, Maulana, menyampaikan keberatan terhadap rencana tersebut. Menurutnya, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":138556,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,477],"tags":[],"class_list":["post-138553","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-paser"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138553","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=138553"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138553\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":138557,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138553\/revisions\/138557"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/138556"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=138553"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=138553"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=138553"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}