{"id":139473,"date":"2025-09-27T09:06:30","date_gmt":"2025-09-27T01:06:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=139473"},"modified":"2025-09-27T09:06:30","modified_gmt":"2025-09-27T01:06:30","slug":"cegah-keracunan-menu-mbg-harus-dicicipi-kepala-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/cegah-keracunan-menu-mbg-harus-dicicipi-kepala-sekolah\/","title":{"rendered":"Cegah Keracunan, Menu MBG Harus Dicicipi Kepala Sekolah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"326\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"13\">JAKARTA &#8211;<\/strong> Program makan bergizi gratis (MBG) bagi siswa sekolah kembali menjadi sorotan setelah Ahli Gizi Prof Hardinsyah menegaskan pentingnya uji kelayakan menu sebelum disajikan kepada murid. Menurutnya, langkah sederhana ini merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dipatuhi pihak sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"328\" data-end=\"756\">Dalam konferensi pers di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) Jakarta pada Jumat (26\/09\/2025), Prof Hardinsyah menyampaikan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang dibagikan aman dikonsumsi. \u201cKepala sekolah harus mencoba terlebih dahulu, membuka, melihat dari mata kepala, apakah makanan tampak tidak biasa, dari kesegaran, dari warna, apalagi dicium aroma basi, ya, jangan dicoba lagi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"758\" data-end=\"1037\">Ia menambahkan, SOP tersebut harus dijalankan tanpa pengecualian, meski sebagian kepala sekolah menganggapnya sebagai beban. \u201cKepala sekolah tidak boleh ngerasa sebagai kelinci percobaan, saya dengar tuh ada kepala sekolah yang menolak untuk mencoba duluan. Itu SOP!\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1039\" data-end=\"1330\">Selain kepala sekolah, ia juga mendorong keterlibatan guru dalam pengawasan. Guru diharapkan ikut memahami tanda-tanda awal makanan yang tidak layak konsumsi, mulai dari aroma, warna, hingga potensi menimbulkan mual. Dengan demikian, keamanan pangan di sekolah dapat terjaga lebih optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1332\" data-end=\"1649\">Prof Hardinsyah menekankan bahwa peran aktif kepala sekolah bukan hanya soal formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap kesehatan anak didik. \u201cKami berharap ada tanggung jawab kepala sekolah. Mereka harus berkenan untuk mencoba (menu MBG) dulu sebelum dibagikan (ke murid-murid di sekolah,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1651\" data-end=\"1935\">Program MBG sendiri diinisiasi pemerintah untuk mendukung gizi seimbang bagi siswa, sekaligus mencegah kasus kekurangan gizi yang dapat memengaruhi prestasi belajar. Namun, tanpa pengawasan yang ketat, tujuan mulia tersebut bisa terhambat jika kualitas makanan tidak sesuai standar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1937\" data-end=\"2307\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Melalui arahan ini, Badan Gizi Nasional berupaya memastikan bahwa setiap menu yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi. Peran kepala sekolah dan guru di lapangan dinilai sangat krusial agar program MBG benar-benar memberi manfaat nyata, sekaligus menepis kekhawatiran orang tua terkait kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka di sekolah.[]\n<p data-start=\"1937\" data-end=\"2307\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Program makan bergizi gratis (MBG) bagi siswa sekolah kembali menjadi sorotan setelah Ahli Gizi Prof Hardinsyah menegaskan pentingnya uji kelayakan menu sebelum disajikan kepada murid. Menurutnya, langkah sederhana ini merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dipatuhi pihak sekolah. Dalam konferensi pers di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) Jakarta pada Jumat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":139484,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,35],"tags":[9319,9318],"class_list":["post-139473","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-nasional","tag-mbg","tag-program-mbg"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139473","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=139473"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139473\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":139487,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139473\/revisions\/139487"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/139484"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=139473"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=139473"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=139473"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}